JATENG.NET, Adiluhur — Siapa sangka hanya dengan modal sebesar Rp 50.000 dan galon bekas yang berserakan di rumah, warga bisa panen lele sekaligus sayuran organik. Hal ini seperti yang dirasakan oleh warga desa Adiluhur. Ini bukan angan, tapi kenyataan yang kini dirasakan warga desa Adiluhur setelah mengikuti sosialisasi akuaponik oleh mahasiswa KKN UNS pada tanggal 29 Januari lalu.
Bu Anita, salah satu peserta sosialisasi, tidak pernah menyangka galon bekas di rumahnya bisa jadi ‘mesin’ penghasil makanan.
“Saya baru tahu kalau galon bekas di rumah bisa dibuat seperti ini. Nanti mau coba bikin sendiri karena ada banyak (galon) yang nganggur,” ujarnya dengan antusias.
Tim KKN menggelar sosialisasi sistem akuaponik dengan harapan agar warga Desa Adiluhur bisa mandiri dari segi pangan. Dengan sistem ini, setiap rumah tangga akan mendapat tambahan protein harian untuk keluarga mereka.
Tercatat ada sebanyak 13 anak mengalami stunting di Desa Adiluhur. Hal ini menjadi angka yang terbilang besar untuk sebuah desa. Mahasiswa KKN UNS berharap dengan adanya sumber protein tambahan dari ikan lele dan sayuran segar dapat menekan angka ini.
Masyarakat di Desa Adiluhur sangat antusias dengan acara ini. Hal ini dibuktikan dengan kedatangan 50 warga yang meramaikan rumah Bu Susi. Acara ini dibagi menjadi dua sesi, yang pertama adalah pemaparan materi dan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan akuaponik sederhana.

Saat sesi demonstrasi dimulai, antusiasme makin meningkat. Tim KKN menunjukkan langkah demi langkah menggunakan galon Le Minerale bekas—mulai dari melubangi tutup galon, mengisi air yang sudah diendapkan, menebar bibit lele, hingga menanam kangkung dan bayam.

Beberapa warga maju ke depan untuk dapat melihat dengan jelas hasil akuaponik yang telah disediakan oleh mahasiswa KKN UNS.
Manfaat ekonomis dari sistem akuaponik ini sangat nyata. Warga bisa menghemat belanja bulanan hingga Rp 100.000 karena tidak perlu lagi membeli ikan dan sayur
“Uangnya dapat dialokasikan ke kebutuhan yang lain seperti biaya sekolah anak dan biaya sehari hari,” jelas Abigail, koordinator tim KKN yang membawakan materi.
Tidak hanya menghemat, sistem ini juga ramah lingkungan karena hemat air hingga 90 persen dibanding bertani konvensional.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa yang menyediakan tempat dan menggerakkan warga untuk dapat hadir. Koperasi Merah Putih juga turut hadir di acara ini yang menunjukkan antusiasme dari lembaga desa.
Sosialisasi akuaponik di Desa Adiluhur menjadi langkah awal untuk meningkatkan ketahanan pangan warga sekaligus menekan angka stunting. Dengan antusiasme warga dan dukungan beberapa pihak, sistem ini diharapkan segera diterapkan di rumah-rumah warga Desa Adiluhur.
