Inovatif! Mahasiswa UNS Ubah Limbah Jantung Pisang Jadi Camilan Viral Kaya Gizi

Tim melakukan sosialisasi mengenai produk Banana Bloom Chips sekaligus membagikan informasi mengenai langkah langkah produksi (Dok. pribadi)

JATENG.NET, Solo – Lima mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tergabung dalam program Wirausaha Mahasiswa (Wibawa) sukses menarik perhatian publik melalui inovasi pangan unik. Mereka memperkenalkan “Banana Bloom Chips,” keripik renyah dan gurih yang berbahan dasar jantung pisang. Inovasi yang menggabungkan berbagai latar belakang keilmuan ini disosialisasikan dalam sebuah sosialisi dan penyuluhan “Optimalisasi Pemanfaatan Jantung Pisang untuk Ketahanan Pangan Keluarga dan UMKM” yang berlangsung interaktif dan penuh antusiasme.

Edukasi Pemanfaatan Limbah di Pekarangan

Kegiatan sosialisasi ini bertujuan mengedukasi masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga dan bapak bapak yang bingung mengenai potensi besar jantung pisang yang selama ini sering terbuang atau hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Tim Banana Bloom Chips yang diketuai oleh Aldianna Damayanti (PKN) dan beranggotakan Noris Mahatma Andrias (Pendidikan Akuntansi), Eva Nor Rahmawati (Pertanian), Alika Pinky Salsabila (PKN), dan Muh. Rifky Apriansyah (Hubungan Internasional). Tim tersebut membawa misi ganda, yaitu mengurangi limbah pertanian dan menyediakan alternatif camilan sehat bernutrisi tinggi.

“Banyak yang tidak tahu, jantung pisang di pekarangan itu bukan sekadar limbah. Ia adalah bahan baku yang kaya protein, kalsium, dan fosfor, serta nol kolesterol. Kami ingin ibu-ibu di rumah bisa memanfaatkannya secara optimal,” ujar Aldianna.

Sosialisasi ini disambut hangat, bahkan menarik minat bapak-bapak yang hadir. Sesi tanya jawab menjadi sangat interaktif, dan tentunya respon dari bapak bapak yang sangat seru dan menyenangkan. Beberapa peserta secara spesifik bertanya tentang detail teknis pembuatan, mereka penasaran dengan proses pengolahan jantung pisang, yang dikenal memiliki rasa sepat, menjadi keripik yang kriuk dan lezat seperti Banana Bloom Chips.

Dari Rasa Sepat ke Keripik Lezat

Tim melakukan membagikan produk Banana Bloom Chips dan Peserta sosialisasi memberikan feedback (Dok. pribadi)

Tim menjelaskan, kunci pengolahan terletak pada teknik pembersihan dan perebusan inovatif untuk menghilangkan getah dan rasa sepat secara tuntas. Setelah itu, jantung pisang diiris tipis, diberi bumbu rahasia, dan digoreng hingga mencapai tekstur renyah sempurna.

“Kami menyajikan tiga varian rasa: Original, Barbeque, dan Pedas. Ini membuktikan bahwa produk sehat tidak harus hambar. Kami merancang keripik ini agar menjadi cemilan yang disukai semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa,” tambah Noris Mahatma Andrias sebagai anggota tim.

Beberapa peserta, Pak Yanto dan Supriyanto memberikan feedback setelah mencicipi produk tersebut,

“Ternyata setelah saya cicipi, produk ini tidak terasa seperti bunga jantung pisang. Kemudian, bunga jantung pisangnya agak lebih besar poyongannya agar lebih keliatan tidak seperti jamur kecil-kecil. Saya kira bakal sepat tapi rasanya renyah, bentuknya kalo dari jauh seperti keripik usus, enak” ujarnya.

“Sebaiknya baby pisang dibuat utuh agar tidak hancur beberapa, bagus karena sudah ada NIB. Maka lebih baik dilanjutkan dengan sertifikasi halal” Ujar Bu haryanti selaku anggota UMKM Panggungrejo.

Kemudian, tim menekankan bahwa inovasi ini dapat menjadi inspirasi wirausaha baru di tingkat rumahan. “Konsepnya sederhana. Jantung pisang melimpah. Jika ibu-ibu yang ada dirumah mampu mengolahnya menjadi keripik, ini bukan hanya menambah variasi cemilan, tapi juga meningkatkan pendapatan keluarga dan mengurangi sampah organik,” jelas Eva dan Alika, anggota tim.

Kehadiran Banana Bloom Chips bukan sekadar produk baru di pasaran, melainkan cerminan dari solusi berkelanjutan (sustainable solution). Produk ini menjawab tantangan masyarakat modern yang mencari camilan praktis, memanfaatkan bunga jantung pisang yang jarang dilirik masyarakat.

Melalui sosialisai ini, tim Banana Bloom Chips UNS berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya kreativitas dalam mengelola sumber daya alam. Mereka mengajak komunitas untuk tidak memandang limbah sebagai akhir, melainkan sebagai awal dari peluang ekonomi dan pangan yang lebih sehat.