JATENG.NET, BATANG — Usaha peternakan di pedesaan, termasuk di Dusun Sibelis, menghadapi berbagai tantangan signifikan, terutama dalam hal keterbatasan modal. Banyak peternak yang masih mengandalkan modal kecil dan pinjaman dari berbagai sumber untuk memenuhi kebutuhan usaha seperti pembuatan kandang dan pembelian pakan ternak.
Kondisi ini menyebabkan peternak terjebak dalam siklus hutang yang sering disebut “gali lobang tutup lobang,” di mana hutang lama harus dilunasi dengan hutang baru, sehingga beban ekonomi menjadi semakin berat. Inilah yang mendorong Vegananda Restu Barunawati, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Program Studi Administrasi Publik Universitas Diponegoro (Undip), untuk terjun langsung melalui program KKN-T IDBU Tim 50 di Dusun Sibelis, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang.

Sebagai bagian dari Kelompok 4 Tim 50 KKN-T IDBU Undip, Vega menjalankan program kerja Edukasi Pemanfaatan BUMDes Untuk Penguatan Ekonomi Usaha Peternakan di Dusun Sibelis. Fokus kegiatan diberikan kepada peternak lokal di dusun tersebut, seperti peternak kambing, sapi, dan khususnya peternak ayam petelur yang menjadi identitas ekonomi masyarakat Dusun Sibelis.
Berdasarkan survei yang sebelumnya dilakukan, Kepala Dusun Sibelis, Pak Kumaidi mengatakan bahwa fungsi BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) memang belum berfungsi secara optimal atau belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat sehingga mereka lebih memilih melakukan pinjaman berulang yang justru membebani pengelolaan usaha peternakan.
Oleh karena itu, melalui edukasi ini, Vega mengenalkan bagaimana BUMDes bisa menjadi solusi pembiayaan usaha yang lebih mudah dan terjangkau, serta menyediakan pelatihan agar usaha menjadi lebih produktif dan berkelanjutan.
Pendekatan edukasi dilakukan secara door to door dengan mengunjungi langsung rumah atau kandang para peternak agar lebih komunikatif dan tepat sasaran, berdiskusi tentang masalah yang dihadapi, dan memberikan materi praktik mengelola keuangan serta pemanfaatan fasilitas BUMDes. Selain itu, mahasiswa juga mengajak peternak untuk aktif berpartisipasi dalam program BUMDes agar akses modal dan pendampingan teknis semakin terbuka.
Pada salah satu kunjungan ke rumah salah satu peternak, Vega berdialog dengan Pak Hasan, seorang peternak kambing yang sudah puluhan tahun berusaha di Dusun Sibelis. “Pak Hasan, bagaimana selama ini Bapak mendapatkan modal untuk usaha peternakan? Apakah pernah mencoba memanfaatkan BUMDes?” tanya Vega.
“Selama ini saya selalu pinjam ke saudara atau warung pakan dengan bunga tinggi. Kalau untung, belum tentu cukup untuk bayar hutang lama. Jadi ya memang seperti gali lobang tutup lobang, bahkan saya malah tidak tahu terkait BUMDes tersebut,” jawab Pak Hasan.
Mendengar itu, Vega menjelaskan, “Nah, lewat BUMDes, ada peluang mendapatkan modal yang lebih ringan, tanpa bunga yang besar Pak. BUMDes juga memberikan pelatihan supaya Bapak dan peternak lain bisa lebih baik mengelola usaha sehingga hasilnya semakin maksimal.
Saya juga berharap melalui program ini akan menjadi langkah awal transformasi ekonomi peternak di Dusun Sibelis. Kunci keberhasilan ada pada bagaimana masyarakat mau berkolaborasi dengan BUMDes dan terus meningkatkan kemampuan supaya usaha peternakan ini bisa berkembang dan membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.”
Program ini tidak hanya memberikan pengetahuan terkait pemanfaatan BUMDes, tetapi juga membangun kepercayaan serta relasi yang kuat antara mahasiswa KKN Undip dengan para peternak di Dusun Sibelis. Antusiasme yang muncul selama edukasi door to door menunjukkan bahwa pemanfaatan BUMDes bukan lagi hal yang rumit atau menakutkan, melainkan menjadi kunci penting dalam penguatan ekonomi desa.
Dengan langkah-langkah kecil namun berdampak besar seperti ini, mahasiswa KKN Undip berperan aktif dalam menjembatani potensi lokal dengan sistem pembiayaan dan pengelolaan usaha yang lebih modern, sebagai fondasi menuju Dusun Sibelis yang mandiri, produktif, dan berdaya saing tinggi.











