Mahasiswa KKN UNDIP Lakukan Penanaman Bibit Daun Kelor dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Limbah Kotoran Hewan

Pupuk Organik Cair (POC) dari limbah kotoran hewan hasil pelatihan KKN Undip. Program ini bertujuan mengolah limbah ternak menjadi pupuk ramah lingkungan yang dapat meningkatkan kesuburan tanah.

JATENG.NET, SEMARANG – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari TIM KKN 118 Kelompok 3 Universitas Diponegoro yang mengangkat tema Penanaman Bibit Daun Kelor dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Limbah Kotoran Hewan telah berjalan dengan sukses pada Minggu (03/08/2025).

Program ini bukan sekadar kegiatan sekali saja, tetapi merupakan inisiatif yang menanamkan fondasi pertanian berkelanjutan di masyarakat.

Melalui pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), limbah ternak diolah menjadi sumber daya yang berguna dan ramah lingkungan.

POC kaya akan unsur hara serta mikroba yang memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis yang mahal dan berpotensi merusak lingkungan.

Program ini juga mendorong terciptanya sistem pertanian yang lebih hijau dan efisien, sesuai prinsip pertanian berkelanjutan.

Penanaman bibit daun kelor melambangkan keseriusan program ini dalam membangun ketahanan pangan lokal. Daun kelor dikenal unggul secara nutrisi dan mudah dibudidayakan, sehingga representatif sebagai simbol keberlanjutan gizi dan lingkungan.

Mahasiswa KKN Undip menanam bibit daun kelor di Desa Sambiroto, Semarang, sebagai bagian dari program ketahanan pangan. Kegiatan ini mendorong adopsi pertanian mikro dengan tanaman yang unggul secara nutrisi dan mudah dibudidayakan.

Selain menciptakan penghijauan, kelor juga membuka potensi nilai tambah bagi masyarakat melalui latihan dan adopsi pertanian mikro.

Lebih jauh, pendekatan ini menciptakan peluang jangka panjang. Masyarakat tidak hanya belajar membuat POC, tetapi juga memperoleh kapasitas untuk memproduksi secara mandiri dan bahkan mengembangkan usaha lokal. Konsep ekonomi sirkular, di mana limbah menjadi sumber manfaat, diharapkan dapat melekat dalam kehidupan warga Desa Sambiroto.

Secara keseluruhan, keberlanjutan program ini terletak pada tiga pilar utama: lingkungan yang lebih lestari, ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Harapannya adalah bahwa program ini tidak berhenti di tanggal pelaksanaan, melainkan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk meniru dan memperluas dampaknya di masa mendatang.

Penulis: Ariya Teguh Pamungkas, Mahasiswa Prodi Peternakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian UNDIP
Lokasi: RT 07/RW01, Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang