Sinergi Warga dan KKN Undip: Bangun Kemandirian Pengelolaan Sampah hingga Inovasi Penerangan Otomatis di Desa Kragilan

Foto bersama Rembug Warga sebagai wadah pemaparan Program Multidisiplin 1 untuk kemudian didiskusikan warga terkait mekanisme pelaksaannya

JATENG.NET, Klaten – Dusun Kragilan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, menginisiasi upaya pengelolaan sampah berbasis warga melalui pembuatan keranjang sampah botol plastik dan pengadaan tungku sampah sebagai respons atas keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah di tingkat desa. Inisiatif ini mulai dijalankan pada 13 Januari 2026 sebagai bentuk perhatian bersama terhadap persoalan lingkungan yang selama ini dihadapi warga.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro TIM 1 Sub Tim 94 merancang dan melaksanakan program pemanfaatan nilai ekonomis sampah botol dan gelas plastik. Sampah plastik jenis tersebut dipilah dan dikumpulkan melalui keranjang khusus untuk kemudian dijual ke pengepul. Hasil penjualan direncanakan dapat dimanfaatkan sebagai kas RT atau RW, sehingga pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Program ini dirancang dan difasilitasi langsung oleh mahasiswa KKN Undip.

Sementara itu, pembuatan tungku sampah merupakan inisiatif warga Desa Kragilan yang muncul dari hasil rembuk warga yang dilaksanakan pada 19 Januari 2026. Gagasan tersebut lahir dari kebutuhan warga akan alternatif pengelolaan sampah rumah tangga di tengah ketiadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di desa. Dalam konteks ini, mahasiswa KKN Undip berperan sebagai fasilitator dengan membantu penyusunan desain dan perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) berdasarkan kebutuhan serta kesepakatan warga.

Melengkapi infrastruktur fisik tersebut, Afri Himawan, mahasiswa program studi Teknik Elektro Fakultas Teknik, hadir memberikan solusi atas kendala teknis di lokasi pengelolaan sampah baru tersebut. Area tungku yang gelap gulita pada malam hari dinilai mengurangi aspek keamanan dan keteraturan fasilitas umum, sehingga diperlukan investasi teknis kelistrikan untuk menunjang operasional tungku sampah tersebut.

Merespons hal itu, Afri menjalankan program kerja teknis yaitu penambahan instalasi penerangan otomatis berbasis photocell street light switch di area tungku sampah. Program ini menawarkan solusi penerangan yang bekerja secara mandiri tanpa memerlukan operator manual. Dengan mengintegrasikan sensor cahaya (photocell), lampu akan secara otomatis menyala ketika intensitas cahaya lingkungan menurun (senja) dan padam saat matahari terbit.

Pelaksanaan program dimulai dengan survei teknis untuk menentukan titik instalasi dan kebutuhan daya listrik, dilanjutkan dengan perancangan rangkaian instalasi listrik yang mengintegrasikan saklar photocell sebagai kontrol otomatis serta pengadaan komponen. Tahap akhir meliputi perakitan dan instalasi fisik, yang ditutup dengan verifikasi orientasi pemasangan sensor guna memastikan sistem beroperasi stabil tanpa interferensi cahaya lampu (feedback loop) sesuai siklus siang-malam.

Adapun ketiadaan TPS di Desa Kragilan selama ini membuat warga mengandalkan alternatif mandiri dalam mengelola sampah, salah satunya dengan membakar sampah di lahan kosong. Namun, keterbatasan lahan dan kondisi musim hujan menyebabkan metode tersebut tidak selalu dapat dilakukan secara optimal. Kondisi ini kemudian berdampak pada munculnya sejumlah titik di sepanjang badan sungai yang menjadi perhatian bersama terkait penumpukan sampah.

Beberapa titik tersebut antara lain berada di tanggul penghubung Dusun Kragilan dengan Dusun Teluk, Dusun Kragilan dengan Dusun Balong, serta di sepanjang aliran Sungai Dengkeng dan Sungai Birin. Situasi tersebut dipahami sebagai konsekuensi dari keterbatasan pilihan pengelolaan sampah yang tersedia, terutama bagi warga yang tidak memiliki lahan memadai.

Melalui pendekatan partisipatif yang mencakup aspek ekonomi, infrastruktur fisik, hingga teknologi kelistrikan ini, mahasiswa KKN Undip TIM 1 Sub Tim 94 berharap program pengelolaan sampah dapat berjalan berkelanjutan dan dikelola secara mandiri oleh warga. Penyerahan sarana berupa keranjang sampah botol dan gelas plastik, hasil fasilitasi desain tungku sampah, serta instalasi penerangan otomatis kepada warga Desa Kragilan, sebagai penanda penguatan pengelolaan sampah berbasis kesepakatan bersama.