JATENG.NET, BATANG — Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pada tahun 2025, Universitas Diponegoro (UNDIP) menyelenggarakan program KKN-T Iptek bagi Desa Binaan Universitas (IDBU) yang bertujuan mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal secara berkelanjutan.
Kelompok 4 Tim 1 KKN-T IDBU UNDIP, yang diketuai oleh Prof. Dra. Indah Susilowati, M.Sc., Ph.D., dengan mengusung tema “Dari Limbah Menuju Berkah: Penguatan Ekonomi Sirkular di Desa Roban Barat Kabupaten Batang Melalui Pemanfaatan Produksi Kekerangan di Pesisir Utara Jawa Tengah” dan dibersamai oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yaitu dr. Fathur Nurkholis, SpPD, K-P. beserta Dr. Hapsari Ayu Kusumawardhani, S.E., M.E., turut berperan aktif dalam kegiatan ini. Salah satu lokasi pengabdian tim ini adalah Dukuh Roban Barat, Desa Kedungsegog, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang.
Minyak jelantah yang selama ini dipandang sebagai limbah dapur tak berguna, ternyata dapat diolah menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi, yakni lilin aromaterapi. Inovasi inilah yang diperkenalkan oleh Kelompok 4 Tim 1 KKN-T IDBU UNDIP dengan tema “Pengembangan Ekonomi Sirkular pada Dukuh Roban Barat, Desa Kedungsegog melalui Pengolahan Minyak Jelantah menjadi Lilin Jelita” meliputi rangkaian program pelatihan, edukasi, dan digitalisasi usaha berbasis potensi lokal.
Melalui pelatihan langsung bersama masyarakat, Kelompok 4 tim 1 KKN-T IDBU UNDIP memperkenalkan cara pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Proses pembuatan lilin dimulai dengan menyaring minyak jelantah agar bersih dari sisa makanan, kemudian dicampur dengan lilin parafin dan dipanaskan.
Setelah meleleh dan tercampur rata, campuran lilin dan parafin diberi aroma pewangi/essential oil, lalu dituang ke dalam cetakan yang telah dipasangi sumbu. Lilin ini semakin unik karena dihias dengan cangkang kerang yang dikumpulkan langsung dari Pantai Pesona Indah Batang, yang letaknya dekat dengan Dukuh Roban Barat. Hiasan ini memperkuat karakter lokal dan daya tarik visual produk.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 22 masyarakat, yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga. Respon masyarakat cukup antusias, terbukti dari banyaknya peserta yang aktif bertanya dan ikut serta dalam proses pembuatan lilin aromaterapi.
Bagi sebagian warga, kegiatan ini merupakan pengalaman pertama mereka mengenal potensi minyak jelantah sebagai bahan baku produk ekonomi kreatif.
“Ternyata minyak bekas bisa jadi lilin yang wangi dan cantik begini, saya baru tahu,” ucap Winarni, salah satu warga yang mengikuti pelatihan pembuatan lilin aromaterapi.

Selain pelatihan teknis, Kelompok 4 tim 1 KKN-T IDBU UNDIP juga memberikan edukasi tentang dampak negatif pembuangan minyak jelantah ke lingkungan. Minyak bekas yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan saluran air, serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, pemanfaatan jelantah menjadi lilin menjadi solusi untuk meminimalisir limbah minyak jelantah.
Sebagai bentuk pengelolaan yang lebih sistematis, Kelompok 4 Tim 1 KKN-T IDBU UNDIP juga merancang alur dan titik-titik penampungan minyak jelantah di lingkungan warga. Tujuannya agar masyarakat dapat menyalurkan minyak bekas secara kolektif dan tidak membuangnya sembarangan. Perencanaan ini diharapkan menjadi langkah awal pembentukan ekosistem usaha kreatif berbasis daur ulang minyak jelantah yang berkelanjutan.
Kelompok 4 juga memberikan informasi bahwa lilin aromaterapi yang dihasilkan dari minyak bekas sudah menjadi komoditas ekspor di Indonesia, terutama sebagai bahan baku biodiesel dan produk industri. Masyarakat diberi pemahaman bahwa jelantah memiliki nilai ekonomi tinggi jika diolah dan dipasarkan dengan benar.
Dalam Program yang diusulkan oleh Kelompok 4 ini juga dilengkapi dengan pelatihan branding produk menggunakan bahasa Inggris, penyusunan identitas merek, dan pentingnya memberikan informasi produk secara jelas dan jujur. Masyarakat juga dikenalkan cara menentukan Harga Pokok Produksi (HPP), harga jual produk dan perhitungan Break Even Point (BEP) agar usaha bisa berkembang secara berkelanjutan.
Tidak kalah penting, tim juga mengenalkan sistem pembayaran digital yang kini semakin dibutuhkan di era serba online. Kelompok 4 mengedukasi masyarakat tentang pemanfaatan QRIS dan dompet digital sebagai alternatif transaksi modern. Di akhir pelatihan, peserta diperkenalkan pada konsep digitalisasi usaha, mulai dari promosi media sosial, desain katalog digital, hingga manajemen sederhana berbasis aplikasi.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi bekal bagi masyarakat Dukuh Roban Barat agar lebih kreatif dalam mengelola limbah rumah tangga, khususnya minyak jelantah. Harapannya, tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tapi juga membuka peluang usaha baru yang ramah lingkungan dan berbasis digital,” ujar Avitria, Ketua Kelompok 4 KKN-T IDBU Tim 1.
Tim 1 KKN-T IDBU Universitas Diponegoro dalam pelaksanaannya mendapatkan bimbingan dari sejumlah dosen pendamping lapangan, antara lain Prof. Dr. Indah Susilowati, M.Sc., Prof. Dr. Waridin, M.S., Prof. Dr. Nugroho, SBM., M.Si., Dr. Hapsari, M.Si., Dr. Ita Widowati, M.Sc., dr. Fathur Nur Kholis, Sp.D., dr. Dinda Saraswati, Sp.D., dr. Ika Vemillia, Sp.D., dr. Rizky Rakhmayanti, Sp.D., serta dr. Prisca Luftia Rani, Sp.D.











