JATENG.NET, SEMARANG — Mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Tim 105 melaksanakan kegiatan edukasi literasi keuangan kepada para santriwati Pondok Pesantren Al-Mubarok, Kelurahan Plamongan Sari, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, pada Selasa (22/7/2025).
Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan membekali para santriwati dengan keterampilan dasar pengelolaan keuangan pribadi, agar mereka terhindar dari risiko kesalahan dalam mengatur keuangan di masa depan.
Program ini diinisiasi oleh Rhino Ariel Septyanto, mahasiswa Program Studi S1 Akuntansi UNDIP, sebagai bentuk kontribusi nyata dalam pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di bawah bimbingan Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum. dan Riris Tiani, S.S., M.Hum., selaku dosen pembimbing lapangan. Menurut Rhino, kemampuan mengelola keuangan secara bijak merupakan keterampilan hidup yang sangat penting, apalagi di tengah meningkatnya akses terhadap pinjaman daring dan gaya hidup konsumtif yang kian menjamur.
“Kami ingin membekali para santriwati dengan ilmu dasar mengelola uang saku mereka secara bijak, mulai dari mencatat pengeluaran, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sampai membuat anggaran sederhana,” jelas Rhino di sela-sela Pemaparan.

Kegiatan edukasi ini menyasar santriwati tingkat remaja sebagai peserta utama. Materi yang disampaikan mencakup tiga pokok bahasan, yaitu: dasar-dasar pengelolaan keuangan pribadi, strategi menabung dan mengelola utang secara bijak, serta perencanaan keuangan jangka panjang menggunakan metode SMART (Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, dan Batas Waktu).
Para santriwati tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan. Selain mendapatkan materi bacaan sebagai panduan, mereka juga diajak untuk praktik langsung menyusun anggaran mingguan dan mencatat pengeluaran harian. Diskusi interaktif menjadi bagian yang sangat menarik dalam kegiatan ini. Beberapa peserta dengan semangat mengajukan pertanyaan, seperti bagaimana menghindari kebiasaan boros dan cara membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
“Mas, saya ingin bertanya, apakah membeli sepatu bermerek yang mahal dengan niat agar awet termasuk kebutuhan atau keinginan?” tanya salah satu santriwati dengan rasa ingin tahu.
Kegiatan ini turut didampingi oleh ustazah pengampu pondok yang menyambut positif inisiatif mahasiswa KKN. Mereka menilai program ini sangat relevan dengan kehidupan santriwati, terutama dalam membentuk kesadaran finansial sejak dini.
“Program ini sangat baik karena mengenalkan pengelolaan uang kepada para santriwati. Mereka jadi memahami perbedaan antara kebutuhan primer, sekunder, dan tersier, serta tahu cara membedakan kebutuhan dan keinginan,” ujar salah satu ustazah pendamping.
Rhino menambahkan bahwa literasi keuangan bukan hanya soal pengaturan angka, tetapi juga berkaitan erat dengan pembentukan karakter. Menurutnya, kebiasaan mencatat dan merencanakan pengeluaran akan menumbuhkan sikap kehati-hatian, kesederhanaan, dan kedisiplinan—nilai-nilai yang sangat sejalan dengan kehidupan di pesantren.
Program ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan KKNT Tim 105 yang berlangsung selama kurang lebih tiga minggu di wilayah Kelurahan Plamongan Sari. Selain memberikan edukasi literasi keuangan kepada santriwati, tim mahasiswa juga merancang sejumlah kegiatan lain yang menyasar masyarakat umum, seperti pelatihan literasi digital bagi pelaku UMKM di Kelurahan Plamongan Sari serta pendampingan untuk membantu meningkatkan akses pemasaran produk-produk UMKM tersebut.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi bekal penting bagi para santriwati agar tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga tangguh dan mandiri secara finansial saat mereka mulai terjun ke masyarakat atau membina rumah tangga,” pungkas Rhino.











