Benarkah Makan Sambil Main Gadget Membuat Anak Makan Lebih Banyak atau Justru Lebih Sedikit? Cek Faktanya!
JATENG.NET, Surabaya — Pemandangan anak yang disuapi sambil menatap layar animasi kini bukan lagi hal yang asing. Saat seorang ibu menyodorkan sendok ke mulut anak, perhatian anak sepenuhnya tertuju pada video yang diputar di gadget, bukan pada makanan yang sedang disantap.
Kebiasaan makan sambil menonton ini semakin sering dijumpai, baik di meja makan keluarga, di luar rumah, maupun ketika orang tua sedang bepergian. Menariknya, tanpa disadari, orang dewasa pun kerap melakukan hal serupa dengan makan sambil menatap layar ponsel.
Baca juga: SDN Gedanganak 02 Catat Prestasi! Aji Darma Juara 1 Olimpiade Teknologi Tingkat Kabupaten
Tak sedikit orang tua mengaku terpaksa memberikan gadget agar anak mau membuka mulut dan menghabiskan makanannya. Kekhawatiran saat anak sulit makan atau mengalami gerakan tutup mulut (GTM) membuat gadget kerap dianggap sebagai solusi terakhir.
Anak menjadi lebih tenang, tidak menolak suapan, dan proses makan terasa lebih mudah. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan dampak yang sering kali luput dari perhatian. Namun, kemudahan tersebut menyisakan tanda tanya.
Apakah gangguan layar benar-benar membuat anak makan lebih banyak karena tidak menyadari proses makan? Ataukah justru menurunkan asupan karena perhatian anak sepenuhnya tersedot pada layar? Kita bedah fakta di balik fenomena distracted eating ini dan dampaknya bagi tumbuh kembang si kecil.
Kebiasaan makan sambil menonton atau bermain gadget dalam dunia Kesehatan disebut distracted eating, yaitu makan dalam kondisi tidak fokus. Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa makan dengan distraksi layar dapat mengganggu kemampuan anak mengenali rasa lapar dan kenyang.
Studi lain juga menyebutkan setiap anak usia dini memiliki efek yang berbeda, di mana sebagian anak justru mengonsumsi makanan lebih sedikit karena perhatian mereka sepenuhnya tersedot pada layar, bukan pada makanan. efeknya juga bisa berbeda pada setiap anak. satu hal yang perlu digaris bawahi adalah menurunnya kualitas makan, dimana anak merasa kurang mengenali rasa, aroma dan tekstur makanan yang dikonsumsi, padahal proses ini sangat penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat sejak kecil. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat berdampak pada pola makan jangka panjang, dimana anak menjadi pilih-pilih makanan, sulit mengatur porsi, hingga berisiko mengalami masalah gizi.
Pada masa pertumbuhan, anak seharusnya belajar mendengarkan sinyal tubuhnya. Mereka perlu tahu kapan lapar dan kapan kenyang. Penelitian menunjukkan distraksi selama waktu makan dapat mengganggu asupan makanan karena anak kehilangan fokus pada rasa dan tekstur makanan.
Fenomena ini sering disebut sebagai “distraksi kognitif”. Ketika otak terlalu aktif memproses stimuli visual yang cepat dari video, aktivitas motorik seperti mengunyah dan menelan menjadi melambat. Akibatnya, durasi makan menjadi sangat lama hingga makanan menjadi dingin dan anak kehilangan selera makan sebelum asupan hariannya terpenuhi.
Lingkungan makan yang terdistraksi dapat mengurangi kesadaran anak terhadap jenis makanan yang dikonsumsi, yang dalam beberapa kasus menyebabkan mereka lebih cepat merasa bosan dan berhenti makan sebelum kenyang.
Membiasakan anak makan tanpa layar memang bukan hal mudah, terutama jika gadget sudah menjadi “teman makan” sejak lama. Namun, perubahan dapat dilakukan secara bertahap. Orang tua dapat mulai dengan menetapkan waktu makan tanpa gadget atau benda elektronik lainnya, kemudian menciptakan suasana makan yang tenang dan menyenangkan, serta memberikan porsi kecil agar anak tidak merasa tertekan.
Melibatkan anak dalam memilih menu atau menyiapkan makanan juga terbukti meningkatkan minat makan anak. Orang tua juga memegang peran penting sebagai teladan ketika makan berlangsung anak akan lebih mudah meniru kebiasaan makan yang dimakan oleh orang tua jika melihat orang tuanya melakukan hal yang sama maka secara alami anak akan mulai belajar hal yang sama.
Pada akhirnya, makan sambil melihat gadget mungkin terasa sebagai solusi cepat, tetapi bukan pilihan terbaik untuk jangka panjang. Membiasakan anak makan dengan fokus dan sadar adalah kebiasaan yang harus diubah untuk kebaikan anak dimasa mendatang dan memberikan manfaat penting bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Langkah kecil seperti menjauhkan gadget dari meja makan dapat membawa perubahan besar bagi masa depan anak.
Referensi:
- Ogden, J., Oikonomou, E., & Alemany, G. (2017). Distraction, restrained eating and disinhibition: an experimental study of food intake and the impact of ‘eating on the go’. Journal of health psychology, 22(1), 39-50.
- Garg, D., Smith, E., & Attuquayefio, T. (2025). Watching television while eating increases food intake: a systematic review and meta-analysis of experimental studies. Nutrients, 17(1), 166.
- Marsh, S., Mhurchu, C. N., Jiang, Y., & Maddison, R. (2015). Modern screen-use behaviors: the effects of single-and multi-screen use on energy intake. Journal of Adolescent Health, 56(5), 543-549.
- Robinson, E., Aveyard, P., Daley, A., Jolly, K., Lewis, A., Lycett, D., & Higgs, S. (2013). Eating attentively: a systematic review and meta-analysis of the effect of food intake memory and awareness on eating. The American journal of clinical nutrition, 97(4), 728-742.
Penulis: Amalia Ramadani, S.Gz
Mahasiswa Prodi Profesi Dietisien Universitas Esa Unggul






