Mahasiswa UPGRIS Manfaatkan Limbah Cangkang Kerang Menjadi Kerajinan Bernilai Ekonomi di Desa Serangan
JATENG.NET, Bali — Pemanfaatan limbah cangkang kerang menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi terus dikembangkan oleh pelaku UMKM Rumah Kerang di Desa Serangan, Kota Denpasar, Bali pada 30 Juni 2026. Berawal dari melimpahnya limbah cangkang kerang yang belum dimanfaatkan secara optimal, masyarakat setempat bersama pemerintah berinisiatif mengolahnya menjadi berbagai kerajinan tangan yang memiliki nilai jual sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan.
Rumah Kerang memanfaatkan cangkang kerang yang berasal dari limbah restoran maupun hasil tangkapan nelayan. Sebelum digunakan sebagai bahan baku, pengrajin terlebih dahulu memastikan bahwa kerang yang dipakai merupakan jenis kerang limbah, bukan kerang yang termasuk kategori lindung. Secara umum, terdapat tiga jenis kerang, yaitu kerang lindung, kerang budidaya, dan kerang limbah. Pemilihan bahan baku tersebut menjadi langkah penting agar proses produksi tetap memperhatikan aspek keberlanjutan.


Bahan baku yang digunakan berasal dari limbah cangkang kerang yang diperoleh dari nelayan maupun restoran. Cangkang tersebut dibeli berdasarkan berat per kilogram sebelum melalui proses pembersihan. “Kami membeli cangkang kerang per kilogram. Kalau kondisinya masih kotor harganya murah, sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram, tergantung tingkat kebersihannya. Setelah dibersihkan, nilainya bisa mencapai sekitar Rp40.000 per kilogram,” ujar pengelola Rumah Kerang.
Berbagai produk yang dihasilkan dibuat dengan mengutamakan desain yang unik dan menarik agar memiliki daya saing di pasaran. Dalam proses produksinya, satu produk kerajinan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 5 hingga 15 menit, tergantung tingkat kesulitan. Para karyawan juga dikelompokkan sesuai dengan tingkat keterampilan dan tingkat kesulitan pengerjaan produk. Sementara itu, sistem upah yang diterapkan diberikan sebesar sekitar setengah dari harga jual produk yang berhasil diselesaikan.
Selain memproduksi kerajinan, Rumah Kerang juga aktif melakukan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan keterampilan. Pelatihan diberikan kepada warga, termasuk kelompok anak muda di lingkungan Desa Serangan, sebelum mereka terlibat dalam proses produksi. Upaya tersebut bertujuan menciptakan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan usaha kerajinan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Dalam hal pemasaran, produk kerajinan masih dipasarkan secara sederhana. Penjualan dilakukan dengan sistem pre-order (PO) maupun ditawarkan langsung kepada masyarakat sekitar. Produk yang telah selesai dibuat umumnya dipasarkan terlebih dahulu di pasar-pasar tradisional, sedangkan beberapa produk unggulan seperti lampu hias telah berhasil menembus perdagangan nasional.


Meskipun memiliki potensi yang besar, Rumah Kerang masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangannya. Salah satu kendala utama adalah regenerasi pengrajin serta ketekunan generasi muda dalam menekuni usaha kerajinan berbahan limbah cangkang kerang. Padahal, keberlanjutan usaha ini sangat bergantung pada minat masyarakat untuk terus melestarikan keterampilan tersebut.
Melalui inovasi dalam pemanfaatan limbah, Rumah Kerang membuktikan bahwa cangkang kerang yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kehadiran UMKM ini tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga menjadi contoh nyata penerapan ekonomi kreatif yang mendukung pelestarian lingkungan di Desa Serangan, Bali.
Profil penulis:
1. Krisma Desita, Universitas PGRI Semarang, Manajemen
2. Najwa Putri Akhirussanah, Universitas PGRI Semarang, Manajemen
3. Luluk Nurlaila, Universitas PGRI Semarang, Manajemen
4. Nafis Suroyya, Universitas PGRI Semarang, Manajemen





