Banjir Sumatra dan Kegagalan Media: Menggugat Etika di Tengah Bencana

Foto ilustrasi penulis dari Gemini.

JATENG.NET, Tangsel — Angka kematian akibat banjir Sumatra hingga Desember 2025 akhir, korban tewas menjadi 1.141 orang. Sementara korban hilang mencapai 163 orang (Laporan resmi BNPB). Di sisi ekonomi, CNBC Indonesia mencatat kerugian telah menembus angka Rp68 triliun. Namun, di tengah duka ini, ruang publik kita justru dibanjiri oleh ‘bencana’ kedua, yaitu eksploitasi visual para korban demi klik dan viralitas. Ketika media berlomba menjadi yang tercepat, etika jurnalisme tampaknya menjadi korban pertama yang hanyut terbawa arus.

Tenggelam dalam Lautan Sensasi

Tragedi ini sebenarnya memiliki akar masalah yang jelas. Temuan peneliti UGM menegaskan bahwa banjir besar tersebut berkaitan erat dengan kerusakan hutan di hulu yang membuat air tak lagi tertahan secara alami. Seharusnya, fokus narasi publik kita ada pada mitigasi dan fakta ilmiah ini. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Jagat maya lebih sibuk menyebarkan video dan foto jenazah tanpa sensor. Laporan beberapa media nasional bahkan menyoroti betapa banyaknya informasi simpang siur akibat unggahan warga yang minim verifikasi. Kita seolah lupa substansi demi sensasi.

Realitasnya memang ironis. Tekanan algoritma digital dan persaingan ketat kerap menyeret media profesional ke dalam jebakan clickbait, sebab dalam jurnalisme digital kontemporer, performa konten kerap diukur dari kecepatan tayang dan jumlah klik, bukan kedalaman verifikasi. Iud Dwi Mursito dalam Jurnalisme di Era Digital: Antara Fakta, Algoritma, dan Etika menegaskan bahwa dominasi algoritma telah menggeser orientasi kerja redaksi dari kepentingan publik menuju kepentingan platform dan pasar atensi. Kompetisi antar-media pun tidak lagi bertumpu pada kredibilitas, melainkan pada siapa yang paling dulu hadir di linimasa, sebagaimana juga dikritisi Aryusmar dalam Bahasa Jurnalistik Indonesia: Teori, Praktik, dan Etika di Era Digital bahwa percepatan produksi berita sering kali berbanding terbalik dengan ketelitian bahasa dan akurasi fakta. Akibatnya, alih-alih melakukan verifikasi ketat—sebagaimana diingatkan A.S. Haris Sumadiria (2011) bahwa tugas utama jurnalisme adalah melayani kepentingan publik melalui informasi yang akurat—media justru bertransformasi menjadi pengeras suara kepanikan kolektif, sebuah kondisi yang oleh Markus Utomo Sukendar dalam Jurnalistik Modern: Teknik, Etika, dan Inovasi Digital dipandang sebagai tanda runtuhnya disiplin etika pers. Di titik inilah prinsip benar kerap kalah telak oleh prinsip cepat.

Supaya Jurnalisme Tak Kehilangan Hati Nurani

Dari sini kelihatan jelas bahwa tekanan digital sering menyeret media untuk lebih fokus pada klik dan viral daripada prinsip human dignity. Dan ketika media profesional mulai kehilangan standar etikanya, ruang informasi akhirnya diambil oleh citizen journalism yang tidak selalu mengerti batas etika dan keamanan informasi. Padahal jurnalisme bencana seharusnya membantu masyarakat pulih, bukan malah membuat trauma baru.

Media seharusnya tetap mengutamakan empati dan akurasi, meskipun dituntut bekerja cepat. Kecepatan memang penting, tetapi tidak boleh menggilas nilai kemanusiaan dan tanggung jawab pers. Pembaca cerdas justru akan menaruh percaya pada media yang tenang, jernih, dan menghormati korban. Jika media terus mengejar viralitas tanpa batas, jurnalisme kita berisiko kehilangan wajah kemanusiaannya.

Penutup

Pada akhirnya, bencana bukan sekadar soal angka kerugian atau foto yang dramatis. Bencana adalah tentang manusia yang kehilangan rumah, keluarga, dan harapan mereka. Di momen seperti ini, peran media seharusnya adalah membantu masyarakat memahami situasi dengan tenang, memberi informasi yang berguna, dan jadi ruang solidaritas untuk membantu mereka yang menjadi korban, bukan sekadar arena perebutan klik. Ketika publik sedang rapuh, pemberitaan yang tepat dan beretika bisa ikut membantu proses pemulihan dan membuat kita merasa tidak sendirian.

Dan di tengah persaingan antara media profesional dan citizen journalism yang tumbuh besar di media sosial, kita perlu bertanya lebih jauh. Siapa yang benar-benar layak dipercaya hari ini? Dan sebagai audiens, apakah kita sudah cukup bijak dalam memilih dan membagikan informasi?

Penulis: Zidane Asasani
Mahasiswa Semester 3, Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang