TIM KKN-T 159 UNDIP Hadirkan Inovasi Matras 3D dan Digitalisasi Kerajinan Tembaga Banaran, Boyolali

TIM KKN-T 159 UNDIP Hadirkan Inovasi Matras 3D dan Digitalisasi Kerajinan Tembaga Banaran, Boyolali

Ukuran Teks:

JATENG.NET, BOYOLALI — Di kaki Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Banaran, Desa Cepogo, berdiri kokoh warisan budaya yang tak lekang oleh waktu: kerajinan ukir tembaga dan kuningan. Selama puluhan tahun, keahlian mengolah logam menjadi karya seni ini diwariskan secara turun-temurun, menjadi identitas budaya sekaligus penopang utama roda ekonomi masyarakat setempat. Namun, di tengah arus modernisasi dan meningkatnya permintaan pasar, para pengrajin kini dihadapkan pada tantangan serius dalam menjaga efisiensi dan daya saing produk mereka.

Salah satu tantangan terbesar muncul dari proses produksi yang masih dilakukan secara manual. Pengrajin menggambar motif langsung di atas lembaran logam, kemudian memahatnya dengan tangan secara hati-hati. Proses ini memang menghasilkan ukiran bernilai seni tinggi, tetapi membutuhkan ketelitian, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit. Keterbatasan tersebut membuat eksplorasi desain menjadi terbatas dan memperlambat proses produksi. Dalam kondisi pasar yang semakin kompetitif dan dinamis, keterbatasan inovasi ini dapat menjadi penghambat dalam mempertahankan eksistensi kerajinan lokal di tingkat nasional maupun global.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tim 159 dari Universitas Diponegoro menghadirkan sebuah program inovatif bertajuk “Pembuatan Desain Matras untuk Pembentukan Ukir Tembaga/Kuningan”. Program ini mengusung semangat integrasi teknologi ke dalam proses produksi awal, khususnya dalam tahap desain ukiran. Mahasiswa memperkenalkan metode pembuatan desain matras menggunakan teknologi digital dan Computer Numerical Control (CNC), yang mampu menghasilkan cetakan bermotif dalam format dua dan tiga dimensi.

Matras sendiri merupakan komponen penting dalam produksi ukiran logam. Ia berfungsi sebagai cetakan berpola yang membantu menghasilkan ukiran yang presisi, konsisten, dan efisien. Tim KKN berhasil menciptakan desain matras dengan mengangkat unsur budaya lokal, seperti motif Garuda yang melambangkan kekuatan dan semangat nasionalisme, motif Gunungan yang merepresentasikan filosofi kehidupan dalam budaya Jawa, serta ilustrasi orang sedang memahat sebagai simbol penghormatan terhadap para pengrajin itu sendiri. Ketiga desain ini tidak hanya berfungsi teknis, tetapi juga membawa makna yang memperkuat identitas budaya kerajinan tembaga Banaran.

Seluruh desain tersebut disusun dalam bentuk booklet digital yang dapat digunakan sebagai media referensi oleh para pengrajin. Tak hanya berisi gambar motif, booklet ini juga memuat penjelasan filosofis dari setiap motif yang dirancang, menjadikannya media edukatif sekaligus dokumentasi budaya visual. Masyarakat dapat mengakses booklet tersebut secara daring melalui tautan bit.ly/bookletmatras.

Selain mengusung inovasi teknologi, Tim KKN-T 159 juga menaruh perhatian pada aspek keselamatan kerja. Dalam proses pengerjaan logam yang melibatkan alat tajam dan suhu tinggi, keselamatan seharusnya menjadi prioritas. Namun kenyataannya, masih banyak pengrajin yang belum mendapatkan edukasi memadai mengenai prosedur kerja yang aman. Untuk itu, tim menyelenggarakan penyuluhan keselamatan kerja bagi pengrajin lokal dan membagikan poster edukatif yang ditempel di tempat kerja sebagai pengingat akan pentingnya penggunaan alat pelindung diri dan lingkungan kerja yang aman.

Tidak berhenti di situ, mahasiswa juga menghadirkan platform digital dalam bentuk website interaktif sebagai media promosi dan literasi publik. Website tersebut memuat informasi tentang sejarah kerajinan tembaga Banaran, dokumentasi kegiatan KKN, edukasi keselamatan kerja, galeri desain motif, serta potensi pengembangan wisata edukatif berbasis kerajinan logam. Dengan tampilan yang ramah pengguna dan konten yang informatif, masyarakat luas kini dapat mengakses informasi tentang kerajinan lokal melalui https://kerajinantembagabanaran.netlify.app.

TIM KKN-T 159 UNDIP Hadirkan Inovasi Matras 3D dan Digitalisasi Kerajinan Tembaga Banaran, Boyolali

Kegiatan KKN ini menunjukkan bahwa teknologi tidak harus menjadi ancaman bagi tradisi. Sebaliknya, jika digunakan secara tepat, teknologi dapat menjadi alat penguat dan pelestari nilai-nilai budaya lokal. Program yang dijalankan oleh Tim 159 menjadi bukti nyata bahwa inovasi dan kearifan lokal dapat berjalan berdampingan.

“Melalui program ini, kami ingin pengrajin tetap mampu mempertahankan nilai budaya dalam karyanya, sembari beradaptasi dengan tuntutan zaman. Teknologi yang kami perkenalkan bukan untuk menggantikan tradisi, tetapi justru memperkuat dan melestarikannya dalam bentuk yang lebih efisien dan mudah diwariskan,” ujar salah satu anggota tim KKN-T 159.

Harapannya, upaya kecil ini dapat memberikan dampak yang besar. Tidak hanya dalam peningkatan efisiensi dan kualitas produksi, tetapi juga dalam memperluas daya tarik kerajinan lokal sebagai bagian dari wisata edukatif dan ekonomi kreatif. Dengan kolaborasi antara mahasiswa, pengrajin, dan masyarakat, Dusun Banaran di Desa Cepogo kini memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan diri sebagai sentra kerajinan tembaga yang tidak hanya kuat dalam tradisi, tetapi juga siap menyambut masa depan.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan