JATENGKU.COM, Semarang — Mahasiswa KKN Tematik 08 Kelompok 02 Universitas Diponegoro, Muhammad Farrel Pratama Wicaksono, melaksanakan program Multidisiplin 2 berupa perancangan, pembuatan, dan penerapan alat komposter skala rumah tangga di RW 04 Kelurahan Ngemplak Simongan.
Program ini dilatarbelakangi oleh dominasi sampah organik rumah tangga yang belum terkelola dengan baik dan sering menimbulkan bau tidak sedap akibat proses pembusukan yang tidak terkontrol. Keterbatasan alat pengomposan yang praktis dan sesuai dengan kondisi masyarakat menjadi salah satu kendala utama dalam pengelolaan sampah organik di lingkungan permukiman.
Dalam pelaksanaannya, alat komposter dirancang menggunakan pendekatan rekayasa teknik mesin dengan memanfaatkan desain berbasis CAD. Perancangan difokuskan pada sistem aerasi dan sirkulasi udara yang optimal guna mempercepat proses pengomposan secara aerobik serta meminimalkan timbulnya bau.
Setelah tahap perancangan, kegiatan dilanjutkan dengan proses fabrikasi dan perakitan alat komposter, termasuk modifikasi wadah plastik sesuai spesifikasi teknis agar alat dapat berfungsi secara efektif, aman, dan mudah digunakan oleh masyarakat.
Program Multidisiplin 2 ini dilengkapi dengan edukasi teknis dan demonstrasi langsung kepada warga mengenai cara penggunaan, perawatan, serta prinsip kerja komposter. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengolah sampah organik rumah tangga secara mandiri menjadi kompos yang bermanfaat.
Kehadiran alat komposter ini tidak hanya menjadi solusi pengelolaan sampah organik, tetapi juga mendorong penerapan prinsip reduce dan recycle secara berkelanjutan, sehingga berkontribusi pada terciptanya lingkungan RW 04 yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan.

Selain program multidisiplin, Muhammad Farrel Pratama Wicaksono selaku mahasiswa KKN Tematik 08 Kelompok 02 Universitas Diponegoro juga melaksanakan Program Sosial Kemasyarakatan di RW 04 Kelurahan Ngemplak Simongan dengan peran sebagai edukator dan fasilitator teknis.
Program ini bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik melalui pendekatan edukatif yang sederhana dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan sosial kemasyarakatan ini dirancang sebagai bentuk pendampingan langsung agar warga tidak hanya menerima alat, tetapi juga memahami prinsip kerja dan manfaatnya.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan sosmas difokuskan pada edukasi teknis mengenai mekanisme kerja alat komposter, khususnya terkait pentingnya sistem aerasi dalam proses penguraian sampah organik secara aerobik. Masyarakat diberikan penjelasan mengenai tahapan penggunaan komposter, mulai dari pemilahan sampah organik, pengisian bahan, pengaturan sirkulasi udara, hingga perawatan alat untuk mencegah timbulnya bau dan kegagalan proses pengomposan. Edukasi ini disampaikan melalui penjelasan langsung dan demonstrasi penggunaan alat di lingkungan warga.
Melalui Program Sosial Kemasyarakatan ini, diharapkan masyarakat RW 04 dapat mengoperasikan dan merawat komposter secara mandiri serta mulai membiasakan pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga. Kegiatan pendampingan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan teknis warga, tetapi juga mendorong terbentuknya perilaku peduli lingkungan yang berkelanjutan.
Program sosmas ini menjadi penguat dari program multidisiplin sebelumnya, sehingga solusi teknis yang diterapkan dapat berjalan efektif dan memberikan dampak jangka panjang bagi kebersihan dan kesehatan lingkungan permukiman.
Sebagai hasil nyata dari pelaksanaan program ini, telah diserahkan sebanyak 3 unit tempat sampah terpilah hasil fabrikasi material daur ulang dan 1 unit alat komposter skala rumah tangga kepada pihak RW 04 Kelurahan Ngemplak Simongan. Kegiatan sosialisasi dan pendampingan teknis ini dihadiri oleh 20 orang warga yang terlibat aktif dalam sesi demonstrasi penggunaan alat.
Melalui penerapan sarana tersebut, diharapkan terdapat potensi pengurangan sampah organik rumah tangga hingga 60-70% yang dapat diolah menjadi kompos secara mandiri. Hal ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memberikan dampak jangka panjang terhadap terciptanya sistem pengelolaan limbah yang lebih efektif dan berkelanjutan di lingkungan permukiman.
