Mahasiswa KKN Tematik 131 UNDIP Gelar Edukasi Efisiensi Bahan Baku dan Strategi Pemasaran sebagai Langkah Peningkatan UMKM Happy Juice

Mahasiswa KKN Undip Tim 131 berfoto bersama pelaku UMKM Happy Juice di kawasan Tembalang, Semarang, sambil memegang leaflet edukasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pendampingan yang berfokus pada efisiensi bahan baku dan strategi pemasaran untuk meningkatkan daya saing UMKM.

JATENG.NET, SEMARANGSebagai bagian dari KKN Tematik 131 Universitas Diponegoro 2025, Fathan Ahmad, mahasiswa UNDIP melaksanakan program pendampingan untuk UMKM Happy Juice (Jasuke and Juice) yang berlokasi di kawasan Tembalang. Melalui pendekatan multidisiplin berbasis keilmuan Teknik Industri, kegiatan ini difokuskan pada dua aspek utama, yaitu efisiensi bahan baku pangan serta strategi pemasaran sederhana untuk meningkatkan daya saing pedagang kaki lima.

Program pertama dilaksanakan pada 7 Juli 2025 dengan tema Edukasi Efisiensi Bahan Baku (Food Waste Reduction). Berdasarkan observasi, banyak pedagang kaki lima menghadapi kerugian bahan baku akibat pembelian yang berlebihan, penyimpanan yang tidak tepat, hingga porsi penyajian yang tidak terukur.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa membagikan leaflet dan infografis yang berisi tips praktis seputar pengelolaan stok harian, teknik penyimpanan sesuai suhu, serta cara mengatur porsi sajian. Penyuluhan dilakukan langsung di lokasi usaha secara informal dan interaktif agar lebih mudah dipahami. Salah satu pedagang mengungkapkan, “saya jadi tahu cara mengatur pembelian bahan biar tidak ada yang terbuang, ini membantu sekali supaya tidak rugi.”

Program kedua dilaksanakan pada 10 Juli 2025 dengan fokus pada Strategi Pemasaran UMKM melalui pendekatan 4P, STP, dan AIDA. Kegiatan ini menanggapi permasalahan umum pedagang jus di Tembalang yang masih kurang dalam hal promosi, variasi menu, maupun strategi penentuan harga.

Dengan menggunakan media leaflet, infografis, serta simulasi kasus nyata dari UMKM lokal, mahasiswa memberikan penjelasan sederhana tentang bagaimana menentukan segmen pasar, membuat penamaan produk yang lebih menarik, serta merancang promosi kecil-kecilan yang sesuai kondisi pedagang.

Dalam sesi diskusi, Solekah, pemilik Happy Juice, menyampaikan, “saya baru tahu cara membuat nama menu yang bisa bikin pelanggan penasaran. Kalau ada promosi kecil-kecilan, pasti lebih cepat dikenal.”

Dari kedua kegiatan tersebut, terlihat adanya peningkatan pemahaman pedagang mengenai pentingnya efisiensi bahan baku sekaligus strategi pemasaran yang lebih sistematis. Pendekatan sederhana ini diharapkan dapat membantu UMKM seperti Happy Juice untuk lebih hemat dalam pengeluaran sekaligus menarik lebih banyak konsumen. “Sekarang mahasiswa bisa lebih hemat bahan sekaligus punya ide promosi baru. Terima kasih sudah dibimbing,” tambah Solekah.

Melalui dua kegiatan multidisiplin ini, mahasiswa belajar bahwa pendampingan UMKM tidak selalu harus dimulai dari intervensi besar atau modal finansial, melainkan bisa berangkat dari edukasi kecil yang aplikatif. Bagi pelaku usaha, langkah ini bisa menjadi titik awal menuju pengelolaan yang lebih efisien dan strategi pemasaran yang lebih kreatif.