Mahasiswa KKN-T UNDIP Gagas Pengelolaan Sampah dan Edukasi Banjir di Muktiharjo Kidul
JATENG.NET, SEMARANG — Tim 138 KKN Tematik Universitas Diponegoro (Undip) menggelar kegiatan multidisiplin bertajuk “Pengelolaan Sampah Organik dan Ecoprint di Daerah Rawan Banjir” di Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang pada Kamis (26/6/2025).
Kegiatan ini menjadi bentuk nyata pengabdian mahasiswa Undip kepada masyarakat sekaligus wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan latar belakang permasalahan banjir dan pengelolaan sampah yang masih menjadi tantangan di wilayah tersebut, mahasiswa berkolaborasi bersama warga dan pemerintah kelurahan untuk memberikan edukasi dan solusi praktis terhadap isu-isu tersebut.
Wilayah Muktiharjo Kidul dikenal rawan banjir akibat perubahan tata guna lahan dan curah hujan tinggi. Selain itu, permasalahan pengelolaan sampah rumah tangga juga masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi masyarakat.

Dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan Hega Bintang Pratama Putra, S.T.P., M.Sc., dan Azaria Eda Pradana, S.A.P., M.A.P., mahasiswa melaksanakan sejumlah kegiatan mulai dari edukasi kebencanaan, pelatihan prediksi curah hujan menggunakan data historis BMKG, hingga pelatihan pembuatan pupuk kompos metode Takakura yang cepat, hemat, dan ramah lingkungan.
Kegiatan ini turut didukung oleh pemerintah kelurahan. Sofia Ernawati, SE., MM., selaku Lurah Muktiharjo Kidul, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa. “Saat ini, Muktiharjo Kidul tengah berfokus pada pengelolaan sampah, khususnya sampah organik yang hingga kini masih menjadi kendala utama. Kami berterima kasih kepada mahasiswa Undip yang telah hadir, memberi edukasi, dan mendorong perubahan positif di masyarakat kami,” tuturnya.
“Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat menambah pemahaman masyarakat terkait banjir dan menjadi langkah baru untuk pengelolaan sampah di Muktiharjo Kidul,” ujar Gilang Putra Perdana, Ketua Pelaksana kegiatan.
Selain edukasi tentang banjir, mahasiswa juga mengajak warga untuk memilah sampah sejak dari rumah. Warga diberikan pelatihan pembuatan tempat sampah terpisah organik dan anorganik dengan bahan sederhana, serta demonstrasi pembuatan kompos untuk digunakan di kebun warga.
Salah satu sesi yang mendapat sambutan meriah adalah pelatihan teknik ecoprint, yaitu mencetak pola alami dari daun ke kain. Teknik ini tak hanya ramah lingkungan, namun juga membuka peluang ekonomi kreatif berbasis rumah tangga.
“Kami ajak warga untuk tidak hanya membuang, tapi memanfaatkan kembali sampah organik. Salah satunya dengan mengubahnya menjadi kompos, dan juga kami kenalkan teknik ecoprint sebagai seni yang memanfaatkan limbah dedaunan,” tambah Gilang.
Dengan semangat kolaboratif, mahasiswa Undip membangun kesadaran kolektif di masyarakat mengenai pentingnya pelestarian lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Program ini menjadi salah satu bukti bahwa pendekatan multidisiplin yang menyentuh langsung akar permasalahan bisa menghasilkan dampak positif yang nyata.






