Langkah Nyata Mahasiswa KKN Undip di Desa Tieng: Olah Limbah Rumah Tangga Dorong Pertanian Berkelanjutan dan Pencapaian SDGs
WONOSOBO, Agustus 2026 – Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T)
IDBU 27 Universitas Diponegoro (Undip) sukses menyelenggarakan rangkaian program
kerja multidisiplin bertajuk “Penguatan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Rumah Tangga
Menuju Pertanian Berkelanjutan” di Aula Kampung Rowomukti, Dusun Sidorejo, Desa
Tieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Program terpadu yang berlangsung sejak
pertengahan Juli hingga awal Agustus 2026 ini diikuti oleh puluhan warga RW 08 dengan
fokus utama mengubah limbah domestik menjadi produk berdaya guna, bernilai ekonomis,
sekaligus mengimplementasikan target pembangunan berkelanjutan (Sustainable
Development Goals/SDGs) secara nyata di tingkat pedesaan.
Kegiatan ini diinisiasi sebagai jawaban atas persoalan tata kelola sampah yang dihadapi
masyarakat setempat. Ketiadaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai di kawasan
pedesaan sempat kebiasaan warga membuang sampah langsung ke aliran sungai serta
membakar limbah anorganik. Melalui rangkaian edukasi ini, tim KKN Undip mendampingi
warga untuk mengurangi pencemaran tersebut guna mewujudkan lingkungan permukiman
desa yang bersih, sehat, dan tangguh, sejalan dengan komitmen SDG 11 (Kota dan
Permukiman yang Berkelanjutan) khususnya target 11.6 mengenai pengelolaan sampah
komunitas.
Rangkaian program diawali pada Rabu (16/07/2026) melalui edukasi bahaya limbah cair
domestik dan pelatihan pembuatan sabun batang dari minyak jelantah. Dalam pemaparannya,
mahasiswa menekankan bahwa penggunaan minyak goreng secara berulang kali tidak hanya
merusak kualitas makanan, tetapi juga membawa risiko kesehatan jangka panjang seperti
penyakit kardiovaskular dan degeneratif. Sosialisasi ini menjadi langkah preventif yangmendukung pencapaian SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Selain itu, pencegahan
pembuangan minyak jelantah ke saluran air berkontribusi langsung pada pencapaian SDG 6
(Air Bersih dan Sanitasi Layak) pada target 6.3, yakni melindungi mutu air tanah dan
ekosistem sungai hulu Wonosobo dari sedimentasi lemak dan polutan kimia.
Dalam sesi praktik, warga diajak membuat sabun batang serbaguna secara langsung
menggunakan metode cold process, mulai dari tahap penyaringan jelantah, pelarutan natrium
hidroksida (NaOH), pencampuran hingga fase trace, sampai proses pencetakan. Inovasi
pengolahan limbah minyak ini merefleksikan prinsip ekonomi sirkular pada SDG 12
(Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengurangan timbulan sampah
(Reduce, Reuse, Recycle). Pemanfaatan sabun tersebut juga membuka peluang efisiensi
pengeluaran rumah tangga hingga potensi unit usaha rumahan yang selaras dengan SDG 8
(Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Antusiasme peserta tampak dari diskusi interaktif mengenai keamanan bahan dan cara
penyimpanan sabun. Salah seorang warga peserta pelatihan menyampaikan apresiasinya atas
ilmu praktis yang diperoleh. “Saya senang sekali ada praktik seperti ini. Selama ini setelah
memasak saya sering bingung minyak bekasnya mau diapakan. Ternyata masih bisa diolah
menjadi sabun yang bermanfaat untuk mencuci dan membersihkan peralatan rumah tangga.
Ilmu seperti ini sangat berguna karena mudah dan bisa langsung kami praktikkan sendiri di
rumah,” tuturnya.
Program berlanjut pada Sabtu (25/07/2026) dengan sosialisasi pengelolaan sampah organik
menjadi pupuk yang dipandu oleh mahasiswa Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP)
Undip. Mengingat mayoritas masyarakat Desa Tieng bermata pencaharian sebagai petani
sayur dan holtikultura, mahasiswa mengenalkan teknologi tepat guna berupa komposter
ember tumpuk berbahan dasar galon bekas untuk memproduksi Pupuk Organik Cair (POC)
dan kompos padat dari sampah sisa dapur. Pemanfaatan pupuk organik ini mendukung
tercapainya SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui perbaikan struktur hara dan pemulihan
mikroorganisme tanah pertanian tanpa ketergantungan berlebih pada pupuk kimia. Secara
paralel, pengolahan sisa makanan secara aerobik di komposter juga mencegah pembusukan
anaerobik liar di sungai yang berpotensi melepas gas metana, sehingga berkontribusi aktif
pada aksi mitigasi iklim global dalam SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Rangkaian edukasi terakhir dilaksanakan pada Minggu (02/08/2026), tim KKN menggelar
pelatihan daur ulang sampah anorganik berupa pembuatan kerajinan gantungan kunci
(keychain) dari tutup botol plastik. Program ini dirancang sebagai solusi lain atas kebiasaan
membakar sampah plastik di ruang terbuka yang menghasilkan polutan berbahaya seperti
dioksin dan karbon monoksida. Melalui pendekatan daur ulang bernilai estetika ini,
mahasiswa tidak hanya mendorong pencapaian SDG 13 dan SDG 3 terkait pengurangan
emisi racun udara, tetapi juga mengasah kreativitas ekonomi sirkular warga berbasis SDG 8
dan SDG 12. “Saya baru pertama kali mencoba membuat kerajinan ini, prosesnya seru dan
cukup mudah, nanti mau saya coba kembangkan di rumah,” ujar salah seorang warga
Program berlanjut pada Sabtu (25/07/2026) dengan sosialisasi pengelolaan sampah organik
menjadi pupuk yang dipandu oleh mahasiswa Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP)
Undip. Mengingat mayoritas masyarakat Desa Tieng bermata pencaharian sebagai petani
sayur dan holtikultura, mahasiswa mengenalkan teknologi tepat guna berupa komposter
ember tumpuk berbahan dasar galon bekas untuk memproduksi Pupuk Organik Cair (POC)
dan kompos padat dari sampah sisa dapur. Pemanfaatan pupuk organik ini mendukung
tercapainya SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui perbaikan struktur hara dan pemulihan
mikroorganisme tanah pertanian tanpa ketergantungan berlebih pada pupuk kimia. Secara
paralel, pengolahan sisa makanan secara aerobik di komposter juga mencegah pembusukan
anaerobik liar di sungai yang berpotensi melepas gas metana, sehingga berkontribusi aktif
pada aksi mitigasi iklim global dalam SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Rangkaian edukasi terakhir dilaksanakan pada Minggu (02/08/2026), tim KKN menggelar
pelatihan daur ulang sampah anorganik berupa pembuatan kerajinan gantungan kunci
(keychain) dari tutup botol plastik. Program ini dirancang sebagai solusi lain atas kebiasaan
membakar sampah plastik di ruang terbuka yang menghasilkan polutan berbahaya seperti
dioksin dan karbon monoksida. Melalui pendekatan daur ulang bernilai estetika ini,
mahasiswa tidak hanya mendorong pencapaian SDG 13 dan SDG 3 terkait pengurangan
emisi racun udara, tetapi juga mengasah kreativitas ekonomi sirkular warga berbasis SDG 8
dan SDG 12. “Saya baru pertama kali mencoba membuat kerajinan ini, prosesnya seru dan
cukup mudah, nanti mau saya coba kembangkan di rumah,” ujar salah seorang warga
Melalui integrasi lintas disiplin ilmu dan kolaborasi aktif bersama masyarakat, mahasiswa
KKN-T IDBU 27 Undip berharap gerakan pengelolaan sampah mandiri ini dapat terus
bertumbuh secara swadaya, sehingga cita-cita mewujudkan Desa Tieng yang bersih, sehat,
serta berwawasan lingkungan berkelanjutan dapat tercapai
- Zhahira
- Mahasiswa KKN IDBU 27, Universitas Diponegoro
- Setuju





