Penerjemahan Komposisi Produk UMKM ke Bahasa Jepang Jadi Upaya Penguatan Produk Lokal

PEMALANG, 22 Juli 2026 — Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) memberikan pendampingan kepada UMKM Keripik Ibu Sun di Dusun Kedungyom, Desa Tegalsari Timur, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang, melalui penerjemahan informasi komposisi produk ke dalam bahasa Jepang. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk pendampingan dalam meningkatkan kelengkapan informasi pada kemasan sekaligus memberikan nilai tambah pada produk UMKM lokal.

Gagasan penerjemahan tersebut berawal dari cerita pemilik UMKM, Ibu Sun, bahwa keripik yang diproduksinya tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat sekitar, tetapi juga beberapa kali dijadikan oleh-oleh oleh masyarakat yang akan bekerja ke luar negeri. Produk tersebut dibawa sebagai buah tangan untuk keluarga maupun kerabat di negara tempat mereka bekerja.

“Kadang keripiknya dibawa sama orang yang mau jadi TKI atau TKW untuk oleh-oleh. Jadi keripiknya sudah pernah dibawa ke luar negeri,” ujar Ibu Sun saat menceritakan pengalaman penjualan produknya kepada mahasiswa KKN.

Cerita tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan mahasiswa untuk mengembangkan informasi yang terdapat pada kemasan produk, khususnya pada bagian komposisi. Menurut mahasiswa, apabila produk lokal sudah memiliki pengalaman dibawa ke luar negeri sebagai oleh-oleh, penambahan bahasa lain pada informasi kemasan dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk membuat informasi produk lebih mudah dipahami oleh konsumen dari latar belakang bahasa yang berbeda.

“Dari cerita Bu Sun, kami melihat bahwa produknya ternyata sudah beberapa kali dibawa ke luar negeri sebagai oleh-oleh. Karena itu, kami berpikir bahwa akan lebih baik kalau informasi seperti komposisi tidak hanya tersedia dalam bahasa Indonesia, tetapi juga ditambahkan bahasa lain,” ujar Kinanty, mahasiswa KKN Tim II UNDIP yang terlibat dalam proses penerjemahan.

Dalam kegiatan tersebut, Kinanty menerjemahkan informasi komposisi produk ke dalam bahasa Jepang dengan menyesuaikan istilah bahan yang digunakan pada produk Keripik Ibu Sun. Proses penerjemahan dilakukan dengan memperhatikan ketepatan istilah agar informasi dalam bahasa Jepang tetap memiliki makna yang sesuai dengan komposisi asli dalam bahasa Indonesia.

“Kami tidak ingin hanya menerjemahkan kata per kata. Komposisinya harus tetap sesuai dengan bahan yang sebenarnya digunakan dalam produk, jadi kami juga memastikan kembali informasinya dengan Bu Sun,” jelas Kinanty.

Pemilihan bahasa Jepang dalam kegiatan ini disesuaikan dengan latar belakang keilmuan Kinanty sebagai mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang. Kemampuan yang diperoleh selama perkuliahan kemudian diterapkan secara langsung untuk membantu kebutuhan UMKM, khususnya dalam memberikan alternatif bahasa pada informasi produk.

Menurut Kinanty, penerjemahan tersebut bukan berarti UMKM Keripik Ibu Sun secara langsung menargetkan pasar Jepang. Penambahan bahasa Jepang lebih diarahkan sebagai bentuk pengembangan informasi pada kemasan sekaligus memberikan nilai tambah apabila produk tersebut kembali dibawa ke luar negeri.

“Tujuannya bukan berarti produk ini harus langsung dipasarkan ke Jepang, tetapi lebih kepada memberikan tambahan informasi. Kalau suatu saat produk dibawa ke luar negeri lagi, setidaknya sudah ada informasi dalam bahasa lain yang bisa membantu orang memahami komposisinya,” ungkap Kinanty.

Bagi Ibu Sun, adanya pendampingan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pengembangan produk dari sisi kemasan. Selama ini, fokus utama usaha berada pada proses produksi dan penjualan, sementara penggunaan bahasa asing pada label produk belum menjadi perhatian.

“Kalau memang bisa ditambah bahasa lain, ya bagus. Apalagi kalau nanti ada yang bawa keripiknya ke luar negeri lagi, orang di sana bisa lebih tahu isi produknya,” ujar Ibu Sun.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap informasi pada kemasan UMKM Keripik Ibu Sun dapat menjadi lebih lengkap sekaligus memberikan nilai tambah bagi produk. Penerjemahan komposisi juga menjadi salah satu langkah sederhana untuk mendukung kesiapan produk ketika dibawa ke luar daerah maupun ke luar negeri sebagai oleh-oleh.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk penerapan keilmuan mahasiswa KKN dalam menjawab kebutuhan yang ditemukan secara langsung di masyarakat. Kemampuan bahasa Jepang tidak hanya diterapkan dalam konteks akademik, tetapi juga dimanfaatkan untuk memberikan pendampingan yang dapat digunakan oleh pelaku UMKM.

Dengan adanya penerjemahan komposisi ke dalam bahasa Jepang, produk Keripik Ibu Sun diharapkan memiliki informasi kemasan yang lebih beragam dan dapat lebih mudah dipahami oleh konsumen dari latar belakang bahasa yang berbeda. Langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN Tim II UNDIP dalam memberikan nilai tambah sekaligus mendukung penguatan produk lokal agar semakin dikenal lebih luas.

  • Kinanty Isnansiwi
  • Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Universitas Diponegoro
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!