Gedung Papak Menjadi Ruang Belajar: Pengabdian Tim Asmara Mengubah Cara Murid Tunagrahita Memahami Matematika Untuk Mewujudkan Pendidikan Berkualitas

Gambar 1. Kunjungan Edukatif Murid SLBN Salatiga ke Gedung Papak

Gedung Papak adalah gedung Wali Kota Salatiga yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda. Gedung ini memiliki bentuk datar dengan kubus, balok, dan limas sebagai bentuk utamanya. Gedung utamanya dilengkapi dengan ruang tamu yang luas dan bernuansa Eropa. Salah satu hal yang menonjol dari gedung ini adalah atapnya yang rata (dalam bahasa Jawa: papak), sehingga selama berpuluh-puluh tahun sejak bangunan itu berdiri, masyarakat Salatiga menyebutnya sebagai gedung papak. Gedung ini juga termasuk bangunan cagar budaya yang tidak boleh diubah atau dibongkar.

Di balik cerita sejarahnya, terdapat ruang untuk murid tunagrahita belajar memahami konsep bangun datar dan bangun ruang dengan cara yang lebih menyenangkan. Proses pembelajaran ini diimplementasikan oleh tim PKM Pengabdian Masyarakat ASMARA Universitas Negeri Semarang tahun 2026 di bawah dosen pendamping Dr. Nuriana Rachmani Dewi (Nino Adhi), M.Pd. Tim PKM pengabdian masyarakat ASMARA terdiri dari ketua tim Nurul Hidayati, mahasiswa Pendidikan Matematika (FMIPA) Angkatan 2023; Muhammad Bagas Riyanto, mahasiswa Pendidikan Sejarah Angkatan 2023 (FISIP); Indah Lutfiana, mahasiswa Ilmu Hukum Angkatan 2023 (FH); Ali Alatas, mahasiswa Teknik Informatika Angkatan 2024 (FMIPA); dan Gusti Kresna Wisnusiwi, mahasiswa Bimbingan Konseling Angkatan 2025 (FIPP).

Program ASMARA dilaksanakan di SLB Negeri Salatiga yang terletak di Jl. Hasanuddin, Gg.III (Cakra), RT 03 RW 12, Mangunsari, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Jawa Tengah. Program ini diikuti oleh 12 murid tunagrahita  jenjang SMA di SLB N Salatiga dengan kriteria dan karakteristik: (1) tunagrahita ringan kelas 10 dan 11 di jenjang SMA, (2) lambat dalam menguasai kemampuan dasar, (3) sulit memecahkan persoalan ringan. Program ini tidak hanya memberikan pendampingan dan bantuan sementara dalam mata pelajaran matematika, tetapi juga memberikan penguatan mental dan emosional serta kontekstualisasi budaya dalam kehidupan sehari-hari. Program ASMARA terdiri dari 3 tahapan, antara lain: penguatan mental dan emosional melalui “zona laku”; kontekstualisasi budaya berupa pengenalan Gedung Papak sebagai cagar budaya di Kota Salatiga yang diintegrasikan dengan materi bangun datar dan bangun ruang dalam pembelajaran matematika untuk menumbuhkan pembelajaran yang kontekstual di “zona budaya”; serta penguatan pemahaman praktik matematika di “zona sinau”

Sejauh ini, program ini telah melewati tahap pra-pelaksanaan pada Jumat, 3 April 2026. Tim ASMARA melaksanakan koordinasi awal dengan Bapak Tawar, M.Pd., selaku Kepala SLB Negeri Salatiga. Dalam koordinasi awal ini, Bapak Tawar menyatakan kesiapan untuk mendukung kelancaran program dan memberikan akses pendampingan selama program dilaksanakan. Koordinasi awal ini disertai dengan penyusunan program, kunjungan, dan observasi lapangan, serta identifikasi karakteristik mitra yang didampingi oleh Ibu Asri Muflihun Puspaning Ratih, S.Pd., selaku guru pendamping kelas. Tim ASMARA rutin melaksanakan diskusi internal bersama dosen pendamping selama proses penyusunan program.

Pada Jumat, 05 Juni 2026, memasuki tahap tepang silaturahmi, Tim ASMARA melakukan koordinasi lanjutan, sinkronisasi jadwal, dan perizinan program yang didampingi oleh Bapak Tawar, M.Pd., selaku Kepala SLB Negeri Salatiga, serta Ibu Indah Widyahety, S. Pd., M. Pd., selaku Waka Kesiswaan SLB Negeri Salatiga. Pihak sekolah memberikan arahan dan informasi lanjutan terkait proses pembelajaran, jadwal pembelajaran dan perizinan program. Pihak sekolah mendukung penuh program yang disusun oleh tim ASMARA.

Pelaksanaan Zona Budaya dilaksanakan pada 21 s.d 28 Juli 2026 dengan kegiatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman matematis materi bangun ruang dan kemandirian belajar murid tunagrahita. Pembelajaran berfokus pada materi karakteristik kubus, balok, limas, jaring-jaring, serta bangun datar penyusunnya. Semua materi pembelajaran dikaitkan dengan miniatur Gedung Papak dan juga menggunakan aplikasi ASMARA. Selain itu, pada tanggal 29 Juli 2026 murid tunagrahita diajak untuk kunjungan edukatif di Gedung Papak secara langsung dengan didampingi oleh Bapak Kaiddin, A.Md. selaku Arsiparis terampil pada Sekretaris Daerah Salatiga. Murid tunagrahita diperkenalkan dan mendengarkan langsung sejarah mengenai Gedung Papak dan juga mengaitkan secara langsung Gedung Papak dengan matematika. Harapannya dengan adanya kunjungan edukatif ini, murid tunagrahita dapat mengenal cagar budaya yang berada di Kota Salatiga.

Program ASMARA sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Program ini juga selaras dengan tema PKM 2026 ke-6, yaitu Penguatan Pendidikan, Sains, dan Teknologi, serta ke-7, yaitu Penguatan Kesetaraan Gender dan Perlindungan Hak-Hak Perempuan, Anak, dan Penyandang Disabilitas.  Program ini juga relevan dalam mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya Asta Cita ke-4 yang menitikberatkan pada penguatan pembangunan sumber daya manusia (SDM) melalui pengembangan sains, teknologi, dan pendidikan yang berorientasi pada kemajuan.

  • Muhammad Bagas Riyanto
  • Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Semarang
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!