Edukasi Bahaya Mikroplastik: KKN-R Tim II Undip Ajak Siswa SD di Desa Pait Ubah Kebiasaan dengan Menerapkan Kebiasaan Baik di Sekolah
PEKALONGAN — Sampah plastik yang dibuang hari ini mungkin tidak langsung terlihat dampaknya. Namun, ketika terpapar sinar matahari, hujan, angin, hingga gesekan dalam waktu lama, plastik dapat terpecah menjadi partikel berukuran sangat kecil yang dikenal sebagai mikroplastik. Untuk mengenalkan bahaya tersebut sejak dini, mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (Undip) menggelar edukasi mengenai bahaya mikroplastik terhadap lingkungan dan kesehatan bagi siswa sekolah dasar di Desa Pait, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Kegiatan dilaksanakan di SDN 01 Pait pada Kamis (23/7/2026), SDN 02 Pait pada Sabtu (25/7/2026), dan SDN 03 Pait pada Selasa (28/7/2026). Edukasi dikemas secara interaktif dengan materi sederhana, contoh benda yang dekat dengan kehidupan siswa, serta kuis untuk menguji pemahaman mereka mengenai sampah plastik dan mikroplastik. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperkenalkan istilah mikroplastik kepada siswa, tetapi juga mengajak mereka memahami bahwa sampah plastik yang terlihat sepele dapat menimbulkan persoalan yang lebih besar ketika tidak dikelola dengan baik.
Siswa mengikuti sesi edukasi bahaya mikroplastik dengan antusias. Melalui kegiatan interaktif, mahasiswa mengajak siswa memahami pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan memilah sampah sejak dari lingkungan sekolah.
Muhammad Nabil Redho Danendra, salah satu mahasiswa KKN yang sedang menempuh di bidang Ilmu Kelautan, melihat persoalan sampah plastik sebagai permasalahan lingkungan yang perlu mendapat perhatian sejak dari sumbernya. Tingginya penggunaan plastik sekali pakai, keterbatasan fasilitas daur ulang, serta rendahnya kebiasaan memilah sampah membuat limbah plastik berpotensi terus mencemari lingkungan. Permasalahan tersebut juga memiliki kaitan erat dengan ekosistem laut. Sampah plastik yang berada di daratan dapat terbawa aliran air menuju sungai hingga akhirnya mencapai laut. Ketika terfragmentasi menjadi bagian yang semakin kecil, plastik dapat berubah menjadi mikroplastik yang berpotensi masuk dan mengganggu kehidupan berbagai biota laut. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa mengajak siswa mengenali sumber mikroplastik melalui benda-benda yang mereka jumpai sehari-hari. Botol minuman, kantong kresek, sedotan, talenan plastik, bungkus permen, bungkus mi instan, gelas plastik sekali pakai, sikat gigi, hingga botol sampo menjadi contoh benda yang diperkenalkan dalam materi.
Mahasiswa KKN Reguler Tim II Undip menjelaskan materi mengenai mikroplastik kepada siswa sekolah dasar di Desa Pait, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Edukasi dikemas dengan contoh benda sehari-hari agar siswa lebih mudah memahami sumber dan bahaya mikroplastik.
Mahasiswa menjelaskan bahwa mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Ukurannya yang sangat kecil membuat mikroplastik sulit dikenali secara langsung, tetapi keberadaannya dapat ditemukan di berbagai lingkungan. Proses terbentuknya dapat terjadi ketika sampah plastik mengalami paparan lingkungan dan perlahan mengalami kerusakan menjadi potongan-potongan yang semakin kecil. Selain persoalan lingkungan, siswa juga dikenalkan dengan potensi dampak mikroplastik terhadap kesehatan. Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman dan berpotensi mengganggu sistem pencernaan, memengaruhi sistem kekebalan tubuh, serta memicu peradangan. Dengan demikian, persoalan sampah plastik tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan. Agar siswa tidak hanya memahami bahaya mikroplastik secara teori, mahasiswa kemudian mengajak mereka mempraktikkan kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan setiap hari. Siswa didorong untuk membawa tumbler dan kotak makan sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih layak, membuang sampah pada tempatnya, serta memilah sampah berdasarkan jenisnya.
Siswa mengikuti kuis setelah menerima materi edukasi mikroplastik. Sejumlah siswa tampak antusias menjawab pertanyaan yang diberikan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Pesan tersebut diperkuat melalui materi mengenai “Kebiasaan Baik di Sekolah”. Siswa diajak untuk tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah, mengikuti kerja bakti, serta saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Suasana edukasi semakin menarik ketika mahasiswa mengadakan sesi kuis. Pertanyaan diberikan untuk menguji kembali pemahaman siswa mengenai pengertian mikroplastik, sumbernya, dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan, serta tindakan yang dapat dilakukan untuk menguranginya. Siswa pun diajak untuk mengingat kembali materi melalui cara yang lebih menyenangkan dan tidak sekadar mendengarkan penjelasan. Edukasi pemilahan sampah sejak dini menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan ini. Kebiasaan sederhana tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga dibawa siswa ke lingkungan rumah dan masyarakat. Dengan memahami perjalanan sampah plastik hingga berpotensi menjadi mikroplastik, siswa diharapkan dapat lebih bijak dalam menggunakan dan membuang plastik. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Reguler Tim II Undip berupaya menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Membawa tumbler, mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, dan membuang sampah pada tempatnya merupakan langkah kecil yang dapat dilakukan sejak sekarang. Dari ruang kelas di Desa Pait, pesan tentang menjaga lingkungan diharapkan dapat tumbuh menjadi kebiasaan yang lebih luas. Sebab, ketika kepedulian terhadap sampah ditanamkan sejak usia sekolah, anak-anak tidak hanya belajar menjaga kebersihan hari ini, tetapi juga dipersiapkan menjadi generasi yang lebih peduli terhadap keberlangsungan bumi dan kehidupan biota laut di masa mendatang.
- Muhammad Nabil Redho Danendra
- Mahasiswa Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
- Setuju





