Dorong Transformasi Digital UMKM Desa Beji, Mahasiswa dan Dosen Pembimbing Lapangan Kenalkan QRIS
BATANG, 1 Agustus 2026 – Transformasi digital telah mengubah pola interaksi ekonomi masyarakat, termasuk dalam mekanisme pembayaran pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Di tengah meningkatnya preferensi masyarakat terhadap transaksi non-tunai, kemampuan pelaku usaha dalam mengadopsi instrumen pembayaran digital menjadi salah satu aspek penting dalam membangun daya adaptasi dan daya saing usaha. Namun, realitas di Desa Beji, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, menunjukkan bahwa pemanfaatan pembayaran digital oleh pelaku UMKM masih menghadapi keterbatasan pemahaman dan akses terhadap informasi.
Berangkat dari kondisi tersebut, Muhammad Rajiv Irfy Fawaid, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro, menginisiasi program Sosialisasi Transaksi Digital dan QRIS dalam bentuk pengabdian Kuliah Kerja Nyata. Program ini tidak semata-mata diarahkan pada pengenalan QRIS sebagai alat pembayaran, tetapi juga sebagai upaya memperkuat literasi digital pelaku UMKM agar mampu merespons perubahan perilaku konsumen dan perkembangan ekosistem ekonomi digital.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pendekatan edukatif dan pendampingan langsung. Pelaku UMKM diberikan pemahaman mengenai konsep transaksi non-tunai, fungsi dan manfaat QRIS, serta mekanisme penggunaannya dalam aktivitas perdagangan. Pendampingan kemudian dilanjutkan dengan pembuatan dan pencetakan QR Code bagi pelaku usaha yang telah memiliki QRIS maupun yang membutuhkan dukungan dalam menyiapkan media pembayaran digital. Proses tersebut dilakukan secara praktis agar teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti pada tahap pemahaman, tetapi dapat langsung diintegrasikan ke dalam aktivitas usaha.
Kehadiran QRIS diharapkan mampu menciptakan alternatif transaksi yang lebih efisien dan memberikan fleksibilitas bagi konsumen dalam melakukan pembayaran. Bagi pelaku UMKM, adopsi pembayaran digital juga menjadi bagian dari proses modernisasi pengelolaan usaha, khususnya dalam membangun pelayanan yang responsif terhadap perkembangan kebutuhan konsumen.
Lebih jauh, program ini menempatkan digitalisasi bukan sekadar sebagai persoalan penggunaan teknologi, melainkan sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan meningkatnya literasi dan adopsi transaksi digital, UMKM Desa Beji diharapkan memiliki kapasitas yang lebih baik untuk beradaptasi dengan dinamika pasar sekaligus memperkuat fondasi usaha yang inklusif, efisien, dan berkelanjutan.
- Muhammad Rajiv Irfy Fawaid
- Mahasiswa KKN Program Studi Manajemen, Universitas Diponegoro
- Setuju






