Dari Jelantah Menjadi Aroma yang Bernilai

KENDAL, 30-07-2026 – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro  melaksanakan program pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi di Desa Juwiring, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal. Kegiatan yang dilaksanakan bersama Fatayat di Madrasah pada Minggu (2/8) ini menjadi upaya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah rumah tangga sekaligus mengembangkan potensi limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Minyak jelantah merupakan salah satu limbah rumah tangga yang masih ditemukan dalam aktivitas sehari-hari masyarakat. Berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh tim KKN, sebanyak 82,4% peserta menggunakan minyak goreng sebanyak dua kali sebelum membuangnya. Sementara itu, cara pembuangan minyak jelantah masih didominasi dengan membuangnya ke tanah sebesar 41,2% dan saluran air sebesar 23,5%. Kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi permasalahan lingkungan apabila limbah minyak jelantah tidak dikelola dengan baik.

Program ini tidak hanya diarahkan pada pengenalan teknik pengolahan limbah, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat agar melihat minyak jelantah sebagai bahan yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Melalui workshop, masyarakat diperkenalkan dengan proses pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang dapat dikembangkan sebagai produk bernilai ekonomi. Peserta kegiatan didominasi oleh kelompok ibu rumah tangga sebesar 70,6%, dengan kelompok usia 25–40 tahun menjadi kelompok usia terbesar sebesar 41,2%.

Pelaksanaan workshop mendapatkan respons positif dari peserta. Sebanyak 94,1% peserta memberikan penilaian “Baik” terhadap pelaksanaan kegiatan. Selain itu, 58,8% peserta berada pada kategori tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai pengelolaan limbah, sementara 64,7% menunjukkan sikap yang tergolong baik atau positif terhadap inovasi pembuatan lilin aromaterapi. Hasil tersebut menunjukkan adanya penerimaan masyarakat terhadap pengolahan minyak jelantah menjadi produk alternatif.

Dalam program tersebut, kontribusi dari bidang Antropologi Sosial diarahkan pada melihat aspek sosial dan kultural yang dapat mendukung pengembangan produk lilin aromaterapi. Salah satu aspek yang dikaji adalah preferensi masyarakat terhadap aroma serta makna sosial yang dapat melekat pada pilihan aroma. Aroma tidak hanya dipahami berdasarkan karakteristik wanginya, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman, preferensi, suasana, dan asosiasi sosial yang dimiliki seseorang.

Identifikasi terhadap preferensi dan makna sosial aroma kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan Panduan Rekomendasi Varian Aroma Lilin Aromaterapi. Panduan ini menjadi salah satu bentuk luaran yang menghubungkan proses pengolahan limbah dengan aspek sosial masyarakat. Dengan demikian, pengembangan lilin aromaterapi tidak hanya berhenti pada bagaimana minyak jelantah dapat diolah menjadi produk baru, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana produk tersebut dapat memiliki karakter dan daya tarik yang sesuai dengan preferensi masyarakat.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi Antropologi dalam program pemberdayaan masyarakat. Proses pengolahan limbah dipandang tidak hanya sebagai persoalan teknis lingkungan, tetapi juga sebagai proses yang melibatkan kebiasaan, pengetahuan, preferensi, dan potensi ekonomi masyarakat. Pemanfaatan limbah menjadi produk baru dapat menjadi ruang untuk menghubungkan pengetahuan masyarakat dengan inovasi yang diperkenalkan melalui kegiatan KKN.

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan mengenai minyak jelantah memiliki hubungan positif yang kuat dan signifikan dengan sikap peserta terhadap pengelolaan limbah. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,745 dengan nilai p-value 0,001. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi pemahaman peserta mengenai potensi dan bahaya minyak jelantah, semakin positif pula sikap mereka terhadap praktik pengolahan dan daur ulang limbah tersebut.

Melalui program ini, minyak jelantah yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah lingkungan diperkenalkan kembali sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi. Pengembangan lilin aromaterapi juga membuka peluang untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai produk unggulan atau UMKM desa, sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.

Ke depan, program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan workshop, tetapi dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat Desa Juwiring untuk mengembangkan pemanfaatan limbah secara berkelanjutan. Dengan menggabungkan keterampilan pengolahan, pemahaman terhadap preferensi masyarakat, serta pengembangan varian aroma yang memiliki daya tarik sosial dan ekonomi, lilin aromaterapi dari minyak jelantah memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih berkelanjutan dan bernilai bagi masyarakat.

Penulis/Reporter: Ghaza Prasetyo Al Ghifari
Dokumentasi: Tim KKN Kelompok 6
Kelompok KKN: KKN TIM2 KELOMPOK 6 Kecamatan Cepiring Desa Juwiring
Kontak Media/Humas: @nyandhingjuwiring

  • Ghaza Prasetyo Al Ghifari
  • Mahasiswa Program Studi Antropologi Sosial, Universitas Diponegoro
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!