Berdayakan Masyarakat Lewat Inovasi Atsiri, Mahasiswa KKN UNDIP Gandeng Ibu-Ibu KWT Membuat Produk Spa

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro bersama ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) berfoto bersama usai pelatihan pembuatan produk spa berbahan dasar rempah atsiri di kawasan KHDTK UNDIP, Semarang, Minggu (6/7/2025). Kegiatan ini bertujuan mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

JATENG.NET, SEMARANG — Dalam rangka mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) serta pengentasan kemiskinan berbasis potensi lokal, mahasiswa Universitas Diponegoro yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) melaksanakan pelatihan pembuatan produk spa berbahan dasar rempah atsiri kepada ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) di kawasan KHDTK Universitas Diponegoro pada Minggu (6/7/2025).

KHDTK sendiri merupakan hutan pendidikan yang dikelola oleh Universitas Diponegoro sejak 2020, setelah mendapat mandat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kawasan ini dulunya bagian dari hutan lindung Perum Perhutani dan kini dikembangkan sebagai laboratorium/kampus lapangan, pusat riset, serta kawasan eco-eduwisata yang mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN memperkenalkan konsep diversifikasi produk spa berbasis rempah atsiri kepada masyarakat, khususnya ibu-ibu KWT. Diversifikasi ini membuka peluang pemanfaatan tanaman lokal seperti serai wangi, kayu putih, pandan, daun jeruk purut, kulit jeruk, daun salam, cengkeh, hingga kayu manis yang biasanya hanya dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi seperti foot soak, body scrub, lilin aromaterapi, dan kantong mandi herbal yang memiliki banyak manfaat kesehatan.

Kegiatan diawali dengan sesi penyampaian materi mengenai diversifikasi produk spa berbahan kering, mulai dari pengenalan jenis produk, teknik pengemasan, analisis keuangan, hingga strategi pemasaran. Namun, ibu-ibu KWT mengaku mengalami kesulitan dalam memahami materi karena terlalu banyak disampaikan dalam satu pertemuan.

“Kalau beruntun kurang efektif, seharusnya satu pertemuan hanya dua materi. Jika beruntun ibu-ibu merasa kebingungan dan sulit untuk menangkap,” ujar salah satu perwakilan KWT saat sesi evaluasi kegiatan.

Meskipun demikian, antusiasme ibu-ibu tetap tinggi, terutama saat sesi praktik pembuatan produk. Salah satu produk yang dibuat adalah foot soak atau rendaman kaki, yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti garam Epsom, garam Himalaya, potongan serai wangi, dan campuran minyak atsiri hasil penyulingan sendiri bersama Ibu Lina selaku ketua kelompok ibu-ibu KWT.

Produk ini ternyata sudah cukup familiar bagi mereka. “Ini mirip dengan yang biasa kami lakukan buat menghilangkan capek setelah bekerja di ladang,” ungkap salah satu peserta.

Melihat potensi yang ada, para ibu-ibu KWT berencana mengembangkan foot soak secara mandiri untuk dijual di pasar lokal. “Kami coba yang foot soak dulu yang gampang, sekalian cek pasarannya gimana,” tambahnya.

Pelaksanaan kegiatan ini merujuk pada Surat Penugasan Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Skema IPTEK Bagi Daerah Binaan UNDIP (IDBU) dengan nomor 274-058/UN7.D2/PM/IV/2025, yang dikeluarkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro.

Di akhir kegiatan, Ibu Warsini selaku ketua RW setempat menyampaikan rasa terima kasih atas diselenggarakannya kegiatan ini di Kantor KHDTK UNDIP. Ia mengaku bahwa kegiatan ini telah memberikan wawasan baru dan mendorong semangat ibu-ibu untuk berinovasi dalam pengembangan produk berbasis minyak atsiri.

Harapannya, kegiatan pengabdian ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak jangka panjang bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar KHDTK Universitas Diponegoro.