Utamakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, KKN Tim II Dampingi Pembangunan Bank Sampah di Desa Ampelgading
Pemalang, 1 Agustus 2026 — Upaya menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan mendukung pengelolaan sampah secara mandiri terus dilakukan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Ampelgading, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang. Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui pembangunan bank sampah rumah tangga dan alat pengurai sampah yang dilaksanakan mulai Sabtu, 1 Agustus 2026, dan berlangsung selama beberapa hari di sejumlah titik di Dusun 4, Desa Ampelgading.
Kegiatan pembangunan tersebut tidak hanya berorientasi pada tersedianya sarana pengelolaan sampah, tetapi juga menempatkan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai bagian penting dalam setiap prosesnya. Pendekatan tersebut menjadi fokus program individu Asy Syifa, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip, melalui program “Penerapan Budaya Kerja Aman (K3) pada Pembangunan Bak Sampah dan Alat Pengurai Sampah.” Dalam pelaksanaannya, mahasiswa berupaya membangun kebiasaan kerja yang aman melalui penggunaan alat pelindung diri (APD), briefing sebelum bekerja, serta pemasangan media edukasi K3 di sekitar sarana pengelolaan sampah.
Pembangunan bank sampah dan alat pengurai sampah merupakan bagian dari program multidisiplin KKN Tim II Undip di Desa Ampelgading. Program tersebut dirancang untuk mendukung terbentuknya sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat. Berdasarkan hasil identifikasi kondisi desa, pengelolaan sampah menjadi salah satu bidang yang diprioritaskan karena memiliki kaitan dengan kebersihan lingkungan sekaligus potensi pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.
Pembangunan sarana dilakukan secara bertahap selama beberapa hari. Bank sampah dan alat pengurai sampah dibangun secara bersamaan dengan melibatkan empat mahasiswa KKN. Lokasi pembangunan tersebar di beberapa titik di Dusun 4 sehingga sarana yang dihasilkan diharapkan dapat lebih dekat dan mudah dimanfaatkan oleh masyarakat.
Dalam proses pembangunan, material utama yang digunakan salah satunya adalah batako. Tahapan pembangunan dilakukan secara bertahap hingga menghasilkan sarana yang telah selesai dan dapat digunakan. Selain pembangunan fisik, mahasiswa juga memberikan perhatian terhadap aspek keselamatan bagi pihak-pihak yang terlibat selama pekerjaan berlangsung.
Bagi Asy Syifa, pembangunan sarana pengelolaan sampah menjadi kesempatan untuk menerapkan prinsip kesehatan dan keselamatan kerja secara langsung di tengah masyarakat. Pekerjaan pembangunan memiliki sejumlah potensi risiko yang perlu diperhatikan, sehingga penggunaan APD menjadi salah satu langkah pencegahan yang diterapkan sejak proses pekerjaan dimulai.
APD yang digunakan dalam kegiatan tersebut meliputi topi, masker, baju lengan panjang, sarung tangan kerja, celana panjang, dan sepatu tertutup. Penggunaan perlengkapan tersebut ditujukan sebagai perlindungan dasar selama proses pembangunan. Penerapan APD juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja aman agar keselamatan tidak hanya dipandang sebagai pelengkap, tetapi menjadi kebiasaan dalam setiap aktivitas pembangunan.
Sebelum proses pembangunan dimulai, tim juga melaksanakan briefing K3. Briefing dilakukan sebagai bentuk persiapan agar anggota tim memahami pentingnya bekerja secara aman sebelum melakukan aktivitas pembangunan bank sampah maupun alat pengurai sampah. Dengan adanya briefing, aspek keselamatan ditempatkan sebagai bagian dari persiapan kerja, bukan hanya dilakukan ketika pekerjaan telah berlangsung.
Penerapan K3 kemudian diperkuat dengan pemasangan banner edukasi penggunaan APD di sekitar alat pengurai sampah. Banner tersebut berfungsi sebagai media informasi sekaligus pengingat bagi masyarakat mengenai pentingnya menggunakan perlengkapan pelindung ketika melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan pembangunan maupun penggunaan sarana pengelolaan sampah.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa program KKN tidak hanya berhenti pada pembangunan fasilitas secara fisik. Mahasiswa juga berusaha meninggalkan pengetahuan dan kebiasaan yang dapat diterapkan masyarakat setelah program KKN selesai. Dengan adanya media edukasi yang ditempatkan di sekitar fasilitas, pesan mengenai keselamatan kerja dapat terus dilihat oleh warga dan menjadi pengingat dalam pemanfaatan sarana tersebut.
Di sisi lain, pembangunan bank sampah dan alat pengurai sampah merupakan bagian dari rangkaian kegiatan multidisiplin yang melibatkan mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan. Setiap mahasiswa memiliki kontribusi yang berbeda untuk mendukung keberlanjutan sistem pengelolaan sampah di Desa Ampelgading.
Selain aspek K3 yang menjadi fokus Asy Syifa, terdapat mahasiswa yang menyusun rencana anggaran biaya (RAB) pembuatan bank sampah rumah tangga dan alat pengurai sampah. Penyusunan RAB dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan sarana, mendata bahan dan peralatan, melakukan survei harga, serta menyusun rincian biaya yang meliputi jumlah kebutuhan, harga satuan, dan total anggaran.
Mahasiswa lainnya berkontribusi melalui perencanaan produk bank sampah rumah tangga dan alat pengurai sampah. Perencanaan tersebut diawali dengan identifikasi permasalahan pengelolaan sampah rumah tangga di lingkungan masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan perancangan produk, pembuatan, pengujian fungsi, serta pemberian penjelasan mengenai cara penggunaan dan pemanfaatannya kepada masyarakat.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan sarana pengelolaan sampah dilakukan dengan pendekatan multidisiplin. Bank sampah berfungsi sebagai sarana pemilahan dan pengumpulan sampah rumah tangga, sementara alat pengurai sampah dirancang untuk membantu mengurangi volume sampah. Dengan demikian, keberadaan kedua fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan desa.
Program tersebut juga berkaitan dengan edukasi masyarakat mengenai pemilahan dan pemanfaatan sampah. Dalam rangkaian program multidisiplin, masyarakat Desa Ampelgading mendapatkan edukasi mengenai jenis-jenis sampah, pentingnya pemilahan, dampak sampah terhadap lingkungan, serta pemanfaatan sampah yang memiliki nilai jual seperti plastik, kardus, dan kaleng. Masyarakat juga diperkenalkan dengan pengolahan sampah organik dan potensi pemanfaatannya.
Dengan demikian, pembangunan bank sampah tidak berdiri sebagai kegiatan fisik semata. Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang melibatkan perubahan perilaku masyarakat, mulai dari pemilahan sampah di rumah, pengumpulan sampah, pemanfaatan sampah bernilai jual, hingga pengolahan sampah organik.
Dalam pelaksanaannya, keberlanjutan menjadi salah satu perhatian utama. Terdapat keterbatasan waktu, ketersediaan bahan dan alat, serta kebutuhan penyesuaian desain dengan kondisi lingkungan menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengembangan sarana pengelolaan sampah. Edukasi dan pendampingan lanjutan juga diperlukan agar masyarakat dapat menerapkan pemilahan sampah dan menggunakan produk secara konsisten.
Meski demikian, pembangunan bank sampah dan alat pengurai sampah di beberapa titik Dusun 4 telah diselesaikan dan kedua sarana tersebut telah dapat digunakan. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi salah satu hasil nyata dari kolaborasi mahasiswa KKN dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan sampah di Desa Ampelgading.
Bagi mahasiswa KKN, proses pembangunan juga memberikan pengalaman untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam kondisi nyata di masyarakat. Khusus dalam aspek K3, penerapan penggunaan APD dan briefing sebelum bekerja menunjukkan bahwa prinsip keselamatan dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan, termasuk pembangunan sarana sederhana di lingkungan desa.
Penerapan budaya kerja aman juga memiliki arti penting karena keselamatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi ketika terjadi kecelakaan, tetapi juga bagaimana risiko dapat dicegah sejak sebelum pekerjaan dimulai. Melalui penggunaan APD, briefing, dan pemasangan media edukasi, mahasiswa berupaya membangun kesadaran bahwa setiap aktivitas pekerjaan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.
Kehadiran banner penggunaan APD di sekitar fasilitas juga menjadi bentuk edukasi sederhana yang dapat menjangkau masyarakat secara langsung. Pesan yang disampaikan tidak berhenti pada mahasiswa KKN sebagai pelaksana pembangunan, tetapi juga diarahkan kepada warga yang nantinya akan berinteraksi dengan fasilitas bank sampah dan alat pengurai sampah tersebut.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat arah utama program multidisiplin KKN Tim II Undip di Desa Ampelgading, yaitu mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat. Program tersebut memanfaatkan teknologi tepat guna berupa alat pengurai sampah dan bank sampah sebagai sarana pendukung pengelolaan lingkungan.
Melalui pembangunan yang dilakukan bersama masyarakat, fasilitas yang telah tersedia diharapkan tidak hanya menjadi hasil program KKN selama mahasiswa berada di Desa Ampelgading. Lebih jauh, bank sampah dan alat pengurai sampah diharapkan dapat terus dimanfaatkan secara mandiri oleh masyarakat serta menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah desa.
Bersamaan dengan itu, penerapan K3 diharapkan dapat menjadi kebiasaan yang ikut terbawa dalam pemanfaatan dan pengembangan fasilitas. Keselamatan kerja menjadi dasar agar kegiatan pengelolaan sampah dapat dilakukan secara aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Dengan menggabungkan pembangunan fasilitas, edukasi pengelolaan sampah, dan penerapan budaya kerja aman, KKN Tim II Undip berupaya menghadirkan pendekatan yang tidak hanya menyelesaikan persoalan sarana, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat. Bank sampah dan alat pengurai sampah menjadi wujud fisik dari program, sementara budaya K3 menjadi pengingat bahwa setiap proses pembangunan dan pemanfaatannya tetap harus mengutamakan keselamatan dan kesehatan manusia.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, pembangunan yang dimulai pada 1 Agustus 2026 tersebut menjadi salah satu langkah untuk mendukung pengelolaan lingkungan Desa Ampelgading secara lebih mandiri. Fasilitas yang telah selesai dan dapat digunakan diharapkan menjadi titik awal bagi pengelolaan sampah yang lebih terarah sekaligus mendorong masyarakat untuk menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Penulis/Reporter: Asy Syifa Febianne
Fotografer: Hanin Atikah Hasna
DPL: Mursid Tri Susilo, S.Gz., M.Gizi
Media/Humas: @swaka.ampelgading
- Asy Syifa Febianne
- Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro
- Setuju






