Tim KKN-T 115 Universitas Diponegoro Tingkatkan Keterampilan Pertolongan Pertama pada Anak melalui Sosialisasi dan Simulasi Kegawatdaruratan Dasar
Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, 8 Agustus 2026
Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 115 Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan “Peningkatan Keterampilan Pertolongan Pertama Anak melalui Simulasi Kegawatdaruratan dan Penyusunan Konten Edukasi Kesehatan” di Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya para ibu, dalam mengenali kondisi kegawatdaruratan dasar pada anak serta memberikan pertolongan pertama secara tepat dan aman.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi Tim KKN-T 115 Universitas Diponegoro dalam memberikan edukasi kesehatan yang aplikatif kepada masyarakat Desa Sawit. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Selain pemberian materi, peserta juga diajak mengikuti demonstrasi dan studi kasus agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diterapkan ketika menghadapi kondisi darurat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai empat kondisi kegawatdaruratan dasar yang umum terjadi pada anak, yaitu tersedak, demam kejang, luka bakar, serta jatuh dan cedera. Keempat materi tersebut disampaikan dengan menekankan pengenalan tanda dan gejala, langkah pertolongan pertama, tindakan yang perlu dihindari, serta kondisi yang memerlukan pertolongan medis lebih lanjut. Materi kegiatan juga dilengkapi dengan berbagai contoh kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pertolongan Pertama pada Anak Tersedak
Materi pertama membahas mengenai tersedak, yaitu kondisi ketika makanan, minuman, atau benda kecil masuk ke saluran napas sehingga anak mengalami kesulitan bernapas. Ibu-ibu diperkenalkan dengan berbagai makanan dan benda kecil yang berisiko menyebabkan tersedak, seperti kacang, popcorn, anggur utuh, permen, bakso utuh, sosis, potongan buah berukuran besar, koin, kancing, manik-manik, baterai kancing, serta mainan kecil.
Peserta juga diberikan pemahaman mengenai perbedaan sumbatan sebagian dan sumbatan total. Pada sumbatan sebagian, anak umumnya masih dapat batuk, menangis, berbicara, atau bernapas meskipun mengalami sesak. Sementara itu, pada sumbatan total, anak tidak dapat batuk, menangis, berbicara, atau bernapas dengan baik, bahkan dapat mengalami perubahan warna pada bibir atau wajah hingga kehilangan kesadaran.
Selanjutnya, tim memberikan demonstrasi teknik pertolongan pertama berdasarkan usia anak. Pada bayi di bawah satu tahun, peserta diperkenalkan dengan teknik back blow berupa lima tepukan pada punggung dan chest thrust berupa lima hentakan pada dada. Sementara pada balita, dilakukan lima tepukan punggung (back blow) dan apabila belum berhasil dapat dilanjutkan dengan abdominal thrust atau manuver Heimlich.
Pertolongan Pertama pada Demam Kejang
Materi berikutnya membahas demam kejang pada anak, yaitu kejang yang terjadi ketika anak mengalami demam dengan suhu diatas 38°C dan tidak disebabkan oleh infeksi otak atau gangguan saraf. Kondisi ini umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, terutama pada rentang usia 12–18 bulan. Peserta juga diberikan informasi mengenai beberapa kondisi yang dapat menyertai demam, seperti flu atau batuk pilek, radang tenggorokan, infeksi telinga, infeksi saluran pernapasan, dan infeksi virus.
Peserta dikenalkan dengan beberapa tanda dan gejala demam kejang, antara lain tubuh kaku, tangan dan kaki menghentak, mata mendelik, tidak merespons, air liur berbuih, serta mengantuk setelah kejang.
Dalam sesi pertolongan pertama, peserta diberikan langkah yang perlu dilakukan ketika anak mengalami kejang, yaitu tetap tenang, membaringkan anak di tempat yang aman, memiringkan tubuh anak ke kiri, mencatat lama kejang, memantau pernapasan, serta setelah kejang berhenti menurunkan demam sesuai anjuran tenaga kesehatan. Peserta juga diarahkan untuk segera mencari pertolongan medis apabila kondisi anak membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Pertolongan Pertama pada Luka Bakar
Materi ketiga membahas luka bakar pada anak. Peserta diberikan pemahaman bahwa luka bakar merupakan cedera pada kulit atau jaringan tubuh akibat paparan panas, api, listrik, bahan kimia, maupun radiasi. Peserta juga diperkenalkan dengan derajat luka bakar, mulai dari derajat I yang ditandai kulit kemerahan dan nyeri, derajat II yang ditandai kulit melepuh dan nyeri lebih kuat, hingga derajat III yang menyebabkan kerusakan seluruh lapisan kulit dan membutuhkan pertolongan medis segera.
Tim kemudian menjelaskan langkah pertolongan pertama pada berbagai kondisi luka bakar. Apabila pakaian terbakar, peserta diperkenalkan dengan prinsip “Stop, Drop and Roll”. Setelah api padam, bagian yang terbakar dapat dialiri air sejuk selama 20 menit. Peserta juga diarahkan untuk melepas aksesori seperti cincin atau jam tangan apabila mudah dilepas dan menutup luka menggunakan kain atau kasa yang bersih dan kering. Untuk luka akibat bahan kimia, luka perlu dibilas menggunakan air mengalir selama 30 menit. Sementara itu, luka akibat listrik memerlukan perhatian khusus karena dapat menyebabkan gangguan pada jantung dan korban perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan setelah sumber listrik dimatikan.
Peserta juga diberikan pemahaman mengenai berbagai tindakan yang tidak boleh dilakukan, seperti mengoleskan pasta gigi, lotion, krim, sabun colek, atau bahan kimia lain pada luka; mengompres luka menggunakan es atau air es; memecahkan lepuhan; menarik pakaian yang menempel pada luka; serta menyentuh luka menggunakan tangan yang kotor.
Pertolongan Pertama pada Jatuh dan Cedera
Materi terakhir membahas jatuh dan cedera pada anak. Peserta diberikan pemahaman mengenai risiko jatuh pada berbagai tahap perkembangan anak, termasuk saat bayi mulai aktif bergerak maupun pada anak usia sekolah yang banyak melakukan aktivitas fisik, olahraga, permainan, dan kegiatan di lingkungan sekitar.
Selain mengenali penyebab jatuh dan cedera, peserta juga diberikan edukasi mengenai upaya pencegahan di rumah dan saat anak beraktivitas. Beberapa di antaranya adalah memastikan tempat tidur bayi memiliki pagar pembatas, tidak meninggalkan bayi di permukaan tinggi tanpa pengawasan, mengamankan tangga dan jendela, serta memastikan area bermain aman dan sesuai dengan usia anak. Saat bepergian, orang tua juga dianjurkan mengajarkan penggunaan sabuk pengaman dan mengenalkan aturan serta rambu lalu lintas kepada anak.
Dalam pertolongan pertama ketika anak jatuh atau mengalami cedera, peserta diarahkan untuk memastikan lokasi aman terlebih dahulu, memeriksa kesadaran, pernapasan, dan perdarahan, serta tidak memindahkan anak apabila terdapat kecurigaan cedera leher atau tulang belakang. Untuk luka, dilakukan penekanan pada perdarahan, kemudian dibersihkan dan ditutup menggunakan kasa steril. Pada memar dapat dilakukan kompres dingin selama 15–20 menit, sedangkan pada keseleo dianjurkan untuk mengistirahatkan bagian yang cedera dan memberikan kompres dingin tanpa memijatnya. Peserta juga dikenalkan dengan kondisi yang memerlukan penanganan segera di IGD, seperti tidak sadar atau kejang, muntah berulang, perdarahan lebih dari 10 menit, keluarnya darah atau cairan dari hidung maupun telinga, serta kesulitan menggerakkan anggota tubuh atau dugaan patah tulang.
Demonstrasi, Simulasi, dan Studi Kasus
Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga dilengkapi dengan demonstrasi, simulasi, dan studi kasus. Tim KKN-T 115 memperagakan langkah-langkah pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang telah dijelaskan. Peserta diberikan kesempatan untuk mengamati tahapan pertolongan dan mendiskusikan penerapannya dalam situasi nyata.
Pada sesi studi kasus, peserta diajak menghadapi beberapa skenario yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kasus yang diberikan antara lain bayi berusia 9 bulan yang tersedak benda kecil, anak berusia 4 tahun yang mengalami sumbatan makanan, anak yang mengalami kejang saat demam, anak yang terkena air panas, serta anak yang mengalami luka lecet akibat terjatuh. Melalui studi kasus tersebut, peserta diajak untuk menentukan tindakan pertolongan pertama yang tepat berdasarkan kondisi dan usia anak.
Kegiatan berlangsung dalam suasana yang seru, interaktif, dan penuh antusiasme. Antusiasme para ibu peserta terlihat cukup baik selama kegiatan berlangsung, terutama ketika memasuki sesi demonstrasi, simulasi, dan studi kasus. Peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif memperhatikan praktik yang diberikan serta berdiskusi dengan tim KKN-T 115 mengenai tindakan yang tepat dalam menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan pada anak.
Suasana kegiatan semakin menarik ketika peserta diajak membahas contoh kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Para ibu turut berinteraksi dengan tim KKN-T 115 dan mencoba memahami langkah yang tepat ketika menghadapi anak yang tersedak, mengalami demam kejang, terkena luka bakar, maupun mengalami cedera akibat jatuh. Penyampaian materi yang dilakukan secara santai, sederhana, dan interaktif membuat kegiatan terasa lebih menyenangkan sekaligus memudahkan peserta dalam memahami materi yang diberikan.
Melalui kegiatan sosialisasi, demonstrasi, simulasi, dan studi kasus ini, Tim KKN-T 115 Universitas Diponegoro berharap masyarakat Desa Sawit, khususnya para ibu, dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dalam menghadapi kegawatdaruratan dasar pada anak. Edukasi yang diberikan diharapkan dapat membantu masyarakat memberikan respons awal yang cepat, tepat, dan aman sesuai dengan kemampuan sebelum mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKN-T 115 Universitas Diponegoro dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat Desa Sawit. Dengan penyampaian informasi yang jelas, relevan dengan kebutuhan masyarakat, menarik, interaktif, dan mudah dipraktikkan, diharapkan pesan edukasi pertolongan pertama tidak hanya dipahami selama kegiatan berlangsung, tetapi juga dapat diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip tersebut sejalan dengan materi dalam kegiatan yang menekankan pentingnya komunikasi efektif agar informasi kesehatan benar-benar dipahami dan mendorong tindakan nyata.
Dengan adanya kegiatan ini, Tim KKN-T 115 Universitas Diponegoro berharap dapat turut membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan pada anak serta menciptakan lingkungan keluarga yang lebih aman bagi tumbuh kembang anak-anak di Desa Sawit.
- Raditya Adjie Pratama
- Tim Publikasi KKN-T 115, Universitas Diponegoro, Desa Sawit
- Setuju








