Sampah Jadi Perhatian di Desa Banaran, KKN-R Tim II UNDIP Ajak Siswa “Pilah Sampahmu, Selamatkan Bumi”

Program Multidisiplin 4 Pengelolaan Sampah

JATENG.NET, SRAGEN — Persoalan sampah menjadi salah satu perhatian di Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen. Kondisi tersebut mendorong KKN-R Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) untuk mengambil langkah edukasi sejak lingkungan sekolah melalui Program Multidisiplin 4 “Bank Sampah Sekolah Kita: Pilah Sampahmu, Selamatkan Bumi, Buat Sekolah Kita Asri!” yang dilaksanakan di SDN Banaran 03 pada Senin (10/8/2026).

Pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga dengan kebiasaan masyarakat dalam memilah dan memperlakukan sampah. Karena itu, pembiasaan sejak usia sekolah menjadi salah satu langkah penting untuk mengenalkan cara memilah, mengurangi, dan mengelola sampah dengan benar. Melalui program ini, siswa tidak hanya diajak mengetahui bahwa sampah merupakan persoalan lingkungan, tetapi juga memahami tindakan sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Program tersebut dilaksanakan oleh Bunga Kanahaya Hapsari, mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNDIP, sebagai bagian dari kegiatan KKN-R Tim II UNDIP di Desa Banaran. Poster edukasi digunakan sebagai media informasi yang dapat dibaca secara langsung oleh siswa, guru, maupun warga sekolah. Poster berjudul “Bank Sampah Sekolah Kita: Pilah Sampahmu, Selamatkan Bumi, Buat Sekolah Kita Asri!” memuat informasi mengenai aturan pengelolaan sampah yang berlaku. Dasar hukum yang dicantumkan meliputi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, Peraturan Daerah Kabupaten Sragen Nomor 2 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Sampah, serta Peraturan Bupati Nomor 72 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Informasi tersebut disajikan dalam bentuk yang ringkas dan mudah dipahami. Siswa diperkenalkan dengan larangan membuang sampah sembarangan, larangan membakar sampah, kewajiban memilah sampah, serta sanksi dan ketentuan yang berlaku dalam pengelolaan sampah. Tidak berhenti pada penyampaian aturan, poster juga menjelaskan penerapan bank sampah di lingkungan sekolah. Sampah dipilah menjadi dua jenis, yaitu organik dan anorganik. Sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik dapat dikumpulkan dan disetorkan ke Bank Sampah Desa Banaran untuk dimanfaatkan atau didaur ulang.

Siswa dan guru juga diajak menerapkan kebiasaan sederhana untuk mengurangi sampah sekali pakai, seperti membawa tumbler dan kotak makan. Selain itu, warga sekolah didorong untuk menjaga fasilitas bank sampah serta membiasakan kerja bakti dan piket kelas sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Program ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 atau Quality Education. Pendidikan berkualitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Melalui edukasi pengelolaan sampah, siswa mendapatkan pembelajaran praktis mengenai kepedulian lingkungan dan kebiasaan hidup yang lebih bertanggung jawab.

Poster kemudian dipasang pada area yang mudah dilihat dan diakses oleh warga sekolah SDN Banaran 03. Dengan demikian, pesan mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah dapat terus dibaca dan diingat, sekaligus mendukung penerapan program bank sampah di lingkungan sekolah.

Guru SDN Banaran 03, Ibu Inti, menyambut baik keberadaan poster tersebut sebagai media edukasi bagi siswa. “Poster ini bisa menjadi media edukasi di sekolah karena anak-anak dapat melihat dan membaca langsung bagaimana cara memilah sampah dan menjaga kebersihan. Harapannya, anak-anak bisa terbiasa memilah sampah sejak di sekolah dan menerapkannya juga di rumah,” ujar Ibu Inti.

Melalui Program Multidisiplin 4 tersebut, KKN-R Tim II UNDIP berharap edukasi mengenai pengelolaan sampah dapat terus diterapkan setelah kegiatan KKN selesai. Kebiasaan memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menjaga kebersihan, serta memanfaatkan sampah sesuai jenisnya diharapkan dapat menjadi bagian dari keseharian siswa. Dimulai dari sekolah, kebiasaan tersebut diharapkan dapat dibawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan keterlibatan siswa, guru, orang tua, serta masyarakat, upaya menghadapi persoalan sampah di Desa Banaran dapat dilakukan secara bertahap sekaligus mendukung terciptanya pendidikan yang berkualitas dan lingkungan sekolah yang lebih bersih serta asri.

 

  • Bunga Kanahaya Hapsari
  • Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!