JATENG.NET, Purwokerto — Jam istirahat kuliah, dan perpustakaan uin prof. K.h. saifuddin zuhri seharusnya ramai. Tapi yang ada justru sebaliknya. Pintu terbuka, lampu menyala, rak-rak buku penuh dan hampir tidak ada yang membaca. Kursi-kursi di depan koleksi buku dibiarkan kosong, sementara di lobi dan teras luar, mahasiswa bergerombol dengan ponsel di tangan masing-masing. Bukan pemandangan yang mengejutkan lagi, sebetulnya. Sudah terlalu sering terlihat, sampai tidak ada yang merasa perlu mempertanyakannya. Dan mungkin itulah yang justru paling mengkhawatirkan.
Perpustakaan Ada, Pembaca Tidak
Kalau bicara soal koleksi, perpustakaan uin saizu tidak bisa dibilang kurang. Ribuan judul tersedia literatur keislaman, ilmu sosial, hukum, pendidikan semuanya ada. Tapi koleksi yang lengkap ternyata tidak otomatis menghadirkan pembaca. Mahasiswa memang masih datang, tapi kedatangan mereka punya agenda yang berbeda. Ada yang numpang istirahat. Ada yang perlu mencetak berkas. Ada yang sekadar butuh meja untuk mengerjakan tugas daring yang sebenarnya tidak butuh satu pun buku di sekitarnya. Buku-buku di rak sudah lama tidak berpindah tempat. Beberapa terlihat kusam bukan karena sering dipakai, tapi justru sebaliknya, terlalu lama diam tanpa tangan yang menyentuhnya.
Buka Ai Lebih Gampang
Tetuko tertawa kecil ketika pertanyaan itu dilontarkan kapan terakhir kali ia membaca buku sampai tuntas? Mahasiswa semester dua Program Studi Pendidikan Agama Islam itu tidak berusaha menutupinya. Jujur, sudah lama banget. Kalau ada materi kuliah, saya cari ringkasannya di Ai atau buka grup whatsapp kelas. Lebih cepat nangkapnya, akunya santai, saat ditemui di dalam ruangan lembaga kemahasiswaan Fakultas Tarbiyah, Selasa (23/6). Tidak jauh dari sana, Irham berdiri mendengarkan lalu mengangguk. Mahasiswa pendidikan guru madrasah ibtidaiyah semester dua itu mengaku satu-satunya buku yang ia baca penuh dalam setahun terakhir adalah buku wajib dan itupun dibaca terburu-buru sehari sebelum ujian. Setelah ujian selesai, buku itu kembali ke tas dan tidak dibuka lagi. Yang membuat kondisi ini berat bukan sekadar kebiasaannya tapi kenyataan bahwa keduanya tidak merasa ada yang salah dari sana. Itu masalah yang jauh lebih dalam.
Ironi di Kampus Berbasis Nilai
Di sinilah konteks menjadi penting. Uin saizu bukan kampus biasa dalam pengertian yang paling sederhana sekalipun. Kampus ini lahir dari rahim tradisi keilmuan Islam tradisi yang sejak berabad-abad lalu tidak pernah memisahkan antara membaca, mengkaji, dan beribadah. Iqra’ bukan sekadar perintah membaca dalam arti sempit ia adalah fondasi peradaban. Dan kata itu, dalam berbagai bentuk pengingatnya, seharusnya hidup di setiap sudut kampus yang menyandang nama seorang ulama besar. Tetuko salah satu mahasiswa aktif di uin saizu, tidak menyembunyikan kegelisahannya. kata nya kampus desa mendunia akan tetapi mahasiswa nya enggan terhadap bacaan-bacaan seperti buku, jurnal, artikel, dan lain-lain, katanya, dan ada bobot yang berat di balik kalimat itu bukan kemarahan, tapi sesuatu yang lebih mirip keprihatinan yang sudah lama ditahan.
Data yang Berbicara Sendiri
Irham M. Zuhair, sebagai mahasiswa program studi pendidikan guru madrasah ibtidaiyah uin saizu, tidak perlu menduga-duga. Tren peminjaman buku fisik terus menurun dalam beberapa bulan terakhir, dan penurunannya bukan tipis-tipis. Mahasiswa yang benar-benar meminjam untuk dibaca bukan sekadar difoto sampulnya demi bukti tugas semakin hari semakin sedikit. Sudah banyak yang dicoba, aksara, gempita, bedah buku. Semuanya berjalan, tapi antusiasmenya tidak pernah sebanding dengan yang diharapkan. Yang paling menyedihkan, buku-buku hadiah dari alumni dan donasi yang bagus-bagus itu masih bersih. Belum ada yang benar-benar memanfaatkannya, katanya pelan. Ada kelelahan yang tersirat di sana, tapi juga kegigihan yang belum padam.
Komunitas Kecil di Tengah Arus Besar
Tapi tidak semua mahasiswa hanyut begitu saja. Di taman kampus, setiap satu minggu dua kali, ada sekelompok kecil yang sengaja duduk melingkar dengan buku di tangan. mereka adalah garasi dan aksara, lingkar baca kecil yang tumbuh dari inisiatif beberapa mahasiswa Fakultas Tarbiyah, tanpa sk, tanpa anggaran, dan tanpa siapa pun yang meminta mereka melakukannya. Anggota tetapnya belum sampai dua puluh orang. A. Rozaq , salah satu yang ikut serta dalam forum membaca tersebut, mengaku sudah terbiasa dipandang aneh. Kadang diledek, ‘ngapain capek-capek baca buku, toh nanti juga lupa.’ Tapi kami tetap jalan. Karena kami percaya, orang yang terbiasa membaca akan berpikir dengan cara yang berbeda, ujarnya. Kecil, tapi nyata. Dan kadang, yang kecil itulah yang paling bertahan lama.
Langkah yang Harus Lebih dari Sekadar Wacana
Beberapa pihak di uin saizu mulai bergerak atau paling tidak, mulai serius membicarakan gerakan. Ada usulan agar dosen mewajibkan mahasiswa membaca satu buku per semester di luar referensi wajib, lengkap dengan laporan refleksi sebagai bagian dari penilaian. Ada pula gagasan yang lebih mengakar: menghidupkan kembali tradisi halaqah membaca forum kajian teks yang dulu jadi tulang punggung pesantren-pesantren besar dalam format yang lebih sesuai dengan ritme kampus modern. Apakah ini akan benar-benar berjalan, atau hanya akan tinggal sebagai dokumen rapat?
Itu yang masih perlu dijawab. Tapi satu hal sudah tidak bisa ditawar lagi, kampus yang berdiri di atas tradisi ilmu tidak boleh membiarkan mahasiswanya lulus tanpa pernah benar-benar mengenal buku. Gelar memang bisa diraih dengan hafalan dan trik ujian. Tapi kebijaksanaan yang seharusnya jadi tujuan dari semua ini hanya datang dari membaca, merenung, dan memahami secara sungguh-sungguh. Dan itu tidak bisa disingkat dengan cara apa pun.
