Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Diponegoro Tahun 2026 Tanamkan Budaya 5S Sejak Dini kepada Siswa Sekolah Dasar di Desa Sriwulan

Mahasiswa Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) 138 Laksanakan Edukasi Budaya 5S kepada Siswa Sekolah Dasar di Desa Sriwulan

KENDAL – Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Diponegoro Tahun 2026 kelompok Manajemen dan Pemasaran menggelar kegiatan edukasi penerapan budaya 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) kepada siswa SD Negeri Sriwulan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Kegiatan yang menyasar pada kegiatan sosial kemasyarakatan ini berlangsung di ruang kelas di SDN Sriwulan, dengan sasaran utama siswa kelas 4 dan 5.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa Universitas Diponegoro (PMM Undip), yang didanai oleh Dana Kemdiktisaintek Berdampak Tahun Pendanaan 2026. Program ini dilaksanakan sebagai wujud dukungan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penanaman nilai kedisiplinan dan kebiasaan hidup tertib sejak usia dini, serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pembentukan kebiasaan menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan belajar.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi lingkungan Desa Sriwulan yang secara umum sudah tergolong bersih dan tertata, sebagai bagian dari kebiasaan hidup masyarakat desa yang menjunjung kerapian dan kebersihan lingkungan sekitar. Kondisi ideal ini dinilai perlu terus dijaga keberlanjutannya, salah satunya dengan menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan kebersihan sejak usia dini kepada generasi penerus desa. Oleh karena itu, mahasiswa memandang penting untuk memperkenalkan budaya 5S kepada siswa Sekolah Dasar, agar kebiasaan menjaga kerapian dan kebersihan yang telah menjadi ciri khas lingkungan Desa Sriwulan dapat terus diwariskan dan tertanam kuat sejak dini, tidak hanya di lingkungan rumah dan desa, tetapi juga di lingkungan sekolah.

Materi yang Disampaikan

Dalam kegiatan edukasi ini, mahasiswa menyampaikan konsep 5S secara bertahap, yaitu Seiri (ringkas), yang mengajarkan siswa untuk memilah barang yang masih diperlukan dan tidak. Selain itu terdapat Seiton (rapi), berupa cara menata buku dan alat tulis agar mudah ditemukan. Konsep ketiga adalah Seiso (resik), yakni praktik membersihkan area kelas dan peralatan belajar. Konsep keempat adalah Seiketsu (rawat), yaitu upaya menjaga konsistensi kerapian dan kebersihan yang telah dibangun. Konsep terakhir ada Shitsuke (rajin), yang menekankan pembiasaan kelima prinsip tersebut sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari. Materi disampaikan melalui penjelasan sederhana yang disertai ilustrasi visual berupa poster 5S bergambar, agar konsep yang cukup abstrak bagi anak-anak dapat lebih mudah dipahami. 

Luaran Program

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan edukasi, mahasiswa PMM Universitas Diponegoro 2026 menyerahkan sejumlah luaran program kepada pihak sekolah, yaitu:

  • Poster 5S bergambar, sebagai media edukasi visual yang dapat ditempel di ruang kelas untuk mengingatkan siswa secara berkelanjutan.
  • Hadiah jawaban pada akhir pemaparan berupa tempat pensil yang mendukung 5S di kelas
  • Dokumentasi kegiatan, sebagai bahan laporan dan arsip pelaksanaan program.

Refleksi dan Dampak Kegiatan

Mahasiswa kelompok PMM Universitas Diponegoro 2026 melakukan pengamatan langsung terhadap antusiasme dan pemahaman siswa selama kegiatan berlangsung. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa mampu mengikuti penjelasan materi dengan baik, ditandai dengan keaktifan mereka dalam sesi tanya jawab serta kesungguhan dalam mempraktikkan langsung penataan dan pembersihan area kelas. Antusiasme yang tinggi terlihat khususnya saat siswa diajak mempraktikkan langsung kegiatan menata buku dan membersihkan lingkungan kelas mereka sendiri.

Dari sisi pelaksanaan, mahasiswa mencatat bahwa penyampaian materi melalui media visual seperti poster bergambar cukup efektif untuk menarik perhatian dan mempermudah pemahaman siswa terhadap konsep 5S yang abstrak. Namun demikian, keterbatasan waktu pelaksanaan menjadi catatan evaluasi tersendiri, mengingat pembentukan kebiasaan (habit forming) memerlukan pembiasaan yang berkelanjutan dan tidak cukup hanya melalui satu kali kegiatan edukasi.

Secara keseluruhan, hasil kegiatan ini menegaskan bahwa edukasi budaya 5S berhasil menumbuhkan kesadaran awal siswa SDN Sriwulan mengenai pentingnya kerapian dan kebersihan lingkungan belajar, sekaligus menjadi bahan refleksi bagi mahasiswa PMM Universitas Diponegoro untuk menyempurnakan pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat selanjutnya, khususnya dalam merancang program edukasi anak yang berkelanjutan.

  • Atha Hana Nabilah
  • Mahasiswa Program Studi S1 Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro. Pelaksana Program PMM Universitas Diponegoro Tahun 2026
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!