Olah Limbah Slurry Biogas, Mahasiswa KKN-T Undip Tim 139 Ciptakan Pupuk Cair Bioslurry Organic di Desa Sepakung

Gambar: Penyerahan Bioslurry Organic dari Tim KKNT-139 Universitas Diponegoro kepada Ketua Kelompok Tani Sido Makmur VI.

SEMARANG Tim KKN-T 139 Universitas Diponegoro menciptakan pupuk cair organik bernama “Bioslurry Organic” yang bahan utamanya diambil dari limbah slurry biogas. Produk ini merupakan hasil kerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan telah diuji coba langsung pada bibit tanaman cabai untuk mengetahui seberapa efektif produk tersebut dalam menyuburkan tanaman.

Inovasi ini digagas oleh Tim Monitoring dan Pengelolaan Energi KKN-T 139 Undip yang bertugas mengawasi jalannya pengelolaan energi biogas di Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Bahan baku slurry diambil dari instalasi biogas di Dusun Srandil, yang selama ini dikelola oleh Kelompok Tani Sido Makmur VI dan dimanfaatkan warga sebagai sumber energi alternatif untuk memasak, dengan bahan baku kotoran ternak sapi milik anggota kelompok tani.

Persoalannya, hasil samping dari proses produksi biogas berupa limbah slurry selama ini belum dikelola secara maksimal. Limbah tersebut kerap dibiarkan menumpuk. Padahal, endapan slurry yang terus menumpuk pada instalasi biogas berpotensi mengurangi kapasitas dan efisiensi pengolahan biogas, sehingga produksi gas yang dihasilkan menjadi kurang maksimal.

Melihat kondisi tersebut, Tim KKN-T 139 Undip berinisiatif mengembangkan metode pengolahan slurry agar limbah biogas dapat memberikan nilai tambah bagi warga, khususnya di sektor pertanian, sekaligus membantu menjaga kinerja instalasi biogas agar tetap berjalan optimal.

Gambar: Pengambilan limbah biogas (slurry) oleh Tim Monitoring dan Pengelolaan Energi KKNT-139 Universitas Diponegoro.

Ketua Kelompok Tani Sido Makmur VI, Judi Arifin, menuturkan bahwa sebenarnya anggota kelompok tani sudah pernah mencoba membuat pupuk cair dari limbah biogas tersebut. Hanya saja, percobaan itu dilakukan tanpa menggunakan campuran bahan tambahan apa pun. “Awalnya dari anggota kelompok tani sendiri sudah mencoba untuk membuat pupuk cair dari limbah tapi tanpa campuran apapun langsung dari limbah cair biogasnya,” kata Judi Arifin.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Tim KKN-T 139 Undip kemudian merumuskan formula baru agar pupuk cair yang dihasilkan lebih matang, aman, dan efektif digunakan. Proses pembuatan dilakukan pada Selasa, 21 Juli 2026, dengan komposisi campuran 75 persen air, 20 persen slurry, 2,5 persen EM4, dan 2,5 persen molase. Campuran tersebut lalu difermentasi selama kurang lebih tujuh hari untuk menghilangkan kandungan gas metana yang masih terdapat dalam slurry, sehingga pupuk yang dihasilkan lebih aman saat diaplikasikan ke tanaman.

Setelah proses fermentasi selesai, pupuk cair yang diberi nama Bioslurry Organic ini diujicobakan langsung pada bibit tanaman cabai untuk melihat sejauh mana efektivitasnya dalam menyuburkan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman. Produk yang dikemas dalam botol berukuran 600 ml ini diklaim mampu menyuburkan sekaligus memperbaiki struktur tanah, meningkatkan hasil panen secara alami, dan ramah lingkungan karena aman bagi mikroba tanah.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa bibit cabai yang diberi pupuk cair Bioslurry Organic tumbuh lebih baik dibandingkan bibit cabai yang tidak diberi perlakuan serupa. Tanaman yang disiram menggunakan pupuk tersebut terlihat lebih subur, dengan batang dan daun tumbuh lebih optimal. Hal ini menjadi indikasi awal bahwa formula pupuk cair hasil olahan slurry tersebut efektif untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Cara penggunaannya pun terbilang praktis. Bioslurry Organic cukup dituangkan langsung ke tanaman, dengan frekuensi penyiraman sebanyak dua kali sehari. Selain diaplikasikan pada tanaman cabai, produk ini juga berpotensi dikembangkan untuk berbagai jenis tanaman lain, baik tanaman pangan maupun tanaman hortikultura, mengingat kandungan unsur hara alami dalam slurry cukup lengkap untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara umum. Bioslurry Organic diharapkan dapat menjadi solusi pengolahan limbah biogas yang mudah diterapkan oleh warga secara mandiri, sekaligus membuka peluang bagi kelompok tani untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Setelah melalui rangkaian proses pembuatan, fermentasi, dan uji coba pada bibit tanaman cabai, pada Selasa, 11 Agustus 2026, Tim Monitoring dan Pengelolaan Energi KKN-T 139 Undip secara resmi menyerahkan hasil pupuk cair Bioslurry Organic kepada Judi Arifin selaku Ketua Kelompok Tani Sido Makmur VI. Penyerahan ini menjadi bentuk tindak lanjut dari program pemanfaatan limbah biogas yang telah dijalankan di Desa Sepakung.

Melalui inovasi ini, Tim KKN-T 139 Undip berharap dapat meningkatkan nilai guna limbah biogas yang dihasilkan dari aktivitas peternakan warga Desa Sepakung, sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Lebih jauh lagi, langkah ini juga diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan endapan slurry yang selama ini mengganggu kinerja instalasi biogas, sehingga produksi energi biogas di Desa Sepakung dapat kembali berjalan secara optimal.

(Reportase/Tim KKN-T Undip 139)

  • Tim KKNT-139 Universitas Diponegoro
  • Universitas Diponegoro
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!