Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Edukasi Warga Kelurahan Sumurrejo tentang Manfaat Yogurt, Kenalkan Olahan Bunga Telang Madu

JATENG.NET, Semarang — Memilih makanan dan minuman untuk dikonsumsi sehari-hari tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga perlu mempertimbangkan kandungan gizi dan manfaatnya bagi tubuh. Pemahaman mengenai pilihan pangan tersebut menjadi salah satu hal yang dikenalkan mahasiswa KKN – T 99 Lumintu Universitas Diponegoro (Undip) kepada masyarakat Kelurahan Sumurrejo.

Melalui program bertema “Peningkatan Pengetahuan Masyarakat tentang Manfaat dan Ragam Jenis Yogurt sebagai Bagian dari Pola Konsumsi Sehat”, empat mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Undip, termasuk Lintang Abhista, mengajak masyarakat mengenal yogurt secara lebih dekat. Kegiatan yang berlangsung di Balai Kelurahan Sumurejo, Sabtu (8/8/2026), tersebut diikuti oleh 40 orang dari KTT Rejeki Lumintu, KWT Berkah Tulip, serta ibu-ibu PKK RW 04 dan RW 03. Program ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk berkontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pangan dan pola konsumsi yang lebih sehat.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan pada manfaat yogurt, tetapi juga diajak memahami bahwa yogurt memiliki beragam karakteristik. Mahasiswa menjelaskan kandungan gizi yogurt serta memperkenalkan tiga jenis yogurt berdasarkan karakteristik konsistensinya, yakni drinkable yogurt, stirred yogurt, dan set yogurt.

Pengetahuan tersebut penting karena pilihan yogurt di pasaran memiliki karakteristik yang berbeda. Dengan memahami perbedaan tersebut, masyarakat dapat lebih mengenali produk yang dikonsumsi sekaligus mempertimbangkan jenis yogurt yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumsi sehari-hari.

Agar materi tidak berhenti pada penyampaian teori, mahasiswa kemudian melanjutkannya dengan demonstrasi pembuatan yogurt bunga telang madu.

Bunga telang dipilih sebagai bahan yang memberikan warna alami sekaligus menghadirkan variasi dalam penyajian yogurt. Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa memperlihatkan tahapan pengolahan mulai dari persiapan bahan dan alat hingga proses awal fermentasi.

Susu sapi sebanyak satu liter terlebih dahulu disiapkan bersama bunga telang, starter yogurt plain, madu, serta sejumlah peralatan seperti panci, centong sayur, toples kaca, kain penutup, kompor, dan sendok. Sebelum digunakan, peralatan terlebih dahulu disanitasi menggunakan air panas.

Susu kemudian dipanaskan dan bunga telang dimasukkan selama beberapa saat untuk menghasilkan warna dan karakter dari bahan tersebut. Setelah itu, bunga telang dipisahkan dengan cara menyaring susu. Susu yang telah disaring kemudian dipindahkan ke dalam toples kaca dan dibiarkan hingga mencapai suhu hangat kuku, sekitar 40°C. Pada kondisi tersebut, dua sendok makan Biokul Plain sebagai starter yogurt ditambahkan sebelum wadah ditutup dan dibungkus menggunakan kain. Mahasiswa menjelaskan bahwa tahap berikutnya adalah fermentasi selama kurang lebih delapan jam hingga yogurt terbentuk. Karena proses tersebut membutuhkan waktu, demonstrasi di lokasi dilakukan hingga tahap persiapan fermentasi, sementara tahapan setelahnya dijelaskan kepada peserta. Madu ditambahkan setelah yogurt selesai difermentasi. Cara tersebut memungkinkan tingkat kemanisan disesuaikan setelah yogurt terbentuk, sekaligus menghindari pemanasan madu dalam waktu yang terlalu lama.

Demonstrasi tersebut kemudian berkembang menjadi diskusi. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan seputar bagaimana menghasilkan yogurt dengan tekstur yang lebih padat, bagaimana memperoleh rasa yang lebih asam, serta alasan madu tidak langsung dicampurkan ketika susu sedang dipanaskan.

Pertanyaan mengenai tekstur dan tingkat keasaman menjadi pembahasan yang relevan karena karakter akhir yogurt dipengaruhi oleh proses pembuatannya. Mahasiswa menjelaskan bahwa tekstur yang lebih padat dapat dipengaruhi oleh komposisi bahan dan proses pengolahan, sedangkan tingkat keasaman berkaitan antara lain dengan proses dan lama fermentasi. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai alasan madu ditambahkan setelah proses fermentasi, bukan ketika susu sedang dipanaskan.

Interaksi tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga dapat menghubungkan informasi yang diberikan dengan pengalaman dan kebutuhan mereka dalam mengolah pangan.

Setelah seluruh materi dan demonstrasi selesai, mahasiswa melakukan evaluasi sederhana melalui sesi tanya jawab. Tiga pertanyaan diajukan kembali kepada peserta untuk mengetahui sejauh mana materi yang telah disampaikan dapat dipahami. Seluruh pertanyaan tersebut berhasil dijawab dengan benar oleh peserta.

Sebagai penutup, setiap ibu peserta memperoleh satu botol yogurt bunga telang madu yang telah disiapkan oleh tim mahasiswa. Yogurt tersebut kemudian dicicipi bersama peserta sehingga mereka dapat merasakan secara langsung produk yang sebelumnya diperkenalkan melalui materi dan demonstrasi.

Kegiatan ini membuat pembelajaran mengenai yogurt berlangsung dalam dua sisi sekaligus: peserta memperoleh pengetahuan mengenai manfaat dan ragam yogurt, sekaligus melihat secara langsung bagaimana salah satu variasi yogurt dapat dibuat dan dikembangkan. Bagi mahasiswa Teknologi Pangan, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan mengenai pangan dalam konteks yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Sementara bagi peserta, edukasi tersebut memberikan tambahan wawasan untuk mengenali yogurt, memahami karakteristiknya, serta mempertimbangkan yogurt sebagai salah satu pilihan dalam pola konsumsi sehari-hari.

Penulis: Lintang Abhista
Mahasiswa Universitas Diponegoro

Butuh bantuan? Chat kami!