Mahasiswa KKN Undip Edukasi Bahaya dan Cara Aman Menggunakan Listrik kepada Siswa SD Negeri 1 Jetis

Foto bersama rekan-rekan Kelompok KKN 13, dan siswa SD Negeri 1 Jetis usai kegiatan sosialisasi

Putra Bagastiar, mahasiswa Program Studi Teknik Listrik Industri, Sekolah Vokasi, Universitas Diponegoro, yang tergabung dalam Kelompok KKN 13, menggelar kegiatan sosialisasi dan edukasi bertajuk “Cerdas dan Aman Bersama Listrik” di SD Negeri 1 Jetis, Desa Jetis, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, pada Selasa, 29 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan program kerja individu Sosial Masyarakat yang menyasar seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, dengan jumlah peserta sekitar 80 anak.

Program kerja ini digagas secara mandiri oleh saya sebagai bagian dari program kerja individu Sosial Masyarakat dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan ini didasari oleh masih rendahnya pemahaman anak usia sekolah dasar mengenai risiko bahaya listrik, seperti tersengat listrik, korsleting, dan kebakaran, serta kebiasaan boros listrik yang belum disadari sejak dini.

Sosialisasi dilaksanakan dengan metode ceramah interaktif yang dipadukan dengan kuis dan simulasi sederhana agar mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Materi dibuka dengan pengenalan konsep dasar listrik dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, sebelum masuk ke pembahasan risiko dan cara penggunaannya yang aman.

Salah satu bagian yang paling menarik antusiasme siswa adalah sesi kuis “Tebak Gambar Kilat”, di mana siswa diajak menebak apakah suatu kondisi kelistrikan dalam gambar tergolong aman atau berbahaya. Kuis ini digunakan untuk mengenalkan perbedaan antara kabel yang masih layak pakai dengan kabel yang sudah terkelupas dan berbahaya, serta risiko dari colokan listrik yang ditumpuk secara berlebihan.

Materi inti kegiatan mencakup empat hal utama. Pertama, pengenalan alat-alat listrik yang biasa digunakan sehari-hari, seperti kipas angin, charger, lampu, dan televisi, beserta penjelasan bahwa listrik bersifat berguna namun dapat berbahaya jika salah digunakan.

Kedua, ciri-ciri kabel yang aman dan kabel yang berbahaya. Siswa diajarkan bahwa kabel aman ditandai dengan pembungkus yang masih utuh, tidak terkelupas, dan tidak retak, sementara kabel berbahaya biasanya memperlihatkan kawat tembaga, terkelupas, sobek, atau bekas gigitan tikus.

Ketiga, penjelasan mengenai penyebab terjadinya korsleting listrik, yang dibedakan antara kondisi rangkaian yang aman (kabel terpasang dengan baik, tidak ada kabel rusak atau saling bersentuhan) dan rangkaian yang berbahaya (kabel terkelupas dan saling bersentuhan, kabel putus sebagian, atau kabel yang sudah rusak).

Keempat, edukasi mengenai bahaya penggunaan colokan atau terminal listrik yang berlebihan. Siswa diingatkan untuk tidak menumpuk banyak steker pada satu colokan karena berisiko memicu panas berlebih dan kebakaran, serta tidak memegang colokan dalam keadaan tangan basah.

Sebagai penutup materi dasar, mahasiswa KKN turut menyampaikan ajakan hemat listrik, seperti mematikan lampu, kipas angin, televisi, dan mencabut charger saat tidak digunakan. Disampaikan pula manfaat hemat listrik, mulai dari penghematan tagihan, menjaga lingkungan, hingga menjaga keamanan rumah dari risiko kebakaran akibat beban listrik berlebih. Rangkaian materi ditutup dengan empat pesan kunci yang diulang agar mudah diingat siswa: tidak menyentuh kabel terkelupas, tidak menumpuk banyak colokan, tidak memegang colokan dengan tangan basah, serta mematikan listrik saat tidak digunakan.

Untuk mendukung penyampaian materi, Saya menyiapkan materi bergambar dalam bentuk slide presentasi, untuk mengukur pemahaman siswa sebelum dan sesudah kegiatan, dokumentasi kegiatan. Dalam pelaksanaannya, saya turut dibantu oleh rekan-rekan satu kelompok KKN untuk kebutuhan dokumentasi dan koordinasi teknis di lapangan.

Saya selaku penanggung jawab program menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya keselamatan dalam menggunakan listrik sekaligus menumbuhkan kebiasaan hemat energi sejak usia dini. Melalui kombinasi ceramah, kuis interaktif, dan simulasi sederhana, siswa diharapkan tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.

Dengan sasaran yang mencakup seluruh jenjang kelas 1 sampai kelas 6, program ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak siswa SD Negeri 1 Jetis sekaligus menanamkan pemahaman dasar mengenai bahaya listrik sejak dini, sehingga risiko kecelakaan listrik di lingkungan rumah dan sekolah dapat diminimalkan.

  • Putra Bagastiar
  • Mahasiswa Program Teknik Listrik Industri
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!