Mahasiswa KKN UNDIP Ajak Warga Desa Sawit Olah Sisa Sayuran
JATENG.NET, Sawit, Klaten – 26 Juli 2026. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 115 Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan pelatihan pembuatan eco enzyme bagi warga Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno, Sabtu (26/7/2026). Kegiatan yang diikuti oleh 25 ibu-ibu Arisan RT 03/RW 02 ini berlangsung di Pendopo Taman Tanggul Desa Sawit dan menjadi bagian dari program “Penguatan Sistem Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Masyarakat Melalui Produksi Eco Enzyme untuk Mendukung Ekonomi Sirkular”.
Program ini lahir dari hasil observasi lapangan tim KKN di Desa Sawit. Selama ini pengelolaan sampah anorganik warga sudah berjalan melalui Bank Sampah Flamboyan Bersatu, namun sampah organik rumah tangga seperti kulit buah dan sisa sayuran masih dikelola sendiri-sendiri oleh tiap rumah tangga, sebagian di antaranya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Warga sebenarnya pernah mencoba mengolah limbah organik menjadi pupuk cair, tetapi kegiatan itu terhenti karena kendala pemasaran dan belum adanya sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Melihat kondisi tersebut, tim KKN memilih eco enzyme sebagai alternatif pengolahan sampah organik rumah tangga yang lebih mudah diterapkan dan berpotensi memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi. Melalui pelatihan ini, tim berharap dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam memilah serta mengolah sampah organik, sekaligus mengenalkan prinsip ekonomi sirkular di tingkat rumah tangga.
Dalam pelaksanaannya, 25 peserta dibagi menjadi lima kelompok. Tim KKN lebih dulu memberikan demonstrasi pembuatan eco enzyme menggunakan wadah fermentasi berukuran 15 liter dan 1,5 liter sebagai contoh, mulai dari memilah dan membersihkan kulit buah serta sisa sayuran, memotongnya menjadi bagian kecil, hingga mencampurnya dengan gula merah atau molase dan air dengan perbandingan 3:1:10. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke wadah tertutup yang diberi label tanggal pembuatan dan disimpan di tempat teduh untuk difermentasi selama sekitar tiga bulan. Karena hasil fermentasi tidak bisa langsung terlihat pada hari kegiatan, tim KKN turut membawa contoh eco enzyme yang sudah jadi agar peserta bisa melihat langsung wujud dan ciri-ciri eco enzyme yang baik. Setelah demonstrasi, setiap kelompok mempraktikkan sendiri pembuatan eco enzyme menggunakan wadah 1,5 liter didampingi anggota tim KKN, sebelum akhirnya dibawa pulang oleh perwakilan masing-masing kelompok untuk dilanjutkan proses fermentasinya di rumah.
“Menurut saya, materi mengenai eco enzyme itu sangat bagus dan menarik, meskipun kami beberapa kali sudah mengetahui tentang eco enzyme tapi materi kali ini memberikan gambaran yang lebih jelas pada pemanfaatan dan pengolahan sampah organik,” ujar Ibu Restu, salah satu warga dan peserta acara, 26/07/2026.
Dari kegiatan ini, lima wadah eco enzyme berukuran 1,5 liter dibawa pulang oleh perwakilan kelompok untuk dilanjutkan fermentasinya, ditambah satu wadah masing-masing berkapasitas 15 liter dan 1,5 liter hasil demonstrasi tim KKN. Peningkatan pengetahuan peserta terlihat dari hasil pretest dan post test yang menunjukkan tren positif. Selama kegiatan berlangsung, peserta juga tampak antusias, aktif bertanya dan menjawab, mengikuti demonstrasi dengan saksama, serta terlibat langsung dalam praktik pembuatan eco enzyme sebelum membawa pulang hasil praktiknya masing-masing.
Selama pelaksanaan, tim KKN menghadapi beberapa kendala, di antaranya aroma cukup kuat dari bahan organik selama proses fermentasi, harga gula merah yang relatif mahal, serta hasil praktik yang belum bisa langsung dilihat karena fermentasi membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Untuk mengatasinya, tim memberikan edukasi seputar pemilihan bahan, cara penyimpanan, penggunaan wadah tertutup, serta penempatan di lokasi yang tepat untuk mengurangi aroma yang kurang nyaman, sekaligus menawarkan molase sebagai alternatif gula yang lebih ekonomis. Ke depan, eco enzyme dinilai berpotensi dikembangkan menjadi usaha rumahan warga karena bahan bakunya mudah didapat dari limbah dapur sehari-hari dan proses pembuatannya relatif sederhana, asalkan kualitas produk terjaga, pengemasannya
baik, dan pasarnya ditemukan. S etelah program KKN berakhir, perwakilan kelompok akan melanjutkan proses fermentasi dan perawatan eco enzyme di rumah masing-masing selama kurang lebih tiga bulan, sekaligus diharapkan menularkan pengetahuan yang diperoleh kepada anggota kelompok dan warga sekitar.
Melalui pelatihan ini, tim KKN-T 115 Undip berharap warga Desa Sawit semakin terdorong untuk memilah dan mengolah sampah organik rumah tangga secara mandiri, sehingga eco enzyme dapat tumbuh menjadi kebiasaan baru yang mendukung lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Ditulis oleh: [Rossi Aqilah Yunitama] – Tim Publikasi KKN-T 115, Universitas Diponegoro, Desa Sawit





