Mahasiswa KKN Undip Ajak Anak Gebangkerep Kenali Emosi Melalui Pohon Emosi dan Art Therapy

Pekalongan, 24 Juli 2026 – Mengenali emosi ternyata tidak selalu mudah dilakukan, termasuk bagi anak-anak. Rasa senang, sedih, marah, takut, atau kecewa sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, tetapi terkadang anak masih kesulitan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan dan apa yang membuat perasaan tersebut muncul. Hal inilah yang menjadi perhatian Nabila Rahma Safira, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, dalam melaksanakan program kerja monodisiplin “Bercerita Melalui Warna: Mengenali dan Mengelola Emosi Melalui Art Therapy” kepada anak-anak sekolah dasar di Desa Gebangkerep.

Kegiatan ini dikemas dalam bentuk psikoedukasi yang dibuat lebih dekat dengan dunia anak. Tidak hanya melalui penyampaian materi, anak-anak juga diajak berinteraksi, menjawab pertanyaan, dan melakukan aktivitas kreatif untuk membantu mereka mengenali perasaan sendiri. Materi yang diberikan membahas pengertian emosi, berbagai macam emosi yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana cara sederhana untuk menyikapi emosi. Penyampaian dilakukan menggunakan media presentasi dengan contoh-contoh yang dekat dengan pengalaman anak agar materi lebih mudah dipahami.

Pada awal kegiatan, anak-anak diajak mengenal terlebih dahulu mengenai apa itu emosi. Mereka diberikan beberapa contoh sederhana dari kejadian yang mungkin pernah dialami sehari-hari. Mendapatkan hadiah dapat membuat seseorang merasa senang, mainan yang rusak dapat membuat sedih, diejek teman dapat membuat marah, sedangkan mendengar suara petir dapat menimbulkan rasa takut. Dari contoh tersebut, anak-anak kemudian diajak mengenal enam emosi dasar, yaitu senang, sedih, marah, terkejut, takut, dan jijik.

Agar suasana tidak hanya berisi penyampaian materi, anak-anak juga diajak bermain tebak emosi. Beberapa situasi sederhana diberikan, kemudian mereka diminta menebak emosi apa yang mungkin dirasakan seseorang. Misalnya ketika kehilangan penghapus kesayangan, melihat kecoa terbang, atau ketika ada teman yang mengambil pensil tanpa izin. Melalui contoh seperti ini, anak-anak mulai diajak menghubungkan suatu kejadian dengan perasaan yang dapat muncul setelahnya.

Di sela kegiatan, Nabila juga menyampaikan bahwa sebenarnya tidak ada emosi yang salah untuk dirasakan. Anak-anak boleh merasa marah, sedih, takut, kecewa, maupun senang. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mereka menyikapi perasaan tersebut. Anak hebat bukan berarti anak yang tidak pernah marah atau sedih, tetapi anak yang dapat mengenali perasaannya, mengungkapkannya, menenangkan diri, dan memilih tindakan yang baik.

Setelah anak-anak memahami materi dasar mengenai emosi, kegiatan kemudian masuk ke bagian yang lebih dekat dengan pengalaman mereka sendiri melalui Pohon Emosi. Setiap anak diberikan selembar kertas dan diminta menuliskan emosi yang sedang mereka rasakan pada saat itu. Tidak hanya menuliskan perasaannya, mereka juga diminta menjelaskan alasan mengapa perasaan tersebut muncul. Setelah selesai, kertas tersebut kemudian ditempelkan pada pohon yang sudah disiapkan.

Satu per satu anak menempelkan tulisan mereka pada Pohon Emosi. Pohon yang sebelumnya masih kosong perlahan mulai dipenuhi berbagai macam cerita mengenai perasaan mereka. Aktivitas ini menjadi salah satu bagian yang menarik karena anak-anak tidak hanya belajar menyebutkan nama emosi, tetapi juga mulai mencoba menghubungkan perasaan tersebut dengan pengalaman yang mereka alami. Mereka diajak untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Aku sedang merasa apa?” dan “Kenapa aku merasa seperti ini?”

Pohon Emosi juga menunjukkan bahwa setiap anak dapat merasakan hal yang berbeda. Dalam satu kegiatan yang sama, setiap anak bisa saja memiliki perasaan yang tidak sama dengan temannya. Hal tersebut kemudian menjadi bagian dari pembelajaran bahwa setiap perasaan merupakan hal yang wajar dan setiap orang memiliki pengalaman masing-masing yang dapat memengaruhi perasaannya.

Setelah menuliskan perasaan melalui Pohon Emosi, anak-anak juga diajak untuk mengekspresikan emosi melalui kegiatan berbasis art therapy. Penggunaan warna menjadi bagian penting dalam kegiatan “Bercerita Melalui Warna” karena anak-anak terkadang belum mudah menjelaskan perasaan mereka hanya melalui kata-kata. Melalui warna dan gambar, mereka diberikan cara lain untuk bercerita dan mengekspresikan apa yang sedang dirasakan. Materi kegiatan juga mengenalkan bahwa warna dan gambar dapat membantu seseorang ketika mengalami kesulitan dalam menjelaskan perasaannya.

Dengan begitu, kegiatan tidak berhenti pada anak mengetahui bahwa ada enam emosi dasar. Anak-anak juga diberikan kesempatan untuk melihat emosi tersebut dari pengalaman mereka sendiri. Mereka belajar bahwa ketika sedang marah, sedih, takut, atau senang, perasaan tersebut dapat dikenali terlebih dahulu sebelum kemudian menentukan bagaimana cara menyikapinya.

Melalui kegiatan yang sederhana tersebut, Nabila berupaya mengenalkan bahwa berbicara mengenai emosi tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang serius. Anak-anak dapat belajar mengenai dirinya melalui kegiatan yang mereka sukai, seperti menulis, bermain, menggambar, dan menggunakan warna. Pendekatan tersebut membuat pembahasan mengenai emosi terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Program “Bercerita Melalui Warna” diharapkan dapat membantu anak-anak di Desa Gebangkerep untuk mulai terbiasa mengenali perasaan mereka sendiri. Tidak hanya mengetahui apakah mereka sedang senang atau sedih, tetapi juga mulai memahami alasan di balik perasaan tersebut dan belajar mengungkapkannya dengan cara yang lebih positif.

Bagi Nabila, kemampuan mengenali emosi merupakan hal sederhana yang dapat mulai dilatih sejak kecil. Anak tidak harus selalu bisa menjelaskan perasaannya dengan sempurna. Yang paling penting adalah memberikan mereka ruang untuk mencoba mengenali dan menceritakan apa yang sedang dirasakan.

Pada akhirnya, sebuah kertas kecil yang ditempelkan di Pohon Emosi bukan hanya menjadi bagian dari kegiatan. Di balik tulisan tersebut, ada cerita dan perasaan masing-masing anak yang mungkin sebelumnya belum sempat mereka ungkapkan. Melalui warna, tulisan, dan kegiatan yang sederhana, anak-anak diajak untuk memahami bahwa setiap perasaan boleh dirasakan dan setiap perasaan punya cerita.

Seperti pesan yang dibawa dalam kegiatan tersebut, “Setiap warna bisa menceritakan perasaanmu.”

Nabila Rahma Safira
Mahasiswa Fakultas Psikologi
Universitas Diponegoro
KKN Tim II Tahun 2026

  • Nabila Rahma Safira
  • Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Diponegoro
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!