JATENG.NET, SEMARANG — Dalam rangka mendukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan serta mengantisipasi ancaman bencana banjir dan kekeringan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tim 154 Universitas Diponegoro menginisiasi kegiatan urban farming berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) mikro di dua kecamatan di Kota Semarang, yakni Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Banyumanik.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program bertajuk “Rabuk DTA dan Waduk Diponegoro: Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan untuk Mitigasi Bencana Banjir dan Kekeringan Berbasis DAS Mikro serta Mendukung Ketahanan Pangan.” Sebanyak 12 kelurahan menjadi lokasi pelaksanaan program, dengan keterlibatan aktif masyarakat sebagai bentuk kolaborasi multipihak.
Apa Itu Urban Farming?
Urban farming atau pertanian kota adalah praktik bercocok tanam dan beternak di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas seperti halaman rumah, atap bangunan, dinding, atau bahkan lahan tidur di lingkungan sekitar. Metode ini menjadi solusi inovatif dalam menjawab tantangan ketersediaan pangan, degradasi lingkungan, serta krisis air yang dihadapi oleh masyarakat urban.
Selain memproduksi bahan pangan segar secara mandiri, urban farming juga berperan dalam meningkatkan kualitas lingkungan, menyerap air hujan, serta menurunkan suhu permukaan tanah di perkotaan. Melalui pendekatan yang partisipatif, kegiatan ini turut mendorong kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Mahasiswa
Kegiatan urban farming yang digagas Mahasiswa KKN-T Tim 154 memiliki berbagai tujuan strategis, antara lain:
1. Meningkatkan Ketahanan Pangan Lokal
Dengan menanam sayuran dan tanaman konsumsi lainnya di lingkungan tempat tinggal, masyarakat diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangan harian secara mandiri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pasar.
2. Meningkatkan Daya Serap Air dan Mengurangi Genangan
Lahan-lahan pertanian kota mampu meningkatkan porositas tanah dan memperbesar daya serap air hujan, sehingga berkontribusi dalam pengurangan limpasan air yang berpotensi menimbulkan banjir lokal.
3. Pemanfaatan Limbah Organik Rumah Tangga
Sisa-sisa makanan dan sampah organik diolah menjadi kompos sebagai media tanam, mendukung prinsip zero waste, sekaligus menyuburkan tanah secara alami tanpa bahan kimia.
4. Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Kegiatan ini menjadi sarana edukasi langsung mengenai praktik pertanian ramah lingkungan di perkotaan, sekaligus mendorong warga untuk terlibat aktif dan melanjutkan kegiatan secara mandiri di luar masa KKN.
5. Mitigasi Dampak Perubahan Iklim
Dengan memperluas ruang terbuka hijau dan meningkatkan tutupan vegetasi, urban farming membantu menstabilkan suhu lingkungan dan memperbaiki siklus air tanah di wilayah DAS mikro.
Bergerak Bersama Masyarakat
Mahasiswa tidak hanya terlibat dalam aspek teknis budidaya tanaman, tetapi juga melakukan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kepada warga setempat. Kolaborasi dengan perangkat kelurahan serta komunitas lingkungan menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini.
Melalui pendekatan berbasis DAS mikro, program urban farming yang diinisiasi Tim 154 merupakan langkah nyata dalam membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pengelolaan lingkungan dan air secara terpadu. Harapannya, kegiatan ini menjadi model inspiratif yang dapat direplikasi di wilayah lain sebagai bagian dari strategi menghadapi krisis iklim dan pangan.











