Mahasiswa KKN-T IDBU 3 UNDIP Serahkan Alat Pengukur Fertilitas Tanah dan Coffee Grinder sebagai Bentuk Teknologi Tepat Guna untuk Mendukung Pertanian di Desa Wates
WATES, GETASAN, 17 AGUSTUS 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 3 Universitas Diponegoro (UNDIP) di Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, mengadakan kegiatan penyerahan Teknologi Tepat Guna (TTG) sekaligus melakukan edukasi mengenai penggunaan alat pengukur fertilitas tanah. Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menambah pengetahuan masyarakat mengenai kondisi tanah yang digunakan dalam kegiatan pertanian.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program multidisiplin yang mengangkat tema edukasi dan inovasi di bidang pertanian. Masyarakat diajak untuk lebih mengenal kondisi tanah di sekitar mereka dan memahami bahwa kualitas tanah dapat memengaruhi pertumbuhan serta hasil tanaman. Dua Mahasiswa Biologi, Raditya Rasya Pratama dan Deminist Gabriele Atalia, memberikan solusi mengenai alat pengukur fertilitas tanah sekaligus menjelaskan beberapa parameter yang dapat diamati. Salah satu parameter yang diperkenalkan adalah pH tanah, yang dapat memberikan gambaran mengenai tingkat keasaman atau kebasaan tanah.
Selama ini, kondisi tanah seringkali hanya dilihat dari tampilan fisiknya. Padahal, tanah memiliki karakteristik yang tidak selalu dapat diketahui hanya dengan melihat warna maupun teksturnya. Karena itu, penggunaan alat pengukur tanah dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi tanah secara langsung di lapangan. Kegiatan diawali dengan penjelasan mengenai fungsi alat dan cara penggunaannya. Mahasiswa kemudian menunjukkan secara langsung bagaimana alat tersebut digunakan pada tanah. Bagian sensor alat dimasukkan ke dalam tanah pada titik yang telah ditentukan, kemudian hasil pengukuran dapat dilihat melalui indikator atau layar yang tersedia pada alat. Selain praktik penggunaan alat, mahasiswa juga menjelaskan pentingnya melakukan pengukuran pada beberapa titik. Kondisi tanah dalam satu lahan dapat berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Dengan melakukan pengukuran di beberapa titik, informasi yang diperoleh dapat memberikan gambaran yang lebih sesuai mengenai kondisi lahan.
Tidak hanya membahas kondisi tanah, kegiatan juga memperkenalkan mesin penggiling biji kopi atau coffee grinder sebagai salah satu alat yang dapat digunakan dalam proses pengolahan hasil perkebunan kopi. Desa Wates memiliki potensi perkebunan kopi yang dapat dikembangkan tidak hanya sebagai hasil pertanian, tetapi juga sebagai produk yang memiliki nilai tambah setelah melalui proses pengolahan. Mesin penggiling kopi digunakan untuk mengubah biji kopi yang telah melalui proses pengolahan dan penyangraian menjadi bubuk kopi. Penggunaan mesin ini dapat membantu menghasilkan ukuran gilingan yang lebih sesuai dan membuat proses pengolahan kopi menjadi lebih praktis dibandingkan dengan menggiling secara manual. Pengenalan grinder kopi juga menjadi bagian dari upaya memperlihatkan kepada masyarakat bahwa proses pengolahan hasil pertanian dapat menjadi salah satu tahapan penting dalam meningkatkan nilai produk. Biji kopi yang sebelumnya hanya dipandang sebagai hasil panen dapat dikembangkan menjadi produk siap konsumsi yang memiliki karakteristik dan nilai jual tersendiri.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan grinder kopi. Mahasiswa memperlihatkan tahapan memasukkan biji kopi ke dalam mesin, proses penggilingan, hingga biji kopi berubah menjadi bubuk. Melalui demonstrasi tersebut, masyarakat dapat melihat secara langsung cara kerja alat sekaligus memahami manfaatnya dalam proses pengolahan kopi.
Dengan adanya dua alat tersebut, masyarakat diperkenalkan pada dua tahapan yang saling berkaitan dalam pengembangan pertanian, yaitu mengetahui kondisi tanah sebagai dasar budidaya dan mengolah hasil panen menjadi produk yang lebih bernilai. Penggunaan alat sederhana juga diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penerapan teknologi dalam kegiatan pertanian sehari-hari. Kegiatan edukasi mengenai alat pengukur fertilitas tanah dan grinder kopi menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu dan teknologi yang dekat dengan potensi lokal Desa Wates. Dengan memadukan pengetahuan mengenai kondisi lahan dan pengolahan hasil pertanian, program ini diharapkan dapat mendukung pengembangan produk pertanian yang lebih bernilai serta membuka peluang diversifikasi produk berbasis potensi lokal
- Humas KKN-T IDBU 3 Universitas Diponegoro
- Mahasiswa Universitas Diponegoro
- Setuju





