Mahasiswa ICS 2025 Lestarikan Budaya dan Lingkungan Lewat Batik & Wayang Kulit di Yogyakarta
JATENG.NET, YOGYAKARTA — Semangat pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi sorotan utama dalam kegiatan International Community Service (ICS) 2025. Tahun ini, program pengabdian masyarakat lintas kampus tersebut dilaksanakan di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta — kawasan yang terkenal dengan batik tulis klasik dan seni wayang kulit.
Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ikut berkontribusi langsung dalam kegiatan ini. Dua di antaranya adalah Shapna Citra Dewi dan Shofikatul Umma, yang terlibat aktif dalam bidang berbeda: pengolahan limbah batik ramah lingkungan menggunakan eceng gondok, dan pelestarian seni wayang kulit sebagai warisan budaya lokal.
Inovasi Hijau: Eceng Gondok Jadi Solusi Limbah Batik
Di sentra batik Giriloyo, permasalahan limbah cair menjadi isu yang cukup serius. Proses pewarnaan batik menghasilkan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan sekitar. Melalui kegiatan ICS, Shapna Citra Dewi bersama timnya memperkenalkan pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan alami untuk menyaring limbah batik.
“Eceng gondok yang selama ini dianggap tanaman pengganggu ternyata bisa membantu membersihkan limbah batik. Akar tanaman ini mampu menyerap zat warna kimia, sehingga airnya lebih jernih dan aman dibuang kembali,” jelas Shapna.
Selain mempraktikkan langsung proses penyaringan limbah, Shapna juga mengikuti pelatihan yang diberikan oleh pengrajin lokal tentang sistem pengelolaan limbah batik di wilayah tersebut. Dari kegiatan ini, para mahasiswa belajar bahwa solusi lingkungan sering kali bisa datang dari kearifan lokal.
“Banyak hal baru yang kami pelajari. Salah satunya, ternyata masyarakat di sini sudah mulai mengolah limbah batik dengan cara alami memakai eceng gondok. Itu luar biasa,” tambahnya.
Sosialisasi pengelolaan limbah batik dengan teknologi hybrid constructed wetland:

Proses pewarnaan:

Belajar Filosofi dan Kreativitas Lewat Wayang Kulit
Sementara itu, Shofikatul Umma mengambil bagian dalam kegiatan pelestarian seni wayang kulit. Bersama seniman lokal, ia belajar langsung proses pembuatan wayang mulai dari mengukir kulit, mewarnai, hingga memberi detail karakter.
“Awalnya saya hanya tahu wayang dari pertunjukan di TV, tapi di sini saya melihat sendiri bagaimana proses pembuatannya yang penuh ketelitian dan nilai seni tinggi,” ujar Sofi.
Selain belajar, Sofi juga turut membantu mendokumentasikan kegiatan para seniman dan membuat konten edukatif yang mengenalkan filosofi di balik tokoh-tokoh wayang. Tujuannya agar kesenian tradisional ini tetap dikenal oleh generasi muda.
“Wayang kulit itu bukan sekadar hiburan, tapi juga media pendidikan moral dan budaya. Kami ingin membantu agar warisan ini tetap hidup di era digital,” lanjutnya.
Sinergi Budaya, Lingkungan, dan Pembelajaran Sosial
Selama pelaksanaan ICS 2025, mahasiswa tak hanya berkontribusi, tapi juga memperoleh banyak pengalaman berharga. Mereka belajar tentang bagaimana budaya, lingkungan, dan ekonomi kreatif bisa berjalan bersama.
Dari Shapna, peserta mengetahui bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari solusi sederhana berbasis alam. Dari Sofi, mereka memahami bahwa budaya tradisional seperti wayang kulit menyimpan nilai kehidupan yang relevan hingga kini.
Kegiatan ini juga mempererat hubungan antar mahasiswa dan masyarakat, membuka pandangan bahwa pengabdian bukan hanya memberi, tetapi juga belajar dari kehidupan dan kearifan lokal.
ICS 2025 menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan, seni, dan kepedulian lingkungan mampu melahirkan perubahan positif. Di tangan generasi muda, batik dan wayang kulit bukan hanya warisan budaya — tetapi juga simbol semangat inovasi dan keberlanjutan.
Penulis: Shapna Citra Dewi & Shofikatul Umma, Peserta International Community Service (ICS) 2025






