Kolaborasi PKK dan Mahasiswa KKN-R Univeersitas Diponegoro dalam Budidaya TOGA untuk Keberlanjutan Desa Karang
KLATEN – Pemanfaatan barang bekas dan lahan sederhana di sekitar rumah dapat menjadi langkah kecil untuk menciptakan lingkungan yang lebih produktif. Terlebih di Desa Karang sendiri sampah menjadi salah satu masalah yang tak kunjung usai. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukasi dan praktik penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) bersama ibu-ibu PKK di Desa Karang, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten.
Kegiatan yang dilaksanakan sebagai bagian dari program kerja mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Undip memberikan edukasi mengenai cara sederhana membudidayakan TOGA menggunakan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Beberapa tanaman yang diperkenalkan meliputi jahe, kencur, kunyit, dan serai.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada praktik bercocok tanam, tetapi juga menjadi sarana berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan lingkungan, pemanfaatan barang bekas, serta pemilihan media tanam yang tepat. Pendekatan tersebut turut mendukung beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1, 3, 4, 12, dan 15.
Salah satu praktik yang dilakukan adalah memanfaatkan galon bekas sebagai wadah tanaman. Pemanfaatan galon bekas tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, karena barang yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dimanfaatkan kembali menjadi media budidaya. Langkah sederhana tersebut juga menunjukkan bahwa kegiatan bercocok tanam tidak selalu membutuhkan pot baru maupun lahan yang luas.
“Galon bekas ini dapat kita manfaatkan sebagai pengganti pot. Selain mudah ditemukan, pemanfaatannya juga dapat mengurangi barang bekas yang terbuang,” ujar Primo dalam sosialisasi singkatnya.
Dalam praktiknya, peserta juga diperkenalkan dengan media tanam yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, sekam padi, serta abu sekam. Peserta juga diberikan pemahaman bahwa pupuk kandang sebaiknya telah matang sebelum digunakan agar lebih aman bagi pertumbuhan tanaman. Sementara itu, sekam padi digunakan untuk membantu media lebih gembur serta mendukung sirkulasi udara dan drainase di sekitar akar. Peserta juga memperoleh informasi mengenai penggunaan abu sekam sebagai bahan tambahan media tanam yang perlu diberikan dalam jumlah terbatas karena memiliki sifat basa.
Informasi tersebut menjadi bagian dari SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya melalui pembelajaran berbasis praktik. Anggota PKK tidak hanya memperoleh informasi secara teori, tetapi juga secara langsung mempraktikkan proses penyiapan media dan penanaman tanaman.
Setelah media disiapkan, peserta kemudian melakukan penanaman beberapa jenis TOGA. Budidaya tanaman seperti jahe, kunyit, kencur, dan serai juga memiliki keterkaitan dengan SDG 3 dan SDG 15 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, serta Ekosistem Daratan melalui upaya sederhana menambah vegetasi dan memanfaatkan ruang di lingkungan rumah untuk kegiatan penghijauan. Dengan mengenalkan kembali tanaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat didorong untuk mengenal dan membudidayakan TOGA di lingkungan rumah sebagai bagian dari pemanfaatan sumber daya hayati yang tersedia di sekitar mereka.
Di sisi lain, output dari kegiatan pembudidayaan TOGA dapat menjadi ide bisnis baru bagi anggota PKK yang memiliki ketertarikan atau sekedar hobi berkebun. Hal ini sejalan dengan semangat SDG 1 Tanpa Kemiskinan, terutama dalam membuka peluang pemanfaatan tanaman rumah tangga secara mandiri.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui demonstrasi dan praktik langsung. Ibu-ibu PKK mengikuti setiap tahapan mulai dari pengenalan alat dan bahan, pencampuran media, pemilihan bibit, penanaman, hingga penyiraman.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada praktik saat pelaksanaan, tetapi dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masyarakat di rumah masing-masing. Dengan memanfaatkan barang bekas, bahan yang mudah diperoleh, serta ruang yang tersedia, budidaya TOGA dapat menjadi aktivitas sederhana yang memberikan manfaat bagi keluarga sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan.
- Primo Rafay Adikara
- Mahasiswa Program Studi Agribisnis, Universitas Diponegoro
- Setuju





