KKNT IDBU 67 Kelompok 9 UNDIP Rancang Rumah Pompa untuk Dukung Penanganan Banjir di Pesantren Asshodiqiyah
Semarang, [14/08] — Kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IDBU 67 Kelompok 9 Universitas Diponegoro (UNDIP) merancang pembangunan rumah pompa di Pondok Pesantren Asshodiqiyah, Kaligawe, Semarang, sebagai salah satu upaya mendukung penanganan banjir di lingkungan pesantren. Rancangan tersebut telah diselesaikan oleh mahasiswa dan saat ini masih menunggu informasi lebih lanjut terkait pelaksanaan pembangunannya.
Rencana rumah pompa merupakan bagian dari program multidisiplin “Smart Flood Management Pondok Pesantren Berbasis Sistem Pompa dan Infrastruktur Drainase Berkelanjutan”. Rumah pompa dirancang sebagai fasilitas penunjang kolam retensi dan sistem pompa untuk membantu mengendalikan genangan air di lingkungan pesantren.
Menurut Gus Nabil, selaku penanggung jawab Pondok Pesantren Asshodiqiyah, banjir telah menjadi persoalan yang berulang. Sebelum dilakukan peninggian atau pengecoran area, ketinggian banjir dapat mencapai sekitar dada. Setelah pengecoran, genangan masih dapat mencapai sekitar dengkul dan setidaknya terjadi satu kali dalam setahun.
“Banjir ini sangat mengganggu mobilitas. Pada 2025, ketika Gibran berkunjung ke Pondok Pesantren Asshodiqiyah, banjir bahkan tidak surut selama sembilan hari sehingga aktivitas dan pergerakan warga pesantren terganggu,” ujar Gus Nabil dalam wawancara pada Jumat (14/08).
Kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas sehari-hari warga pesantren. Saat banjir, akses kendaraan, distribusi bantuan, dan suplai makanan menjadi terbatas. Dalam beberapa kejadian, banjir juga menyebabkan listrik dan komunikasi terputus selama satu hingga dua hari serta mengganggu kegiatan sekolah.
Dalam proses perancangan, mahasiswa KKNT IDBU 67 Kelompok 9 melakukan observasi terhadap sistem drainase, kolam retensi, serta kondisi lahan yang direncanakan sebagai lokasi rumah pompa. Raphael Ezra Soegiharto, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil, menyusun gambar perencanaan rumah pompa, estimasi biaya, serta Rencana Kerja dan Syarat (RKS) sebagai dokumen pendukung pembangunan.
“Rumah pompa ini dirancang karena Pondok Pesantren Asshodiqiyah berada di kawasan dataran rendah dan rawan banjir. Dalam perancangannya, kami mempertimbangkan spesifikasi dan dimensi pompa serta menyesuaikannya dengan lahan yang tersedia. Kami berharap rancangan ini dapat segera direalisasikan dan nantinya dirawat dengan baik agar dapat berfungsi dalam jangka panjang,” ujar Raphael.

Pelaksanaan program sosialisasi “Menjaga Kebersihan Lingkungan di Pondok Pesantren Asshodiqiyah” saat MPLS MTS/MA pada Rabu (15/07/2026). Foto: Tim Dokumentasi KKNT IDBU 67 Kelompok 9 UNDIP
Selain perancangan infrastruktur, KKNT IDBU 67 Kelompok 9 juga menyiapkan sejumlah program pendukung, seperti panduan teknis pemanfaatan sistem pompa, pemetaan jalur evakuasi dan titik kumpul aman, SOP pemeliharaan pipa dan rumah pompa, serta tata kelola kolam dan rumah pompa.
Aspek pencegahan turut dilakukan melalui sosialisasi “Menjaga Kebersihan Lingkungan di Pondok Pesantren Asshodiqiyah” yang memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, membuang sampah pada tempatnya, serta penerapan perilaku peduli lingkungan. Mahasiswa juga merancang saringan apung pada inlet pompa untuk membantu mencegah sampah menyumbat aliran air.
Melalui rangkaian program tersebut, KKNT IDBU 67 Kelompok 9 UNDIP berupaya membangun kesiapsiagaan banjir yang tidak hanya mengandalkan infrastruktur, tetapi juga didukung edukasi, tata kelola, dan kesadaran lingkungan. Rancangan rumah pompa diharapkan dapat segera direalisasikan dan menjadi salah satu fasilitas pendukung dalam mewujudkan Pondok Pesantren Asshodiqiyah yang lebih tangguh menghadapi risiko banjir.
- Deanice Amanda H
- Tim KKNT IDBU 67 Kelompok 9 Universitas Diponegoro
- Setuju





