KKN Undip Ubah Limbah Dapur Warga Sawit Jadi Kompos

Pelatihan Kompos Metode Takakura - proses pembuatan komposter galon bekas oleh ibu-ibu PKK RT 01 Desa Sawit. (Dokumentasi: KKN-T 115 Desa Sawit, 25 Juli 2026).

JATENG.NET, Sawit, Klaten – 25 Juli 2026. Mahasiswa KKN-T 115 Universitas Diponegoro (Undip) mengedukasi warga RT 01/RW 02 Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno, mengolah limbah dapur menjadi kompos dengan metode Takakura, Jumat (25/7/2026). Kegiatan berlangsung di Balai RT 01/RW 02 dan menyasar ibu-ibu PKK setempat.

Program ini digagas sebab kulit bawang dan sisa sayuran rumah tangga di Desa Sawit belum dimanfaatkan secara optimal, meski berpotensi diolah menjadi kompos dan pupuk organik cair. Melalui pelatihan ini, tim KKN berharap ibu-ibu PKK mampu mengolah limbah dapur secara mandiri menjadi produk yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomi.

Warga diajak membuat komposter dari galon bekas 15 liter yang dilubangi dan diberi lapisan daun kering sebagai dasar. Sampah dapur lalu dimasukkan bertahap, dicampur EM4 dan molase, kemudian diaduk merata untuk proses pengomposan. Bank Sampah Flamboyan turut mendukung kegiatan dengan menyediakan galon bekas sebagai bahan komposter

“Menambah ilmu saya, karena beda caranya jadi saya lebih tau cara bikin pupuk kompos, Biasanya sisa sayur dan sisa sampah dibuang di TPA jadi dibikin kompos,” dilanjut “saran-sarannya buat ibu-ibu semua, ibu rumah tangga semoga pembelajaran kemarin bisa membuat kita berubah tidak buang sampah, bisa membuat pupuk di rumah masing-masing.” ujar Ibu Sugiyem selaku warga desa dan salah satu peserta kegiatan pembuatan kompos berbasis takakura, 25/07/2026.

Kegiatan ini menghasilkan satu kompos padat, satu pupuk organik cair (POC/lindi), satu unit komposter percontohan, modul metode Takakura, poster panduan kompos, dan media edukasi pengendalian lalat. Produk-produk ini menjadi bekal warga untuk melanjutkan praktik pengomposan secara mandiri di rumah.

Kendala utama yang dihadapi adalah masih terbatasnya pemahaman warga soal pemilahan sampah organik dan proses pengomposan. Tim KKN mengatasinya lewat edukasi dan praktik langsung, dilengkapi modul serta media panduan yang bisa dipakai warga setelah kegiatan usai. Kompos dan POC yang dihasilkan dinilai berpotensi dikembangkan menjadi usaha rumahan, baik untuk kebutuhan pertanian warga maupun dijual ke petani sekitar.

KKN berakhir, ibu-ibu PKK RT 01 diharapkan melanjutkan penggunaan komposter secara mandiri dan mengembangkan hasilnya menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Ditulis oleh: [Rossi Aqilah Yunitamar] – Tim Publikasi KKN-T 115, Universitas Diponegoro, Desa Sawit

Butuh bantuan? Chat kami!