Implementasi SDGs 3 dan 12, Mahasiswa KKN-T 141 UNDIP Kenalkan Potensi Kunyit untuk Keamanan Pangan dan Olahan Pangan
Batursari, Demak – Kunyit menjadi salah satu potensi lokal yang dimiliki masyarakat Dukuh Karangmalang, Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Selama ini, kunyit yang dibudidayakan masyarakat umumnya dimanfaatkan sebagai bumbu masakan atau dijual dalam bentuk kunyit kering. Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN-T 141 Universitas Diponegoro mengenalkan alternatif pemanfaatan kunyit melalui edukasi keamanan pangan dan pengolahan pangan.
Kegiatan dilaksanakan pada 19 Juli 2026 dan diikuti oleh ibu-ibu RT 02 RW 07 Dukuh Karangmalang. Program ini diinisiasi oleh Sayyidah Risqina dan Diah Ayu Fitriani, mahasiswa Program Studi Kimia, Universitas Diponegoro.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mengajak masyarakat mengenal pemanfaatan kunyit tidak hanya sebagai rempah, tetapi juga sebagai bahan yang dapat digunakan dalam edukasi keamanan pangan dan pengembangan produk pangan sederhana.
Mengenalkan Kunyit sebagai Indikator Alami Boraks
Kegiatan diawali dengan edukasi mengenai kandungan kurkumin pada kunyit dan pemanfaatannya sebagai indikator alami dalam demonstrasi identifikasi boraks pada makanan. Kurkumin merupakan senyawa yang memberikan warna kuning khas pada kunyit dan memiliki aktivitas antioksidan serta berbagai potensi aktivitas biologis.
Mahasiswa juga menjelaskan mengenai bahaya penggunaan boraks pada pangan. Boraks bukan merupakan bahan tambahan pangan yang diperuntukkan untuk makanan sehingga penggunaannya perlu diwaspadai. Edukasi ini diberikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memperhatikan keamanan pangan yang dikonsumsi sehari-hari.
Demonstrasi Identifikasi Boraks Menggunakan Kunyit
Setelah penyampaian materi, peserta diajak melihat demonstrasi identifikasi boraks menggunakan sari kunyit. Sampel yang digunakan berupa bakso, mi kuning, dan sampel positif boraks sebagai pembanding.
Kunyit terlebih dahulu diparut dan ditambahkan air untuk memperoleh sarinya. Sari kunyit kemudian diaplikasikan pada masing-masing sampel. Dalam demonstrasi, sampel yang tidak menunjukkan indikasi boraks tetap berwarna kuning, sedangkan sampel positif menunjukkan perubahan warna menjadi lebih jingga.
Mahasiswa menjelaskan bahwa metode tersebut merupakan demonstrasi atau skrining sederhana, sehingga tidak digunakan sebagai pengganti pengujian laboratorium untuk memastikan kandungan boraks pada makanan.
Mengolah Kunyit Menjadi Puding
Selain pemanfaatan dalam edukasi keamanan pangan, mahasiswa juga mendemonstrasikan pengolahan kunyit sebagai pewarna alami dalam pembuatan puding. Kunyit dihaluskan dan diambil sarinya, kemudian sari tersebut ditambahkan ke dalam adonan puding yang terdiri dari agar-agar, gula, vanili, susu, dan air.
Setelah matang, puding dituangkan ke dalam cup dan diberi topping sesuai selera. Demonstrasi ini menunjukkan salah satu alternatif pemanfaatan kunyit menjadi produk pangan sederhana yang dapat dikembangkan dari potensi lokal masyarakat.
Antusiasme Peserta dalam Mengenal Potensi Kunyit
Ibu-ibu RT 02 RW 07 menunjukkan antusiasme selama kegiatan berlangsung. Peserta aktif mengikuti demonstrasi, mengajukan pertanyaan, serta memberikan saran mengenai pemanfaatan kunyit.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-T 141 UNDIP berharap masyarakat dapat semakin mengenali potensi kunyit yang ada di Dukuh Karangmalang dan mengembangkan pemanfaatannya, baik untuk mendukung kesadaran mengenai keamanan pangan maupun sebagai bahan dalam produk olahan pangan.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya sederhana untuk mendukung SDG 3 melalui edukasi keamanan pangan dan SDG 12 melalui pemanfaatan potensi lokal secara lebih optimal dan bernilai guna.
- Sayyidah Risqina dan Diah Ayu Fitriani
- Mahasiswi Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro
- Setuju








