Edukasi dan Pelatihan Pembuatan Biopestisida dari Bawang Putih sebagai Alternatif Pengendalian Hama Ramah Lingkungan
Kahuman, Jumat, 7 Agustus 2026 — Upaya mendorong pertanian yang lebih ramah lingkungan diperkenalkan kepada masyarakat melalui program kerja pembuatan biopestisida berbahan dasar bawang putih, yang dilaksanakan di Dukuh Gedongan, Desa Kahuman, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Najwa Khoerunnisa, mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro, sebagai salah satu program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro Tahun 2026, dengan menggabungkan edukasi, diskusi, dan pelatihan pembuatan biopestisida secara langsung.
Kegiatan diawali dengan edukasi mengenai dampak negatif pestisida kimia sintetis, mulai dari risiko kesehatan, pencemaran lingkungan, hingga resistensi hama jangka panjang. Peserta diperkenalkan pada biopestisida sebagai alternatif yang lebih aman, murah, dan mudah dibuat menggunakan bawang putih, yang mengandung senyawa alisin dengan sifat repelen dan insektisida alami terhadap hama tanaman. Edukasi juga menekankan bahwa pembuatan biopestisida tidak memerlukan biaya besar maupun alat khusus, sehingga menjadi solusi praktis bagi petani maupun warga dengan tanaman pekarangan.
Sesi tanya jawab berlangsung antusias, khususnya dari ibu-ibu PKK Dukuh Gedongan. Ibu Palupi, selaku Pembina PKK, menanyakan daya tahan larutan biopestisida setelah dibuat. Najwa menjelaskan bahwa larutan ini hanya bertahan sekitar satu minggu karena berbahan alami tanpa pengawet, sehingga rentan menurun kualitasnya jika disimpan terlalu lama. Pertanyaan lain muncul soal keamanan biopestisida bagi tanaman jambu. Dijelaskan bahwa biopestisida bawang putih pada dasarnya aman untuk tanaman jambu maupun buah lainnya karena tidak meninggalkan residu kimia berbahaya, namun tetap perlu diperhatikan dosisnya, diuji coba pada bagian kecil tanaman terlebih dahulu, dan disemprotkan pagi atau sore hari agar tidak mengganggu serangga penyerbuk seperti lebah.
Konsep pengendalian hama alami diperkuat melalui praktik langsung. Peserta diajak mengolah bawang putih melalui penghalusan, perendaman atau ekstraksi, hingga pencampuran menjadi larutan biopestisida siap pakai, dengan cara sederhana agar mudah ditiru di rumah.
Kepala Desa Kahuman, Ibu Ida, menilai kegiatan ini bermanfaat besar bagi warga. “Kegiatan ini sangat bermanfaat sekali, dan saya akan mempraktikkannya ke ibu-ibu lain,” ujarnya. Dukungan juga diberikan oleh Ibu Palupi, yang mengaku tertarik membuat biopestisida ini sendiri karena memiliki banyak tanaman di rumah. “Jadi mau membuat juga, karena saya kan punya banyak tanaman,” ungkapnya.
Program kerja ini menjadi bentuk upaya edukatif dan aplikatif dalam mendorong pertanian ramah lingkungan di Dukuh Gedongan, sekaligus mendukung capaian SDGs poin ke-2 (Tanpa Kelaparan), ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan ke-15 (Ekosistem Daratan). Melalui edukasi, diskusi, dan praktik langsung, kegiatan ini diharapkan mendorong masyarakat beralih ke biopestisida alami sebagai alternatif pengendalian hama yang aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
- Najwa Khoerunnisa
- Mahasiswa Universitas Diponegoro Jurusan Kimia Fakultas Sains Dan Matematika
- Setuju





