Dari Pojok Baca ke Literasi Keuangan, Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Kebiasaan Menabung kepada Anak Desa Ampelgading
PEMALANG, 19 Agustus 2026 — Sebuah Pojok Baca yang hadir di Desa Ampelgading, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang, kini tidak hanya menjadi tempat bagi anak-anak untuk membaca. Ruang tersebut turut dimanfaatkan sebagai media untuk mengenalkan pengetahuan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, salah satunya mengenai kebiasaan mengelola uang melalui literasi menabung.
Pemanfaatan ruang baca tersebut menjadi bagian dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) di Desa Ampelgading. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah menghadirkan materi literasi keuangan sederhana yang disusun oleh Gabriella Cahya Kasih, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Program Studi Akuntansi.
Sebelum Pojok Baca tersedia, anak-anak di Desa Ampelgading belum memiliki ruang khusus yang dapat digunakan secara bebas untuk membaca dan belajar di luar kegiatan sekolah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pemerintah desa, sarana pendidikan nonformal yang tersedia masih terbatas. Desa tersebut memiliki kegiatan bimbingan belajar matematika yang dikelola secara mandiri, tetapi belum tersedia fasilitas yang secara khusus menyediakan bahan bacaan dan ruang belajar bagi anak-anak.
Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa KKN untuk menghadirkan Pojok Baca sebagai ruang belajar yang dapat diakses anak-anak. Area tersebut ditata agar menjadi ruang yang nyaman dan ramah bagi anak-anak, dengan dilengkapi koleksi buku serta berbagai media edukatif. Penataan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi ruang sehingga tercipta tempat yang lebih rapi dan nyaman untuk membaca.
Di tengah ruang tersebut, Gabriella memasukkan literasi keuangan sebagai salah satu materi yang dapat dipelajari anak-anak. Sebagai mahasiswa Akuntansi, ia memilih topik menabung karena konsep tersebut dapat dikenalkan sejak dini melalui kebiasaan sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Materi tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah poster berjudul “7 Langkah Gemar Menabung” dengan ajakan “Mari Menabung”. Isinya dirancang secara sederhana agar anak-anak dapat memahami langkah-langkah membangun kebiasaan menabung tanpa harus mengenal istilah keuangan yang kompleks.
“Saya ingin mengenalkan bahwa literasi keuangan bisa dimulai dari hal yang sederhana. Anak-anak tidak harus langsung memahami konsep keuangan yang rumit, tetapi bisa terlebih dahulu belajar menyisihkan uang dan membangun kebiasaan menabung,” ujar Gabriella.
Setelah dicetak, media tersebut ditempatkan di area Pojok Baca. Keberadaannya membuat pesan mengenai menabung dapat dibaca bersamaan dengan berbagai koleksi bacaan yang tersedia. Anak-anak yang datang untuk membaca pun dapat menemukan informasi mengenai kebiasaan menabung melalui media visual yang berada di sekitar ruang belajar.
Pemilihan media visual dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik anak-anak sebagai sasaran kegiatan. Informasi dibuat singkat dan menggunakan langkah-langkah sederhana sehingga dapat dipahami secara mandiri. Dengan cara tersebut, materi tidak bergantung pada kegiatan penyampaian secara langsung, tetapi dapat dibaca kembali ketika anak-anak berada di ruang baca.
Pelaksanaan kegiatan telah terealisasi dengan ditempatkannya media literasi tersebut di Pojok Baca. Materi yang tersedia kemudian berfungsi sebagai bahan edukasi sekaligus pengingat mengenai pentingnya membangun kebiasaan menabung.
Bagi Gabriella, mengenalkan kebiasaan menabung kepada anak-anak juga berkaitan dengan cara mereka melihat penggunaan uang dalam kehidupan sehari-hari. Uang saku yang biasanya langsung digunakan dapat mulai dipahami sebagai sesuatu yang dapat disisihkan untuk kebutuhan atau tujuan tertentu.
“Menabung sebenarnya bisa dimulai dari nominal kecil. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaannya terlebih dahulu dan membuat anak memahami bahwa uang yang dimiliki tidak harus selalu dihabiskan,” tambah Gabriella.
Pesan tersebut menjadi semakin dekat dengan aktivitas anak karena ditempatkan di ruang yang memang digunakan untuk belajar. Pojok Baca tidak hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga menjadi tempat bertemunya berbagai materi edukasi yang dapat memperluas pengetahuan anak-anak.
Kehadiran materi literasi keuangan di dalamnya memberikan warna tersendiri bagi ruang tersebut. Anak-anak tidak hanya diajak untuk membaca cerita atau memperoleh pengetahuan dari buku, tetapi juga diperkenalkan dengan keterampilan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Desa Ampelgading, keberadaan ruang baca tersebut membuka kesempatan bagi anak-anak untuk memperoleh sumber belajar tambahan di luar lingkungan sekolah. Dari sebuah materi sederhana yang ditempatkan di sudut ruang baca, anak-anak Desa Ampelgading diajak mengenal satu kebiasaan penting dalam mengelola uang. Bukan melalui teori yang rumit, melainkan melalui pesan yang dekat dengan keseharian mereka: menyisihkan uang, membangun kebiasaan, dan menabung untuk tujuan yang ingin dicapai.
Penulis/Reporter: Gabriella Cahya Kasih
Kontak Media/Humas Kelompok: kkn.ampelgading26@gmail.com
- Gabriella Cahya Kasih
- Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Diponegoro
- Setuju





