Dari Kebun Menuju Agrowisata: Inovasi KKT Subur Makmur di Kawasan Durian Gunungpati

Semarang, 12 Agustus 2026 – Kelompok KKT Subur Makmur mengembangkan kegiatan berkebun secara terpadu di kawasan pertanian durian, Gunungpati, Kota Semarang. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan potensi pertanian lokal sekaligus mendukung pengembangan kawasan sebagai destinasi agrowisata yang produktif, edukatif, dan berkelanjutan.

Gunungpati merupakan salah satu wilayah di Kota Semarang yang memiliki potensi pertanian cukup besar. Kondisi lingkungan yang relatif sejuk serta ketersediaan lahan pertanian mendukung pengembangan berbagai jenis tanaman, terutama durian yang telah menjadi salah satu komoditas unggulan wilayah tersebut. Potensi ini mendorong KKT Subur Makmur untuk mengintegrasikan kebun durian dengan tanaman hortikultura dan berbagai kegiatan edukasi pertanian.

Pengembangan kebun dilakukan dengan memanfaatkan area di sekitar tanaman durian untuk menanam aneka sayuran, tanaman obat keluarga, tanaman rempah, bunga, dan tanaman buah lainnya. Pemanfaatan ruang tanam tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman durian sebagai komoditas utama.

Lilik Krismiyanto, S.Pt., M.Si. selaku DPL KKN Tematik menyampaikan bahwa melalui pola tanam terpadu, lahan pertanian tidak hanya menghasilkan durian pada musim tertentu, tetapi juga memberikan hasil dari tanaman pendukung sepanjang tahun. Sayuran dan rempah yang dipanen dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dijual sebagai produk segar, atau diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Kegiatan berkebun juga dilengkapi dengan penerapan pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan. Sisa tanaman, daun kering, dan limbah organik rumah tangga dapat diolah menjadi kompos untuk memperbaiki kesuburan tanah. Penggunaan pupuk organik membantu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus menjaga kualitas lingkungan kawasan pertanian.

Selain meningkatkan produktivitas lahan, pengembangan kebun di kawasan pertanian durian juga dirancang sebagai sarana edukasi bagi masyarakat. Pengunjung dapat mengenal berbagai jenis tanaman, mempelajari cara pembibitan dan penanaman, memahami proses pembuatan pupuk organik, serta melihat secara langsung praktik pemeliharaan tanaman durian dan hortikultura.

Konsep agrowisata tersebut memungkinkan pengunjung tidak hanya menikmati suasana kebun, tetapi juga terlibat dalam kegiatan pertanian. Aktivitas yang dapat dikembangkan meliputi menanam bibit, memanen sayuran, mengenali tanaman obat, membuat kompos, mencicipi hasil kebun, dan membeli produk pertanian secara langsung dari petani.

KKT Subur Makmur Bapak Chasanudin memandang bahwa pengembangan agrowisata perlu dimulai dari pengelolaan kebun yang tertata, bersih, aman, dan menarik. Oleh karena itu, penataan kawasan menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Jalur pengunjung, papan informasi tanaman, tempat istirahat, area pembibitan, lokasi pengolahan kompos, dan tempat pemasaran hasil kebun dapat dikembangkan secara bertahap sesuai dengan kemampuan kelompok.

Pengembangan kawasan ini juga diharapkan dapat memperkuat citra Gunungpati sebagai wilayah pertanian dan agrowisata di Kota Semarang. Keberadaan kebun yang dikelola secara produktif dan menarik dapat menjadi alternatif wisata berbasis alam sekaligus membantu mempertahankan fungsi lahan pertanian di tengah perkembangan kawasan perkotaan.

Ke depan, KKT Subur Makmur diharapkan mampu mengembangkan jejaring kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas, dan lembaga terkait. Dukungan dalam bentuk pelatihan, pendampingan, penyediaan sarana, pengembangan produk, dan promosi sangat diperlukan agar kawasan pertanian durian dapat tumbuh menjadi destinasi agrowisata yang memiliki daya tarik dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Melalui inovasi berkebun secara terpadu, KKT Subur Makmur menunjukkan bahwa kawasan pertanian durian dapat dikembangkan lebih luas daripada sekadar tempat produksi buah. Dengan pengelolaan yang tepat, kebun dapat menjadi sumber pangan, tempat pendidikan, ruang rekreasi, pusat usaha masyarakat, sekaligus sarana pelestarian lingkungan.

Dari kebun menuju agrowisata, langkah KKT Subur Makmur menjadi contoh pemanfaatan potensi lokal untuk membangun pertanian yang produktif, kreatif, dan berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjadikan kawasan durian Gunungpati sebagai salah satu tujuan agrowisata unggulan di Kota Semarang.

  • Lilik Krismiyanto, S.Pt., M.Si.
  • Dosen Departemen Peternakan Fakultas Peternakan dan Pertannian Universitas Diponegoro
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!