Bukan Sekadar Membasmi Tikus: KKN-R Tim II UNDIP Dorong Pengendalian Hama yang Aman dan Berkelanjutan
Sragen, Jawa Tengah Pengendalian hama tidak hanya berkaitan dengan upaya menjaga tanaman dari kerusakan, tetapi juga perlu memperhatikan keselamatan petani dan kesehatan lingkungan. Hal tersebut menjadi perhatian mahasiswa KKN-R Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) Tahun 2026 Desa Banaran melalui program pengenalan alternatif pengendalian hama tikus kepada petani Desa Banaran pada Selasa, 21 Juli 2026.
Tikus merupakan salah satu hama yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman padi dan menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian. Serangan yang terjadi secara berulang berpotensi menurunkan produktivitas tanaman dan berdampak pada hasil panen petani. Kondisi tersebut mendorong perlunya pengendalian hama yang tidak hanya efektif, tetapi juga memperhatikan keselamatan dalam setiap proses penggunaannya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan umpan pengendali hama berbahan beras, telur, minyak jelantah, dan Racumin sebagai salah satu alternatif pengendalian tikus. Penyampaian materi tidak hanya berfokus pada bahan dan cara pemanfaatannya, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai risiko paparan yang dapat terjadi apabila bahan pengendali hama ditangani tanpa perlindungan yang tepat.
Di sinilah mahasiswa Kesehatan Masyarakat mengambil peran. Mahasiswa memberikan edukasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kepada petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yaitu mahasiswa memberikan edukasi mengenai pentingnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) ketika menyiapkan dan menempatkan umpan. Alat pelindung diri berupa Sarung tangan, masker, sepatu, kacamata pelindung, hingga pakaian lengan panjang guna perlindungan diri untuk meminimalkan kontak langsung dengan bahan maupun kotoran tikus. Petani juga diingatkan untuk tidak menyentuh wajah atau makanan selama proses penanganan serta mencuci tangan menggunakan sabun setelah kegiatan selesai.
Penerapan K3 tersebut menjadi penting karena perlindungan terhadap petani merupakan bagian dari pengendalian risiko sebelum terjadi paparan. Penggunaan APD tidak hanya dipandang sebagai perlengkapan saat bekerja, tetapi perlu dibangun sebagai kebiasaan dalam setiap aktivitas yang melibatkan bahan pengendali hama.
Selain melindungi petani, mahasiswa turut menekankan pentingnya menjaga keamanan lingkungan. Umpan perlu ditempatkan secara terkendali agar tidak mudah dijangkau anak-anak, ternak, maupun hewan yang bukan sasaran. Penanganannya juga perlu memperhatikan kemungkinan kontaminasi terhadap makanan, sumber air, dan lingkungan sekitar.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian hama perlu mempertimbangkan rantai keselamatan secara menyeluruh, mulai dari orang yang menyiapkan bahan, petani yang menggunakannya, hingga masyarakat dan lingkungan yang berada di sekitar lahan pertanian.
Program ini turut mendukung SDG 2: Zero Hunger melalui upaya menjaga tanaman padi dan produktivitas pertanian sebagai bagian dari ketahanan pangan. Penerapan prinsip K3 dalam pengendalian hama juga sejalan dengan SDG 3: Good Health and Well-being, khususnya melalui upaya pencegahan risiko kesehatan dalam aktivitas pertanian.
Pengenalan alternatif pengendalian hama tersebut mendapat tanggapan positif dari petani Desa Banaran. Salah satu petani menilai bahan yang diperkenalkan relatif mudah diperoleh dan dapat menjadi tambahan informasi dalam menghadapi serangan tikus di lahan pertanian.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-R Tim II UNDIP berharap petani tidak hanya memperoleh alternatif dalam mengendalikan hama, tetapi juga memahami bahwa hasil panen yang baik seharusnya tidak dicapai dengan mengabaikan keselamatan. Menjaga tanaman, melindungi petani, dan mempertahankan lingkungan merupakan bagian yang saling berkaitan dalam mewujudkan pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
- Annisa Nur Latifah
- Mahasiswa Program Studi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro
- Setuju





