Edukasi Budaya Kebersihan dan Pemilahan Sampah ala Jepang Dorong Kesadaran Masyarakat Desa Tegalsari Timur
PEMALANG, 7 Agustus 2026 — Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) melaksanakan kegiatan edukasi mengenai budaya menjaga kebersihan, sistem pemilahan sampah, serta nilai mottainai ala Jepang kepada masyarakat Desa Tegalsari Timur, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang. Kegiatan yang dilaksanakan di Balai Desa Tegalsari Timur ini bertujuan untuk memperkenalkan kebiasaan sederhana dalam menjaga kebersihan lingkungan serta mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah.
Kegiatan edukasi tersebut dilaksanakan dengan memperkenalkan kebiasaan masyarakat Jepang dalam menjaga kebersihan lingkungan. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penerapan kebiasaan membuang dan memilah sampah berdasarkan jenisnya. Melalui pengenalan tersebut, mahasiswa mengajak masyarakat untuk melihat bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga dimulai dari bagaimana sampah dipisahkan dan diperlakukan sejak dari sumbernya.
Dalam penyampaian materi, mahasiswa menjelaskan mengenai pemilahan sampah berdasarkan karakteristiknya, seperti sampah yang mudah terbakar, sampah yang tidak mudah terbakar, serta jenis sampah lainnya yang membutuhkan penanganan berbeda. Sistem tersebut kemudian dibandingkan secara sederhana dengan kondisi pengelolaan sampah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Tegalsari Timur.
Selain membahas pemilahan sampah, mahasiswa juga memperkenalkan budaya menjaga kebersihan yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat Jepang. Kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan diperkenalkan sebagai bentuk tanggung jawab bersama, bukan hanya menjadi tugas petugas kebersihan. Masyarakat diajak untuk membangun kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, serta mengurangi sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.
“Kami ingin menunjukkan bahwa budaya menjaga kebersihan di Jepang sebenarnya memiliki beberapa kebiasaan sederhana yang bisa kita pelajari dan disesuaikan dengan kondisi di lingkungan kita. Jadi, bukan berarti sistem di Jepang harus diterapkan seluruhnya, tetapi nilai dan kebiasaannya dapat menjadi contoh,” ujar Kinanty salah satu mahasiswa KKN yang terlibat dalam kegiatan.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga memperkenalkan konsep mottainai, yaitu nilai yang mengajarkan untuk tidak menyia-nyiakan sesuatu yang masih memiliki manfaat. Konsep ini dikaitkan dengan kebiasaan mengurangi penggunaan barang secara berlebihan, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta memanfaatkan sesuatu sebelum akhirnya menjadi sampah.
Pengenalan nilai mottainai diberikan agar masyarakat dapat melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda. Barang yang sudah tidak digunakan tidak selalu berarti tidak memiliki nilai. Beberapa barang masih dapat digunakan kembali atau diolah menjadi sesuatu yang memiliki manfaat, sehingga jumlah sampah yang dibuang dapat dikurangi.
“Lewat konsep mottainai, kami ingin mengajak masyarakat untuk berpikir sebelum membuang sesuatu. Kalau barang tersebut masih bisa digunakan atau dimanfaatkan kembali, sebisa mungkin jangan langsung dianggap sebagai sampah,” jelas Kinanty.
Kegiatan edukasi juga disertai dengan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar materi lebih mudah dipahami dan diterapkan. Mahasiswa menjelaskan bahwa kebiasaan menjaga kebersihan dan memilah sampah dapat dimulai dari lingkungan rumah, kemudian diterapkan secara bersama-sama di lingkungan masyarakat.
Peserta kegiatan turut diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai kondisi pengelolaan sampah yang ada di lingkungan sekitar. Diskusi tersebut menjadi bagian dari kegiatan untuk mengetahui kebiasaan masyarakat sekaligus menghubungkan materi mengenai budaya kebersihan dan pemilahan sampah dengan kondisi yang mereka hadapi sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap masyarakat tidak hanya mengenal budaya kebersihan dan pemilahan sampah di Jepang, tetapi juga dapat mengambil nilai yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana seperti mengurangi sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan memilah sampah sejak dari rumah diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
Kegiatan edukasi yang dilaksanakan di Balai Desa Tegalsari Timur ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa KKN Tim II UNDIP dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah. Melalui pengenalan budaya Jepang dan nilai mottainai, mahasiswa berupaya mendorong masyarakat untuk membangun kebiasaan menjaga kebersihan secara berkelanjutan serta melihat pengelolaan sampah sebagai tanggung jawab bersama.
- Kinanty Isnansiwi
- Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Universitas Diponegoro
- Setuju






