Sulap Sampah Jadi Berkah: Budidaya Maggot untuk Mendorong Desa Kalinanas Berkelanjutan

Wonosamudro, Boyolali — Tumpukan sampah rumah tangga yang selama ini berakhir di tempat pembakaran menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip). Melalui program edukasi budidaya maggot, mahasiswa KKN mengajak masyarakat Desa Kalinanas, Kecamatan Wonosamudro, Boyolali, untuk mulai mengubah sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 1 Agustus 2026 di Balai Dukuh Tempuran ini menyasar masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK dan Karang Taruna. Program tersebut diinisiasi sebagai respons terhadap kebiasaan masyarakat yang masih mencampurkan berbagai jenis sampah dan membakarnya secara langsung.

Kebiasaan tersebut memang dianggap praktis dan dapat menghemat biaya pengelolaan sampah. Namun, pembakaran sampah rumah tangga juga menghasilkan asap dan bau yang berpotensi mengganggu kualitas udara serta kenyamanan lingkungan.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Undip memperkenalkan pengelolaan sampah organik melalui budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau yang lebih dikenal sebagai maggot. Selain berperan sebagai pengurai sampah organik, maggot juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan oleh masyarakat.

“Masyarakat desa umumnya menganggap pembakaran sampah sebagai upaya menghemat waktu dalam mengelola sampah. Dengan adanya maggot, kami berharap dapat menjadi nilai tambah, khususnya bagi perekonomian Desa Kalinanas,” ujar Ibu Sutini pada 25 Juli 2026.

Dari Sampah Menjadi Sumber Nilai

Maggot dipilih karena meskipun masyarakat Desa Kalinanas sudah pernah mendengar tentang maggot melalui media, budidayanya belum pernah dilakukan secara langsung di lingkungan desa. Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada cara budidayanya, tetapi juga pada potensi produk yang dapat dihasilkan.

Penyuluhan diawali dengan edukasi mengenai kesadaran lingkungan, dampak pembakaran sampah, serta alternatif pengelolaan sampah organik. Mahasiswa kemudian menjelaskan konsep keselamatan dan kesehatan kerja (K3), karakteristik maggot, cara pemberian pakan, hingga potensi pemanfaatannya bagi masyarakat.

Dalam sesi diskusi, masyarakat turut menyampaikan sejumlah pertanyaan, terutama mengenai sumber maggot dan jenis sampah yang dapat digunakan sebagai pakan.

“Jika disamakan dengan belatung, maggot ini lebih mirip seperti ulat yang pakannya berupa apa yang ada di sekitarnya. Karena itu, pemberian pakan berupa sampah rumah tangga perlu disaring kembali,” ujar salah satu anggota PKK.

Hal serupa disampaikan oleh Karang Taruna yang menyoroti perlunya pemilahan sampah sebelum digunakan sebagai pakan.

“Pemberian pakan pada maggot tidak boleh terlalu pedas maupun asin, sehingga perlu disaring kembali,” ujar salah satu anggota Karang Taruna.

Diskusi tersebut menunjukkan bahwa penerapan budidaya maggot di masyarakat masih memiliki tantangan, terutama dalam hal pemilahan dan pengelolaan sampah organik sebagai sumber pakan. Meski demikian, tantangan tersebut sekaligus menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih terstruktur.

Bukan Sekadar Mengurangi Sampah

Budidaya maggot tidak berhenti pada persoalan pengurangan sampah. Maggot yang telah mencapai fase tertentu dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara sisa hasil budidayanya berupa kasgot (bekas media/kotoran maggot) dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Dengan demikian, satu siklus pengelolaan dapat menghasilkan dua produk yang berpotensi memiliki nilai ekonomi: maggot sebagai alternatif pakan ternak dan kasgot sebagai pupuk organik.

Konsep tersebut menjadi bagian penting dalam edukasi yang diberikan mahasiswa KKN. Sampah organik yang sebelumnya hanya dibakar dan dianggap tidak memiliki nilai dapat diarahkan menjadi bahan yang bermanfaat sekaligus berpotensi mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.

Program ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sosialisasi selama masa KKN. Dengan adanya pengetahuan dasar mengenai budidaya maggot, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan pengelolaan sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan.

Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat

Kegiatan ini dilaksanakan melalui koordinasi mahasiswa KKN Undip dengan Karang Taruna Dukuh Tempuran. Sebanyak sembilan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu turut terlibat dalam pelaksanaan program, yaitu Adelia Sukma Hercahyani (Ilmu Komunikasi), Alwi Armadani (Sejarah), Fachryzaidan Akmal (Informatika), Rahmawati (Agribisnis), Stephanie Grace Shella Br Jabat (Keperawatan), Hidayatul Aulya (Manajemen dan Administrasi Logistik), Erpa Yuliani (Hukum), Nabilah Brina Assyifa (Teknik Komputer), dan Fadhilla Kumala Ardhianti (Akuntansi).

Keberagaman latar belakang tersebut menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan program, mulai dari edukasi lingkungan, pengelolaan kegiatan, hingga pengenalan potensi ekonomi dari hasil budidaya.

Melalui program “Sulap Sampah Jadi Berkah”, mahasiswa KKN Undip berupaya menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembakaran. Dengan pengetahuan, pengelolaan yang tepat, dan kolaborasi masyarakat, sampah organik dapat menjadi sumber daya yang memiliki manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Bagi Desa Kalinanas, langkah kecil melalui budidaya maggot ini diharapkan dapat menjadi awal menuju pengelolaan sampah yang lebih bijak, produktif, dan berkelanjutan.

  • KKN UNDIP DESA KALINANAS 2026
  • Tim KKN R Universitas Diponegoro
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!