Tingkatkan Literasi Keuangan Sejak Dini, Mahasiswa KKN Undip Ajak Siswa SDN Pringanom 1 Kenali Kebutuhan dan Keinginan Lewat “Pohon Literasi Keuangan”
SRAGEN – “Ini kebutuhan atau keinginan?” Pertanyaan sederhana tersebut menjadi awal keseruan siswa kelas 3 SD Negeri Pringanom 1 dalam belajar mengenal literasi keuangan. Bukan melalui pembelajaran yang penuh teori, sebanyak 24 siswa diajak belajar mengelola uang saku dan memahami perbedaan kebutuhan serta keinginan melalui permainan “Pohon Literasi Keuangan” yang digagas oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP), Putri Oktaviani, di Desa Pringanom, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen pada tanggal 5 Agustus 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan sebagai bagian dari program kerja Sosial Kemasyarakatan (Soshum) tersebut dirancang untuk mengenalkan kebiasaan menabung sejak dini. Melalui cara belajar yang sederhana dan menyenangkan, siswa diajak memahami bahwa mengelola uang bukan hanya tentang menabung, tetapi juga tentang belajar menentukan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sekadar diinginkan.
Putri menghadirkan media pembelajaran berupa “Pohon Literasi Keuangan”. Sebuah poster berbentuk pohon dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu “Kebutuhan” dan “Keinginan”. Para siswa kemudian mendapatkan stiker bergambar berbagai benda yang harus mereka tentukan kategorinya. Satu per satu siswa maju ke depan kelas dan menempelkan stiker pada bagian pohon yang dianggap sesuai. Di sinilah suasana kelas menjadi semakin hidup. Siswa saling berdiskusi, menyampaikan pendapat, bahkan sesekali memperdebatkan apakah suatu barang termasuk kebutuhan atau hanya keinginan.
“Anak-anak ternyata cukup antusias ketika diberikan contoh yang dekat dengan kehidupan mereka. Dari situ mereka bisa belajar bahwa sesuatu yang mereka inginkan belum tentu menjadi sesuatu yang mereka butuhkan,” ujar Putri.
Melalui aktivitas tersebut, siswa tidak sekadar menghafalkan definisi kebutuhan dan keinginan. Mereka juga belajar mengambil keputusan sederhana dan mempertimbangkan prioritas sebelum menggunakan uang. Konsep yang sebelumnya mungkin terasa abstrak menjadi lebih mudah dipahami karena siswa dapat melihat, memilih, dan menempatkan sendiri setiap gambar pada pohon. Keseruan kegiatan juga terlihat dari antusiasme siswa ketika menempelkan stiker. Bagi mereka, kegiatan tersebut terasa seperti permainan, tetapi tanpa disadari mereka sedang belajar mengenai salah satu keterampilan penting dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mengelola uang dengan bijak.
Setelah seluruh stiker ditempel, “Pohon Literasi Keuangan” kemudian dipajang di mading sekolah. Keberadaan poster tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi siswa untuk terus membedakan kebutuhan dan keinginan, sekaligus menjadi media edukasi yang dapat dilihat oleh siswa lainnya.
“Harapannya, kebiasaan sederhana seperti menabung dan menentukan prioritas bisa mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika mendapatkan uang saku, siswa bisa belajar menyisihkan sebagian untuk ditabung dan tidak langsung menghabiskannya untuk membeli sesuatu yang sebenarnya belum diperlukan,” tambah Putri.
Literasi keuangan yang diperkenalkan sejak usia sekolah diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat. Sebab, kemampuan mengelola uang tidak harus menunggu dewasa untuk dipelajari. Dari hal sederhana seperti menyisihkan uang saku, menabung, dan membedakan kebutuhan dengan keinginan, anak-anak dapat mulai belajar menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Melalui “Pohon Literasi Keuangan”, mahasiswa KKN Undip berharap kegiatan edukasi tersebut tidak berhenti ketika kegiatan di kelas selesai, tetapi dapat meninggalkan kebiasaan baik yang terus diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
- Putri Oktaviani
- Mahasiswa Program Studi Akuntansi Perpajakan, Universitas Diponegoro
- Setuju






