Dorong Pengelolaan Sampah, Mahasiswa KKN Undip Hadirkan Bank Sampah dan Alat Pengurai di Ampelgading

PEMALANG, 19 Agustus 2026—Persoalan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata. Sampah yang belum dipilah sejak dari sumbernya dapat tercampur dan menyulitkan proses pemanfaatan kembali. Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro (Undip) untuk berinisiatif mengenalkan alternatif pengelolaan sampah kepada masyarakat Desa Ampelgading, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghadirkan bank sampah rumah tangga dan alat pengurai sampah. Keduanya dirancang sebagai sarana yang dapat mendukung masyarakat dalam memilah, mengumpulkan, serta mengurangi sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.

Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana. Mahasiswa juga memperkenalkan pentingnya pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Sampah seperti plastik, kardus, dan kaleng yang masih memiliki nilai jual dapat dikumpulkan secara terpisah untuk dimanfaatkan kembali. Edukasi mengenai pemanfaatan sampah tersebut juga disampaikan kepada masyarakat melalui kegiatan sosialisasi.

Inisiatif tersebut turut melibatkan Gabriella Cahya Kasih, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Program Studi Akuntansi, yang berperan dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk kebutuhan bank sampah rumah tangga dan alat pengurai sampah.

Sebelum sarana tersebut dibuat, Gabriella melakukan pendataan terhadap berbagai bahan dan peralatan yang diperlukan. Proses tersebut dilanjutkan dengan survei harga dan penyusunan rincian biaya yang mencakup jumlah kebutuhan, harga satuan, serta total anggaran. Perhitungan kemudian disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anggaran agar dapat menjadi acuan dalam penyediaan sarana.

“Saya ingin perencanaan kebutuhan sarana ini dapat dibuat secara lebih terarah. Dengan adanya RAB, kebutuhan bahan dan perkiraan biaya dapat diketahui sejak awal sehingga proses penyediaannya menjadi lebih jelas,” ujar Gabriella.

Tidak hanya sampah yang memiliki nilai jual, perhatian juga diberikan pada sampah yang berasal dari aktivitas rumah tangga sehari-hari. Alat pengurai sampah dirancang sebagai salah satu alternatif untuk membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang. Proses pembuatannya meliputi tahap perencanaan, pembuatan, pengujian fungsi, hingga pemberian penjelasan mengenai cara penggunaan kepada masyarakat.

Pengelolaan sampah organik juga menjadi bagian dari edukasi yang diberikan. Masyarakat diperkenalkan pada pemilahan limbah organik serta pemanfaatannya sebagai bahan untuk membuat Pupuk Organik Cair (POC). Langkah tersebut menjadi salah satu cara untuk mengurangi sampah organik sekaligus menghasilkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan kembali.

Dalam proses penyediaan sarana, aspek keselamatan juga diperhatikan. Penggunaan alat pelindung diri (APD), seperti masker, sarung tangan, pakaian lengan panjang, celana panjang, dan sepatu tertutup diterapkan selama proses pembangunan alat pengurai sampah. Banner mengenai penggunaan APD juga dipasang sebagai pengingat bagi masyarakat.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana. Pemilahan dari rumah menjadi tahap awal sebelum sampah dikumpulkan, dimanfaatkan, atau dikurangi melalui sarana yang tersedia.

Pada akhirnya, keberadaan bank sampah rumah tangga dan alat pengurai sampah diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan. Dari rumah, masyarakat dapat mulai memilah sampah yang dihasilkan, mengenali material yang masih bernilai, serta mengurangi jumlah sampah yang berakhir di lingkungan.

Melalui inisiatif mahasiswa tersebut, pengelolaan sampah di Desa Ampelgading diharapkan dapat berkembang dari sekadar kegiatan membuang menjadi kebiasaan memilah, memanfaatkan, dan mengurangi sampah secara lebih terarah.

  • Gabriella Cahya Kasih
  • Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Diponegoro
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!