Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Ajak Ibu-Ibu Kader Posyandu Deteksi Boraks dengan Indikator Alami Guna Tingkatkan Keamanan Pangan Desa Tenggak

Pemaparan Mengenai Deteksi Boraks dengan Indikator Alami di Gedung PKK Desa Tenggak

Sragen, 7 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro, Riska Safna Fitriyana, dari Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Matematika, sukses menyelenggarakan program kerja sosialisasi bertajuk “Pangan Aman, Keluarga Sehat: Deteksi Dini Kandungan Boraks Menggunakan Indikator Alami” yang bertempat di Gedung PKK Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan ini menyasar ibu-ibu kader Posyandu setempat.

Kegiatan ini sebagai respons terhadap minimnya pengetahuan masyarakat dalam mengenali makanan yang mengandung boraks secara penglihatan pada makanan tidak bisa langsung diketahui, sementara zat berbahaya tersebut masih sering ditemukan pada jajanan maupun bahan makanan yang beredar di masyarakat. Dengan target program ini yaitu ibu-ibu kader Posyandu, program ini bertujuan memberikan edukasi serta keterampilan praktis dalam mendeteksi kandungan boraks pada makanan menggunakan indikator alami dari kunyit, sehingga para kader dapat menjadi penyebar informasi bagi keluarga dan warga di lingkungan sekitar.

Sosialisasi ini dirancang agar memberikan dampak jangka panjang bagi keamanan pangan warga Desa Tenggak. Pelaksanaan kegiatan yang berlangsung sekitar satu jam ini diawali dengan pemaparan materi mengenai bahaya boraks bagi kesehatan, dampaknya jika dikonsumsi jangka panjang, serta ciri-ciri fisik makanan yang patut dicurigai mengandung boraks, seperti tekstur terlalu kenyal atau warna yang tidak wajar.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi demonstrasi langsung uji boraks menggunakan indikator alami dari kunyit, sebelum ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi. Ibu-ibu kader tampak antusias mengikuti jalannya acara, terutama saat sesi praktik langsung, di mana mereka bergantian menguji sampel makanan yang telah disiapkan.

Mahasiswa menjelaskan, ada tiga cara sederhana yang dapat dipraktikkan ibu-ibu di rumah untuk menguji kandungan boraks pada sampel makanan menggunakan ekstrak kunyit, yaitu mencelupkan tusuk gigi ke ekstrak kunyit lalu menusukkannya ke sampel makanan; menghaluskan sampel makanan lalu mencampurnya dengan ekstrak kunyit; atau menempelkan tisu yang telah ditetesi ekstrak kunyit pada sampel yang sudah dihaluskan. Jika sampel mengandung boraks, warna kuning khas kunyit akan berubah menjadi kemerahan atau kecokelatan akibat reaksi senyawa kurkumin dengan boraks yang bersifat basa, sehingga metode ini aman dijadikan indikator deteksi sederhana tanpa bahan kimia khusus.

Salah satu kader Posyandu Desa Tenggak, Ibu Binglotion, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kontribusi nyata dari mahasiswa KKN. “Setelah sosialisasi tadi mengenai uji boraks pada makanan pakai kunyit dan langsung mempraktikkannya, kami jadi tau bahaya dari frozen food ataupun makanan olahan yang dijual curah ternyata bisa diuji dengan kunyit dan itu sangat bermanfaat sekali bagi ibu-ibu untuk berhati-hati dalam membeli bahan makanan tersebut untuk keluarga,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat, khususnya ibu-ibu kader Posyandu, dalam mengenali dan mewaspadai makanan yang mengandung boraks demi menjaga keamanan pangan dan kesehatan keluarga. Pengetahuan yang telah diperoleh dalam sosialisasi ini diharapkan terus disebarluaskan oleh ibu-ibu kader kepada keluarga dan warga sekitar, sehingga kewaspadaan terhadap pangan berboraks dapat menjangkau lebih banyak rumah tangga di Desa Tenggak. Dokumentasi kegiatan turut disusun sebagai bahan laporan dan publikasi program kerja KKN.

  • Riska Safna Fitriyana
  • Mahasiswa Program Studi Kimia, Universitas Diponegoro
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!