Dari Cerpen untuk Desa: Mahasiswa KKN-T IDBU 14 Universitas Diponegoro Kenalkan Cultural Landscape Desa Wisata dan Potensi UMKM Unggulan Desa Branjang Melalui Media Literasi Cerita Pendek di SD Negeri Branjang
Penulis: Risma Damayanti, Ranggaseta Kautsar Rizqi, Sabrina Firdaus, Zefanya Pramadi, Salma Salsabila, Revilina Indah Sari, Tika Sulistiyarini, Novi Agil Rahayu, A.g Satria Soma Rajasa, Alissya Rihadatul Zain.
Dosen Pembimbing Lapangan : Muhammad Hamdan Mukafi, S.S., M.A.
Hari Kamis 30 Juli dan Senin 3 Agustus 2026, mahasiswa KKN T IDBU 14 Kelompok 2 dari Universtas Diponegoro melakukan kegiatan pengenalan Potensi Desa Branjang sebagai Desa Wisata melalui media literasi yang dibungkus dalam bentuk cerita pendek. Desa Wisata Branjang ini merupakan desa yang terletak di perbatasan Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Secara geografis, desa ini berada di lereng Gunung Ungaran pada ketinggian sekitar 500–600 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 24–29°C. Kondisi tanah yang subur, didukung kandungan humus dan ketersediaan air yang cukup, menjadikan Desa Branjang memiliki potensi besar di bidang pertanian dan budidaya tanaman. Desa Branjang memiliki potensi wisata alam yang potensial untuk dikembangkan, selain potensi wisata alam desa ini juga masih menjaga kelestarian budaya yang diwariskan sejak generasi terdahulu. Beberapa potensi budaya lokal yang masih dijaga hingga saat ini adalah tradisi Iriban sebagai bentuk penghormatan terhadap Tuhan dan alam karena telah memberikan nikmat dalam bentuk sumber mata air, serta dan tradisi Tingkeb Tandur yang dilaksanakan petani ketika masa tanam padi tiba.

Berangkat dari kondisi geografis dan topografi Desa Branjang yang berada di kaki pegunungan, melatarbelakangi Desa Branjang memiliki potensi wisata alam berupa Susur Sungai, Terasering, Iriban, serta pemandangan alam yang memanjakan mata. Beragam potensi alam dan budaya tersebut turut mendorong berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi produk unggulan desa. Beberapa di antaranya adalah keripik talas, gula aren, madu klanceng, dan sapu ijuk yang menjadi hasil olahan sekaligus mencerminkan kekayaan sumber daya lokal Desa Branjang. Sebagian besar dari produk tersebut masih diolah menggunakan metode sederhana yang melibatkan alam serta ketelatenan dalam proses produksinya, sehingga hal tersebut harus terus dilestarikan. Potensi yang amat menjanjikan ini perlu dikenalkan dan dilestarikan kepada generasi penerus sejak dini, melalui pembelajaran Cultural Landscape atau lanskap budaya yang dibungkus dengan media literasi cerita pendek. Cultural Landscape adalah sebuah bentang alam yang terbentuk dari hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan alam secara terus-menerus, sehingga menghasilkan karakter, identitas, serta nilai budaya yang khas pada suatu wilayah. Konsep ini tidak hanya melihat alam sebagai objek fisik, tetapi juga bagaimana masyarakat memanfaatkan, mengelola, memberi makna, dan mewariskan alam tersebut melalui tradisi, aktivitas ekonomi, kepercayaan, hingga pola permukiman.
Konsep Cultural Landscape ini pertama kali berkembang dalam kajian geografi budaya, terutama melalui pemikiran Carl O. Sauer pada tahun 1925, Sauer menjelaskan bahwa budaya merupakan indikator yang membentuk sebuah “lanskap” atau “ekologi”, sedangkan alam menjadi media tempat budaya berkembang, dengan kata lain suatu wilayah tidak hanya dibentuk oleh proses alam, tetapi juga oleh aktivitas manusia yang berlangsung di dalamnya dari generasi ke generasi. Hal tersebut tercermin dalam tradisi di Desa Branjang yang mana desa ini memiliki kondisi topografi yang terdiri dari berbagai bentang alam seperti sungai, sawah, sehingga berangkat dari keunikan tersebut melahirkan tradisi masyarakat guna memberikan penghormatan terhadap nikmat Tuhan terhadap mata air dan harapan menjelang masa tanam padi yang sampai saat ini masih dilestarikan yaitu Iriban dan Tingkeb Tandur.
Guna melestarikan potensi unggulan yang dimiliki Desa Branjang, diperlukan upaya mengenalkan kekayaan alam, budaya, dan UMKM kepada generasi penerus sejak usia dini. Langkah ini penting untuk menumbuhkan rasa cinta, kepedulian, serta tanggung jawab dalam menjaga warisan budaya agar tetap lestari. Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa KKN-T IDBU 14 Universitas Diponegoro berinisiatif menghadirkan kegiatan edukatif sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memperkenalkan potensi Desa Branjang kepada para siswa kelas V SDN Branjang, sehingga diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran untuk melestarikan dan mengembangkan potensi desa di masa mendatang.
Kepala SDN Branjang, Bapak Trimana memberikan keterangan bahwa beliau turut memberikan apresiasi atas pelaksanaan program yang diinisiasi oleh mahasiswa KKN-T IDBU 14 Universitas Diponegoro. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya mampu meningkatkan minat siswa kelas V dalam menulis melalui cerita pendek juga dapat dijadikan media pembelajaran yang efektif untuk mengenalkan potensi desa serta menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya dan kearifan lokal sejak usia dini. Harapannya nilai-nilai tersebut dapat terus tertanam sehingga para siswa terdorong untuk ikut menjaga, melestarikan, dan mengembangkan potensi Desa Branjang di masa depan.
Kegiatan edukatif ini dilaksanakan dengan mekanisme penyampaian materi secara intensif pada pertemuan pertama mengenai pengenalan apa itu cerpen, bagaimana cara membuat cerpen, serta apa saja yang harus diperhatikan dalam pembuatan cerpen kemudian pada pertemuan kedua mengenai pembahasan hasil karya siswa kelas V berupa cerita pendek mengenai Pengalaman Mengunjungi Desa Wisata Branjang serta Pengalaman Mencoba Produk Olahan Lokal Khas Desa Branjang. Kegiatan ini memadukan unsur Cultural Landscape dengan kegiatan edukatif melalui pembelajaran cerpen yang bertujuan menyampaikan dan mengenalkan sejak dini identitas Desa Wisata di Desa Branjang. Melalui media cerita pendek, siswa SDN Branjang khususnya kelas 5 diajak mengenal lanskap budaya (cultural landscape) Desa Branjang, yaitu keterkaitan antara alam, budaya, dan kehidupan masyarakat yang membentuk sebuah profil atau identitas desa agar memiliki ciri khas yang dapat menarik wisatawan. Potensi wisata alam seperti tradisi Iriban dan Tingkeb Tandur, serta UMKM unggulan seperti keripik talas, gula aren, madu klanceng, dan sapu ijuk menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat memanfaatkan sumber daya alam sekaligus menjaga warisan budaya secara berkelanjutan.
Pada pertemuan pertama dilaksanakan selama 70 menit dengan metode pembelajaran di kelas secara aktif, kemudian pada pertemuan kedua dilaksanakan dalam jangka waktu 60 menit dengan mengimplementasikan Student Centered Learning yaitu siswa diarahkan untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pertemuan kedua ini berfokus pada sesi pembahasan cerpen yang telah dibuat oleh para siswa kelas V SDN Branjang, mekanisme pembahasan cerita pendek ini dimulai dengan cara memberikan pengarahan dan pemberian kesempatan bagi para siswa menawarkan diri untuk membacakan karya mereka. Terdapat 3 siswa pertama yang diberikan kesempatan untuk membacakan karya yang telah dibuat, kemudian setelah sesi pemaparan karya oleh siswa akan dilakukan sesi pemberian umpan balik untuk mengulas karya yang telah dibuat oleh para siswa tersebut.
Untuk memberikan apresiasi atas keberanian mereka dalam menyampaikan karya mereka, terdapat pemberian reward dari mahasiswa KKN – T IDBU 14 Universitas Diponegoro. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri, memberikan pengetahuan mengenai bagaimana cara menyusun sebuah cerita pendek, serta menanamkan rasa cinta terhadap potensi budaya dan alam yang ada di Desa Branjang. Pertemuan kedua menjadi penutup dari rangkaian kegiatan bersama siswa kelas V SDN Branjang.
Sebagai bentuk apresiasi, mahasiswa KKN-T IDBU 14 Universitas Diponegoro mengajak para siswa menuliskan harapan dan cita-cita mereka pada secarik kertas yang kemudian digantungkan di sebuah Pohon Harapan. Pohon tersebut menjadi simbol tumbuhnya mimpi-mimpi yang mulai berakar dari goresan tangan sederhana. Di balik tulisan yang masih polos dan belum mengerti makna dunia dalam arti luas, tersimpan harapan besar untuk menapaki dunia yang lebih luas. Semoga setiap harapan yang dituliskan di hari itu kelak bertumbuh setinggi impian mereka dan menjadi langkah awal bagi lahirnya generasi yang mencintai budaya, bangga terhadap desanya, serta berani meraih masa depan.
- Risma Damayanti, Ranggaseta Kautsar Rizqi, Sabrina Firdaus, Zefanya Pramadi, Salma Salsabila, Revilina Indah Sari, Tika Sulistiyarini, Novi Agil Rahayu, A.g. Satria Soma Rajasa, Alissya Rihadatul Zain.
- Mahasiswa KKN-T IDBU 14 Universitas Diponegoro
- riszmdamayanti175@gmail.com
- 089530420907
-
bukti-bayar-artikel - Setuju









