Jempolmu Harimaumu: belajar Akhlak bersosial media melalu ajara Rosulullah
Jempolmu, Harimau Mu: Belajar Akhlak Bersosial Media dari Rasulullah
Latar Belakang
Setiap kali kita membuka layar ponsel, lini masa media sosial hampir selalu dipenuhi oleh riak silang pendapat. Mulai dari saling sindir, menyebarkan gosip yang belum jelas kebenarannya, hingga komentar pedas yang mudah menghakimi orang lain. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana menyambung silaturahmi, kini tak jarang berubah menjadi arena perselisihan. Di tengah riuh rendah jempol yang makin cepat mengetik daripada hati yang berpikir, pernahkah kita bertanya: bagaimana sebenarnya Islam membimbing kita dalam bertutur kata di dunia digital?
Isi & Pembahasan Hadis
Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur tata cara ibadah ritual, tetapi juga sangat menekankan pentingnya menjaga lisan yang dalam konteks hari ini mencakup tulisan dan ketikan kita di media sosial. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis tentang akhlak yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim mengingatkan kita dengan sangat tegas:
Refleksi ini merujuk pada hadis shahih:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah / Sahih Al-Bukhari).
Hadis ini sangat singkat, namun memiliki bobot akhlak yang sangat mendalam. Rasulullah SAW mengaitkan secara langsung antara kualitas iman seseorang dengan kemampuannya mengontrol ucapan. Di era digital, “berkata baik” bertransformasi menjadi membuat unggahan yang bermanfaat, menebar optimisme, serta memberikan komentar yang menyejukkan. Sementara “diam” tercermin dari keputusan kita untuk menahan diri tidak mengunggah, tidak membagikan berita hoaks, serta tidak ikut-ikutan menghujat di kolom komentar.
Konteks & Relevansi
Jika dicermati lebih dalam, fenomena panasnya jempol netizen sering kali dipicu oleh rasa ingin terlihat paling tahu atau sekadar ikut-ikutan tren. Padahal, setiap ketikan yang kita bagikan di media sosial memiliki dampak nyata di dunia nyata: bisa membahagiakan orang lain, atau justru melukai hatinya.
Prinsip “berkata baik atau diam” yang diajarkan Rasulullah SAW adalah benteng utama bagi umat Islam agar tidak terjebak dalam krisis adab digital. Sebelum menekan tombol post atau share, ada baiknya kita melakukan jeda sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah unggahan ini bermanfaat? Apakah tulisan ini menyakiti orang lain? Jika jawabannya tidak membawa kebaikan, maka pilihan terbaik sesuai petunjuk hadis adalah menahan jari kita.
Penutup
Mari kita ubah wajah media sosial kita menjadi tempat yang lebih ramah dan bermartabat. Menjaga akhlak tidak hanya berlaku saat kita bertatap muka secara langsung, tetapi juga di balik layar kaca ponsel kita. Jadikanlah media sosial sebagai ladang menanam pahala dan menebar kebaikan, bukan tempat menumpuk dosa lewat ketikan yang tak berarah. Sebab pada akhirnya, jempol kita pun akan bersaksi atas apa yang telah kita ketik di dunia ini.
Penulis: Fery Fadly
Prodi: Ilmu Hadis
Institusi: STAI Nurul Qadim Paiton Probolinggo
- Fery Fadly
- Mahasiswa STAI Nurul Qadim prodi Ilmu Hadis
- maniaoscar828@gmail.com
- 082332989434
-
1000569285 - Setuju





