Transformasi Digital Dorong Pembelajaran Pendidikan Nonformal Semakin Fleksibel dan Inklusif
JATENG.NET, Serang — Transformasi digital kini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas layanan Pendidikan Nonformal (PNF). Pemanfaatan teknologi seperti internet, aplikasi digital, dan platform daring terbukti membantu penyelenggara Pendidikan Nonformal (PNF) memberikan pembelajaran yang lebih fleksibel, cepat, dan mudah dijangkau. Perubahan ini muncul sebagai respons atas pesatnya perkembangan teknologi informasi yang mendorong masyarakat untuk beradaptasi dengan sistem digital.
Transformasi digital tidak hanya mengubah cara belajar, tetapi juga sistem kerja lembaga Pendidikan Nonformal (PNF). Teknologi kini memungkinkan peserta belajar mengikuti pelatihan secara online, mengakses materi kapan saja, serta berinteraksi melalui video conference, media sosial, dan aplikasi pembelajaran.
Fenomena ini didukung fakta bahwa lebih dari 78% masyarakat Indonesia telah menggunakan internet (APJII, 2023), menjadikan digitalisasi kesempatan besar bagi lembaga pendidikan untuk memperluas jangkauan programnya, terutama ke wilayah yang sulit dijangkau pembelajaran tatap muka.
“Transformasi digital mendorong pembelajaran nonformal menjadi lebih fleksibel dan mudah diakses oleh masyarakat luas berkat pemanfaatan teknologi internet dan aplikasi digital.”
Sumber: APJII: Jumlah Pengguna Internet Indonesia Capai 215 Juta Jiwa
Penerapan transformasi digital dalam pendidikan nonformal juga memberikan manfaat besar bagi lembaga. Teknologi membantu pengelolaan data peserta, penyusunan materi interaktif, manajemen administrasi, hingga penyebaran informasi secara luas. UNESCO (2022) mencatat bahwa transformasi digital meningkatkan inklusivitas pendidikan karena mampu menjangkau berbagai kelompok masyarakat, termasuk pekerja, ibu rumah tangga, hingga masyarakat yang sebelumnya memiliki akses terbatas. Hal ini sejalan dengan tujuan PNF yang fleksibel, berorientasi kebutuhan, dan terbuka bagi semua kalangan.
“Tantangan seperti kurangnya keterampilan digital, resistensi perubahan, dan keamanan data menjadi fokus utama yang harus diatasi agar transformasi digital berjalan optimal.”
Namun, transformasi digital tetap menghadirkan tantangan. Materi presentasi menyoroti hambatan seperti resistensi perubahan, kurangnya keterampilan digital, integrasi sistem lama, serta risiko keamanan data. Tantangan ini juga diperkuat oleh laporan surevi kementrian komunikasi dan informatika (2020) yang menyebutkan bahwa 49% lembaga masih kesulitan mengadopsi teknologi karena kurangnya SDM digital.


Sumber: Kesiapan Adopsi AI di Perusahaan Indonesia Menurun, Kenapa? • Jagat Review
Untuk mengatasinya, lembaga perlu melakukan pelatihan digital, memperkuat budaya adaptif, dan menggunakan aplikasi yang ramah pengguna. Dengan kesiapan sistem, budaya kerja, dan SDM, transformasi digital dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak positif jangka panjang bagi dunia pendidikan nonformal.

Penulis: Intan Diani (2221250024), Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Kontak Penulis: intandiani12@gmail.com






